Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Konspirasi Pasca Bambang Hartono Meraih Medali Perunggu di Asian Games

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
2 September 2018
A A
bambang hartono
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Asian Games 2018 secara resmi ditutup. Pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut memunculkan banyak atlet-atlet berprestasi yang menyumbangkan banyak medali untuk negaranya masing-masing.

Dari indonesia, muncul nama Bambang Hartono, atlet bridge yang ikut menyumbang medali perunggu untuk negara tercintanya.

Bambang Hartono bukan atlet sembarangan. Dalam Asian Games kali ini, ia berstatus sebagai atlet tertua sekaligus terkaya. Maklum saja, sosok kelahiran Kudus, 2 Oktober 1939 (berarti sekarang usianya 77 tahun) ini selain seorang atlet, juga merupakan salah satu pemilik perusahaan rokok kretek terkenal Indonesia, Djarum.

Ia bersama adiknya menguasai 55% saham BCA, memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta memiliki sejumlah property diantaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Menurut catatan Forbes, ia menjadi orang terkaya kedua di Indonesia setelah adiknya Budi Hartono. Sedangkan untuk peringkat dunia, ia berada di posisi 75.

Total kekayaan Bambang Hartono tak main-main, yakni Rp168 triliun.

Nah setelah resmi mendapatkan medali perunggu, Bambang Hartono kemudian mendapatkan bonus dari pemerintah sejumlah Rp250 juta. uang tersebut kemudian ditransfer melalui rekening BRI.

Nah, keberhasilan Bambang mendapatkan medali perunggu beserta bonusnya ternyata mengundang banyak konspirasi-konspirasi menarik.

Apa sajakah? Ini dia.

Keberhasilan Bambang Hartono bakal dijadikan tameng Judi

Moncernya nama Bambang Hartono sebagai penyumbang perunggu di Asian Games secara tidak langsung bakal menaikkan pamor olahraga bridge.

Hal tersebut cukup riskan, sebab bisa dijadikan sebagai tameng utama bagi para penjudi untuk berlindung kalau ada gropyokan atau grebekan

Jadi kalau suatu saat, mereka digrebek saat berjudi kartu, mereka bisa punya alasan untuk berdalih, “Kami bukan berjudi, Pak, kami sedang bermain bridge, olahraga yang kemarin sempat nyumbang medali di Asian Games.”

Kemenangan Bambang bakal menjadi berkah tersendiri bagi BRI

Bonus 250 juta yang didapatkan oleh Bambang yang ditransfer melalui rekening BRI adalah berkah tersendiri bagi BRI. Maklum, kemenangan tersebut bisa menjadi promosi terselubung bagi BRI. Foto Bambang saat memegang buku tabungan BRI Britama bisa digunakan sebagai media promosi yang ciamik.

Jangan heran jika pekan depan, di depan kantor cabang BRI Ngaglik, terpasang spanduk bergambar Bambang Hartono dengan pesan yang provokatif, “Pemegang Saham mayoritas BCA aja pakai BRI, masak kamu enggak? Ayo buka rekening BRI sekarang juga!”

Iklan

Serangan Kampret pada Jokowi

Foto Bambang memegang medali dan buku tabungan BRI punya kemungkinan bakal digunakan sebagai senjata oleh kaum kampret untuk menyerang Jokowi.

Embel-embel captioannya tentu saja tendensius: “Hanya di Era Jokowi, BRI jatuh ke tangan swasta!”

Bambang Hartono enggan dapat emas

Dengan tim riset yang sangat mumpuni, pengalaman panjang bermain bridge sejak kecil, didukung dengan berbagai fasilitas yang mewadahi, seorang Bambang Hartono sebetulnya bisa dengan mudah mendapatkan medali emas. Namun, ia sengaja mengalah dan hanya mendapatkan perunggu. Alasannya satu: Ia tak mau diangkat jadi PNS setelah mendapatkan medali emas.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2018 oleh

Tags: asian gamesBambang Hartonobridge
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Pojokan

5 Kiat Sukses Tembus Kurasi Esai MOJOK

28 Maret 2020
Esai

Tahun Baru 2019 dan Kaleidoskop Hedon 2018 di Media Sosial Indonesia

31 Desember 2018
asian para games
Kilas

Indonesia Jauh Lampaui Target dan Berjaya di Asian Para Games 2018

14 Oktober 2018
List

Serba-Serbi Asian Para Games 2018, dari Momo Hingga Tiket Gratis

11 Oktober 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.