Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Honda Beat yang Ditertawakan Brader Kaesang Pangarep: Sekali Lagi Soal Doxing dan Analogi Miskin vs Kaya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
3 Juli 2021
A A
Honda Beat yang Ditertawakan Brader Kaesang Pangarep: Sekali Lagi Soal Doxing dan Analogi Miskin vs Kaya MOJOK.CO

Honda Beat yang Ditertawakan Brader Kaesang Pangarep: Sekali Lagi Soal Doxing dan Analogi Miskin vs Kaya MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Brader Kaesang Pangarep menertawakan pengendara Honda Beat. Sebuah aksi yang justru bikin saya sedih karena dilakukan oleh anak muda yang diharapkan memberi perubahan.

Malang benar nasib Honda Beat. Beberapa waktu yang lalu, motor legendaris ini menjadi pusat dari perang narasi antara pesepada berduit dengan kaum menengah. Kini, motor matik besutan Honda ini ditertawakan Kaesang Pangarep, anak Presiden Indonesia, salah satu pemilik Persis Solo.

Entah apa yang terjadi ketika tukang desain Honda merancanng Honda Beat. Mungkin sesajen yang disediakan nggak lengkap. Mungkin karma buruk dari si perancang terbawa ke nasib motor ini. Honda Beat jadi dekat sekali dengan kemiskinan dan kaum marginal.

Kalau untuk soal peristiwa jari tengah pengendara Honda Beat ke pesepada, saya bisa memahaminya. Tentu sebagai sebuah fenomena yang “sangat mungkin” terjadi di tengah masyarakat. Ketika gesekan antar-kelas menjadi jamak terjadi. Namun, kok ada yang salah ketika Kaesang Pangarep menertawakan sebuah motor yang tidak bersalah ini.

Jangan salah, saya mendukung Brader Kaesang Pangarep yang hendak melaporkan Mas Jatmiko ke polisi. Pasalnya, Mas Jatmiko memang sudah melakukan tuduhan yang berbahaya. Mas Jat menuduh Persis Solo menggunakan dana APBN.

Ini tuduhan serius, lho. Kita tahu, dulu sekali, klub-klub memang menyusu dari dana pemerintah. Namun, pagu anggaran untuk klub masuk ke dalam APBD. Iya, dana daerah, bukan N yang artinya negara.

Nah, untuk sekarang, duit rakyat itu nggak boleh lagi dipakai untuk biaya sebuah klub. Maka dari itu, tuduhan Mas Jat kepada Persis Solo, di mana Brader Kaesang menjadi salah satu pemiliknya, memang tuduhan yang kejam. Brader Kaesang sendiri siap diaudit oleh pihak ke-3.

Saya nggak tahu motif Mas Jatmiko sampai begitu percaya diri bilang bahwa masalah gaji Persis Solo nggak mungkin telat karena pakai dana APBN. Saya malah penasaran sumber Mas Jat ini dari mana. Mencari sumber informasi Mas Jat ini juga penting sebagai langkah pencegahan berita palsu.

Nah, sampai sini, semua baik-baik saja. Brader Kaesang Pangarep memang punya 2 hak di peritiwa ini. Pertama, melaporkan Mas Jatmiko, yang mana itu berhak dilakukan karena dijamin oleh UU. Kedua, memaafkan Mas Jatmiko karena semua orang waras juga tahu mana mungkin Persis Solo menyusu APBN. Mungkin Mas Jatmiko memang kurang jatmika.

Memaafkan tuduhan keji ini justru meningkatkan respect kepada jajaran manajemen Persis Solo dan Brader Kaesang khususnya. Orang jawa kan katanya dowo usus e atau ‘panjang sabarnya’.

Tapi yah, kalau mau dibawa ke ranah hukum tentu baik adanya. Hak individu yang dijamin UU. Ini perlu dicatat. Namun, sayangnya, Brader Kaesang Pangarep malah membawa masalah ini lebih panjang lewat akun Twitter pribadinya.

Salah satunya dengan mengunggah sebuah foto dengan Honda Beat sebagai fokus utamanya. Brader Kaesang Pangarep menambahkan wording seperti ini: “Motornya Mas Jatmiko yang fitnah @persisofficial pake duit APBN wkwkwkwkwkwkwkw.”

Saya malah jadi sedih melihat unggahan ini. Ngelus dada. Kenapa saya sedih?

Sebelum mengunggah foto pribadi ini, tentu Brader Kaesang Pangarep mencarinya dengan seksama. Kemungkinan kedua, Brader Kaesang dikirimi orang lain. Jadi, di sini ada sebuah proses berpikir seorang manusia. Antara mau mencari kelemahan orang lain yang sudah tak berdaya dan bertapa asyiknya bullying mereka yang tak mungkin melawan.

Iklan

Menertawakan tunggangan orang, kok ya kebetulan Honda Beat, juga sama dengan menertawakan kehidupannya. Menjadi miskin seperti penunggang Honda Beat tentu bukan sebuah dosa. Apalagi sebuah status untuk ditertawakan oleh seorang pemilik klub bersejarah.

Yang Brader Kaesang Pangarep lakukan juga masuk dalam ranah doxing. Menyebarkan informasi pribadi, dalam hal ini tunggangan Mas Jatmiko. Itu satu hal. Hal lainnya yang lebih menyedihkan adalah suara tertawa Brader Kaesang itu memperuncing pertarungan kelas antara miskin dan kaya.

Antara anak penguasa dan rakyat biasa. Antara dirimu yang bisa dengan mudah mendapatkan akses hukum dan seorang warga negara yang mungkin kesulitan mendapatkan pengacara. Ini bukan public relation yang baik.

Saya tidak akan memberi saran karena Brader Kaesang Pangarep tentu sudah pernah mendapat pelajaran andhap asor dan tepa seliro, mana yang baik, mana yang enggak.

Saya cuma menyayangkan, tindakan seperti ini keluar dari anak muda yang diharapkan memberi warna baru di Indonesia. Apalagi untuk dunia sepak bola yang selama ini terlalu lekat dengan “kuasa orang tua”.

Mas Kaesang, sejarah sepak bola Indonesia itu sudah terlalu lekat dengan kekerasan dan bullying. Saya, mungkin, lebih lama mengamati sejarah kekerasan itu ketimbang dirimu. Dan bisa saya pastikan, perundungan dan kekerasan itu nggak enak rasanya. Mbok sampun, Mas. Mboten sayah nopo?

BACA JUGA Pengendara Honda Beat vs Rombongan Gowes: Doxing dan Perang Analogi Si Miskin vs Si Kaya dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2021 oleh

Tags: doxinghondaHonda Beatkaesang pangareppersis solo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO
Otomojok

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO
Pojokan

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO
Sehari-hari

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Brio, Mobil Honda Paling Menderita Sepanjang Sejarah MOJOK.CO
Otomojok

Brio Adalah Mobil Honda Paling Menderita: Sering Dihina Murahan, tapi Sebetulnya Paling Ideal Menjadi Mobil Pertama Bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban

8 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.