Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jalan Kartini, Jalan Paling “Pintar” di Muntilan Magelang

Intan Ekapratiwi oleh Intan Ekapratiwi
28 Oktober 2025
A A
Jalan Kartini, Jalan Paling “Pintar” di Muntilan Magelang

Jalan Kartini, Jalan Paling “Pintar” di Muntilan Magelang (Albert Kok via Wikimedia Commons)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nama Jalan Kartini mungkin sudah tak asing di telinga warga Muntilan Magelang. Jalan satu ini bisa dibilang sebagai salah satu jantung kecamatan kecil ini. Bagi umat Katolik di Jawa Tengah dan sekitarnya, jalan ini bahkan cukup penting. Sebab sini ada Kerkof atau kompleks pemakaman para tokoh terkenal yang berjasa bagi perkembangan gereja Katolik di Indonesia.

Beberapa tokoh Katolik seperti Mgr. Justinus Kardinal Darmojuwono (Kardinal pertama Indonesia), Romo van Lith, SJ, hingga Romo Sandjaja (martir pertama Indonesia) dimakamkan di sini. Hingga saat ini banyak umat yang datang berziarah ke sini.

Iklan

Selain terkenal dengan Kerkofnya, Jalan Kartini juga terkenal sebagai pusat pendidikan di Muntilan Magelang. Di jalan ini berderet sekolah dari tingkat TK hingga SMA. Tak hanya sekolah Katolik, sekolah Islam pun turut menjadi bagian dari jalan ini. Maka tak heran jika jalan ini menjadi jalan paling “pintar” se-Kecamatan Muntilan.

Jalan Kartini Muntilan Magelang, pusat pendidikan Katolik

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Jalan Kartini dipenuhi sekolah Katolik dari jenjang TK hingga SMA. Setidaknya ada lebih dari 5 sekolah di sini. Beberapa di antaranya TK Marsudirini Santa Theresia, TK Pangudi Luhur St. Ignatius, SD Marsudirini St. Yoseph, SD Pangudi Luhur St. Ignatius, SMP Marganingsih, SMP Kanisius, dan SMA Pangudi Luhur van Lith. Semua sekolah itu berada di sepanjang Jalan Kartini.

Banyak warga Muntilan dan kecamatan sekitar yang menyekolahkan anak mereka di sini. Apalagi sekolah Katolik terkenal dengan kedisiplinannya. Tak sedikit orang tua non-Katolik yang akhirnya memilih menyekolahkan anak di sekolah Katolik, termasuk saya.

Tambah lagi di Jalan Kartini juga ada SMA Pangudi Luhur van Lith yang juga menjadi salah satu sekolah swasta terbaik di Jawa Tengah. Setahu saya, seleksi masuk sekolah ini cukup ketat seiring dengan banyaknya peminat. Hampir setiap tahun, sekolah ini menerima siswa dari berbagai daerah, tak hanya dari Muntilan. Saya beberapa kali berpapasan tak sengaja dengan siswa dari Surabaya, Jakarta, hingga Lampung yang ikut tes di sekolah ini.

Meski terkenal sebagai pusatnya pendidikan Katolik, ada juga sekolah Islam yang berdiri di Jalan Kartini. TK ABA Kauman namanya. Lokasinya juga masih sederet dengan TK dan SD Katolik.

Jadi jangan heran apabila situasi pagi di Jalan Kartini Muntilan Magelang cukup ramai. Sebelum jam 7, jalan ini bakal dipenuhi kendaraan orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Makanya pengendara yang melintasi jalan paling “pintar” di Muntilan sebaiknya berhati-hati. Jangan kebut-kebutan karena banyak anak sekolah lalu-lalang di sekitar sini.

Tak hanya “pintar”, Jalan Kartini juga jalan paling “sehat”

Hal menarik lainnya dari Jalan Kartini di Muntilan Magelang adalah jalan ini juga menjadi jalan yang paling “sehat”. Soalnya di sini ada Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan. 

Uniknya, rumah sakit ini juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Romo van Lith, salah satu tokoh penyebar agama Katolik di tanah Jawa yang juga dimakamkan di Kerkof Muntilan di Jalan Kartini. Awalnya, Romo van Lith membuat balai pengobatan di Muntilan bersama dengan para suster pada tahun 1925.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Kemudian tahun 1946, balai pengobatan tersebut mulai dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang. Dokter satu-satunya yang bertugas di sana bernama dr. Gondo Sumekto. Seiring dengan berkembangnya balai pengobatan, akhirnya tahun 1977 Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang membelinya dan menjadikannya rumah sakit.

RSUD Muntilan pun menjadi rumah sakit paling besar di kecamatan ini hingga sekarang. Anak saya juga pernah dirawat di rumah sakit ini karena demam berdarah beberapa waktu lalu dan pelayanannya cukup memuaskan untuk ukuran rumah sakit daerah. Fasilitasnya juga cukup lengkap, dokter spesialisnya juga banyak. Tak sedikit pasien dari kecamatan terdekat yang juga dirujuk ke rumah sakit ini. 

Jalan Kartini mungkin tidak selebar jalan protokol di kota besar. Jalan ini bahkan hanya punya dua lajur. Meski begitu bagi warga Muntilan Magelang, jalan ini menjadi jalan yang cukup penting. Jalan ini menjadi pusat pendidikan sekaligus kesehatan warga. 

Penulis: Intan Ekapratiwi
Editor: Kenia Intan

Iklan

BACA JUGA Muntilan Magelang Menjebak Pendatang, Menyesal Pindah ke Sini dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2025 oleh

Tags: Jalan KartiniJalan Kartini Muntilankabupaten magelangMuntilanmuntilan magelang
Intan Ekapratiwi

Intan Ekapratiwi

Artikel Terkait

5 Hal yang Lumrah di Bekasi tapi Nggak Bisa Ditemukan di Muntilan Magelang
Pojokan

5 Hal yang Lumrah di Bekasi tapi Nggak Bisa Ditemukan di Muntilan Magelang

20 Oktober 2025
4 Hal Tidak Menyenangkan di Magelang buat Kapok Wisatawan
Pojokan

4 Hal Tidak Menyenangkan di Magelang buat Kapok Wisatawan

17 Oktober 2025
Muntilan Magelang Menjebak Pendatang, Menyesal Pindah ke Sini
Pojokan

Muntilan Magelang Menjebak Pendatang, Menyesal Pindah ke Sini

14 Oktober 2025
Tinggal di Bantul Jogja Bau dan Bikin Pusing, Saya Baru Menemukan Kenyamanan Begitu Pindah ke Muntilan Magelang
Pojokan

Tinggal di Bantul Jogja Bau dan Bikin Pusing, Saya Baru Menemukan Kenyamanan Begitu Pindah ke Muntilan Magelang

2 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.