Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
28 Februari 2026
A A
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dari C-70 hingga Supra X 125, keluarga saya setia dan puas kepada Honda. Tapi semua itu berubah ketika Honda Scoopy hadir….

Saat itu 2005, bapak saya berhasil membantu temannya untuk menjual sebidang tanah. Saat negosiasi bonus sebagai makelar, bapak saya meminta motor saja, yaitu Supra X 125. Permintaan itu mendapat persetujuan dan dua hari kemudian, X 125 klasik tromol warna biru dan putih, sampai di depan rumah.

Tahun 2005 adalah tahun di mana saya juga mulai kuliah. Saat itu, saya mengendarai Honda Supra lama. Kadang masih pakai Honda C-70 atau terkenal dengan nama Pitung. Bapak menyuruh saya untuk memakai Supra X 125. Tentu saja saya mau. Dan sejak saat itu, motor yang irit bensin tersebut menjadi teman saya sampai lulus kuliah.

Kalau saya ingat-ingat lagi, Supra X 125 juga menjadi motor yang paling lama saya pakai. Dari 2005, hingga lulus di 2010, lalu bekerja PP Jogja-Klaten, kerja tetap di Jogja, dan seterusnya. Saya juga ingat motor ini tidak pernah membawa masalah. Justru matik dari Honda yang lebih banyak mengecewakan, salah satunya Honda Scoopy.

Keluarga Honda adalah keluarga saya

Secara agak serampangan, saya akan mendaku keluarga saya sebagai “keluarga Honda”. Sejak zaman bapak saya muda, sampai sekarang sudah punya 3 cucu, kalau terlibat dalam obrolan beli motor, pasti merek Honda yang menjadi rujukan beliau.

Saya nggak tahu sejarah di balik hubungan mesra antara bapak dan Honda. Namun, apa-apa selalu Honda. Saya dan kakak, sih, nggak pernah mempermasalahkan preferensi ini. Hingga Honda Scoopy yang membuat kecewa itu. 

Jadi, kesetiaan kami kepada pabrikan dari Jepang ini dimulai dari Honda C-70 atau Pitung. Lalu, menyusul kemudian bapak membeli Honda CB dan ini menjadi motor favorit kami. Kami juga keeps up with the trend. Salah satunya dengan membeli seri Astrea lalu Astrea Grand. Dua motor ini paling enak untuk modifikasi.

Setelah itu, muncul seri Supra. Awalnya Honda Supra lawas, lalu menyusul Supra X 125. Untuk matik, pernah punya Vario 110, Vario 125, Honda Scoopy, dan terakhir Vario 160.

Kakak saya sendiri setia memakai seri Beat sejak awal kemunculannya. Hingga yang tahun 2025 kemarin, dia juga masih sempat membeli. 

Nah, bagi saya pribadi, Supra X 125 menempati tempat khusus di hati. Ia seperti wujud visi dan misi dari pabrikan asal Jepang tersebut. 

Visi utama Honda adalah menjadi perusahaan yang diinginkan masyarakat, memimpin dalam mobilitas bersih/aman, dan mewujudkan impian melalui inovasi global. Misinya berfokus menyediakan produk berkualitas tertinggi dengan harga wajar, menciptakan kegembiraan pelanggan, serta berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat.

Honda Scoopy yang “aneh sendiri”

Nggak tau, deh, desainer dan manajemen Honda mungkin lagi mimpi buruk ketika merancang Honda Scoopy. Sejak dulu, saya percaya betul bahwa Honda nggak akan main-main sama mesin. Makanya, ketika Supra X 125 terkenal dengan suara “gredek” pada batok lampu, saya maklum. Mengatasinya gampang, tinggal pakai kabel tis.

Desain, batok, stripping, warna, atau apa saja namanya itu, tidak pernah menjadi ukuran bagi cinta keluarga kami kepada Honda. Intinya, mesin yang oke itu segalanya. Memang, kalau soal mesin, Suzuki masih rajanya. Saking awet motor mereka, bengkel resmi Suzuki saja sampai tutup karena nggak ada yang mau servis.

Beda dengan Honda Scoopy. Bahkan beda banget. Motor ini datang dengan berbagai warna dan desain yang memukau sekaligus memanjakan mata. Begitu Honda Scoopy terbaru rilis, saya sempat tergoda untuk menjual Vario 160 dan membeli Scoopy. Namun, untung saja, saya masih berkepala dingin.

Iklan

Saya tidak terburu-buru membeli Honda Scoopy karena ternyata motor ini aneh sendiri. Supra X 125 boleh bermasalah di desain dan gredek batok lampu. Namun, dari sisi mesin, ia masih oke. Namun, Honda Scoopy bagus secara visual, tapi loyo dari sisi mesin. Malah kebalikan.

Supra X 125 dan Honda Scoopy sama-sama nyaman

Salah satu teman kuliah saya pernah meledek saya. Katanya, pakai motor 125 cc tapi nggak pernah ngebut. Buat apa cc besar kalau cuma jalan “gitu-gitu aja”.

Saya, sih, nggak peduli dengan omongan itu. Bagi saya, justru sangat rugi kalau punya Supra X 125 cuma buat ngebut saja. Motor ini memang punya cc besar di kelasnya. Namun, bagi saya, motor ini malah lebih enak kalau kita memakainya di kecepatan antara 30 sampai 60 kilometer per jam.

Nah, di aspek ini, Honda Scoopy juga menawarkan keunggulan yang sama. Motor ini enak banget untuk jalan santai. Makanya, istri saya pun masih setia memakai Scoopy untuk bekerja dan berkegiatan sehari-hari. Untuk jalan pelan atau santai, motor ini salah satu yang terbaik.

Nah, Supra X 125 sendiri pernah punya masalah loyo. Ada banyak users yang komplain. Namun, entah kenapa, saya tidak merasakan kelemahan tersebut. Jalan gigi 1 saja, motor ini sudah bisa lari. Yang saya tahu, versi injeksi yang membawa masalah itu.

Honda Scoopy sendiri belum kelar dengan masalah keloyoan ini. Kamu nggak akan bisa membawa motor ini naik ke pegunungan kalau mesinnya nggak benar-benar waras. Dan, kamu bawa motornya sendirian.

Begitulah, Supra X 125 dan Honda Scoopy ini seperti berkebalikan. Bagus di mesin tapi payah di desain dan suara gradak. Satunya bagus di visual saja, tapi jelek di mesin. Kenapa ya desainer dan teknisi Honda sampai kepikiran bikin yang berkebalikan kayak gini. Ah, ada-ada saja.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

Terakhir diperbarui pada 28 Februari 2026 oleh

Tags: harga honda scoopyhonda c 70honda scoopyHonda Suprasupra xsupra x 125Vario 125vario 160
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co
Pojokan

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Ilustrasi Supra X 125 Tua Bangka Tahan Siksaan, Honda Beat Memalukan (Wikimedia Commons)
Pojokan

Supra X 125: Motor Tua Bangka yang Paling Tahan Disiksa, Modelan Honda Beat Mending Pensiun karena Memalukan

2 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.