Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jokowi Minta Diingatkan Jika Ada Masalah Hukum, Berlaku untuk Rakyat Juga Kah?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
15 November 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jokowi minta agar kalau ada masalah hukum, ada pihak yang menegur dulu. Jangan langsung ditindak. Hm, berlaku untuk rakyat juga atau cuma untuk pejabat nih?

Ada yang menarik dalam pidato yang disampaikan Jokowi di Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat Rabu (13/11). “Saya titip kalau ada persoalan hukum dan itu sudah kelihatan di awal-awal, preventif dulu, diingatkan dulu. Jangan ditunggu, kemudian peristiwa terjadi baru di…,” kata Jokowi.

Iklan

Seperti mendadak bikin sesi kuis, Jokowi tidak melanjutkan kalimatnya. Meski begitu, tak ada audiens yang menjawab. Mungkin nggak berani juga.

Lalu tiba-tiba…

“Setuju semuanya?” tanya Jokowi.

“Setuju,” jawab audiens.

“Jelas-jelas keliru, sejak awal diingatkan dong ini keliru, benarkan dong. Jangan mengerti keliru, terus dikerjakan, setelah rampung baru ditebas. Nggak bisa seperti ini, harus kita akhiri seperti ini,” tambah Jokowi.

Pernyataan ini tentu jadi bola liar. Sebab, kalau perkara hukumnya sepele seperti buang sampah sembarangan mungkin tak masalah kalau diingatkan dulu, kalau kasus hukumnya sudah sampai tahap suap atau korupsi, masa iya ada pejabat yang tidak tahu kalau itu melanggar hukum?

Menanggapi itu, KPK langsung merespons pernyataan Jokowi. Juri bicara KPK, Febri Diansyah, menganggap bahwa seharusnya pejabat menggarisbawahi pernyataan Jokowi ini.

“Jangan sampai sudah diingatkan tapi kemudian setengah hati, di belakang dia masih terima suap. Kalau sudah terima suap maka tetap akan diproses tentu saja,” kata Febri.

Masih menurut Febri, sebenarnya KPK sudah sering mengingatkan pejabat kalau ada peluang pelanggaran hukum. Apalagi hal semacam itu juga merupakan tugas KPK juga, yakni melakukan pencegahan korupsi.

Masalahnya, sering sekali instansi yang diingatkan tidak menanggapi serius teguran tersebut. Bahkan begitu sudah terjadi maka mau tak mau KPK harus merespons dengan penangkapan atau penggeledahan. Bahkan mungkin melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

“Presiden pernah mengatakan pencegahan itu bicara sebelum kejahatan terjadi, jadi ketika kejahatan terjadi penindakan yang tegas, tetap harus dilaksanakan,” kata Febri.

Sebenarnya kalau Jokowi mau jeli, ada banyak peristiwa pelanggaran hukum dari pejabat yang malah berbalik “memangsa” pelapor atau—bahkan—pihak penyidik.

Seperti yang pernah dialami Sudirman Said pada 2015 misalnya, ketika mendapat rekaman pemufakatan jahat saham PT Freeport atas nama Setya Novanto. Kala itu Sudirman tidak langsung melaporkan itu ke KPK, melainkan ke MKD. Bisa dibilang ini bentuk dari “mengingatkan”.

Dan hasilnya? Justru Sudirman Said yang akhirnya kena reshuffle setelah sebelumnya sempat dikuliti habis-habisan saat sidang MKD. Hebat bener. Pelapor malah jadi yang dicecar, sedangkan terlapor? Tenang-tenang bae.

Lagian, Setya Novanto malah terjerat pada kasus yang berbeda, yakni korupsi E-KTP. Artinya, sekalipun sudah “diingatkan” dengan dibuka ke publik rekaman suara pada dugaan pemufakatan jahat, mantan Ketua DPR RI ini tak kapok-kapok juga. Masih korupsi juga.

Belum dengan kasus penyiraman air keras, penyidik KPK, Novel Baswedan. Sudah kena aksi teror, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasusnya malah balik menyalahkan Novel, dilaporkan karena dianggap melakukan rekayasa lagi. Ibarat jatuh tertimpa tangga, tangganya ada pakunya, pakunya karatan, mati kena tetanus lagi.

Iklan

Kalau memang bentuk penegakan hukum bakal lebih preventif, ada baiknya Jokowi juga mencoba menerapkannya ke masyarakat luas. Jangan cuma untuk pejabat saja yang dapat keuntungan dengan “diingatkan” dulu kalau melanggar hukum.

Contohnya misal penindakan oleh polisi lalu lintas. Coba itu juga diterapkan di jalanan. Misalnya ada pengendara masuk ke jalur satu arah dari jalur yang berlawanan. Kebetulan si pengendara nggak tahu misalnya.

Ya sebaiknya polisi lalu lintas jangan langsung menilang, tapi diingatkan dulu.

“Pak, silakan putar balik. Ini salah jalur.” Begitu misalnya.

Atau kalau ada pengendara kelupaan bawa SIM, lalu ketika ada razia juga baiknya diingatkan dulu.

“Besok lagi, bawa SIM-nya ya, Pak.” Gitu.

Coba hal kayak gitu dilakukan sampai akar rumput. Sudah pasti ambyar total, Pak. Soalnya dalam penegakan hukum itu berlaku juga untuk kasih efek jera. Kalau apa-apa perilaku pelanggaran hukum harus diingatkan dulu, ya pelanggar hukum nggak bakal ada kapok-kapoknya dong.

Mikirnya kan jadi sederhana saja kalau mau melanggar hukum dan penegakan hukum cuma ada di aspek preventif semata. Misalnya, “Ah, cobain nggak pakai helm deh. Ditegur Pak Polisi nggak ya?”

Atau jangan-jangan ini cuma berlaku untuk pejabat negara saja? Ah, tapi mana mungkin. Pak Jokowi itu kan merakyat banget. Mana mungkin memberlakukan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Kayak kasus anak Bupati Majalengka aja. Eeeh.

BACA JUGA JOKOWI, PEMERINTAH, DAN DPR SEMAKIN SULIT DINALAR atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 15 November 2019 oleh

Tags: hukumjokowiKPKPolisi
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.