Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
7 Januari 2026
A A
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masuk Klaten

Selepas Prambanan-nya Sleman, artinya saya masuk Prambanan-nya Klaten. Saya coba putar gas Honda Beat lebih dalam lagi. Saya melihat kecepatan yang saya gapai saat itu mencapai 90 kilometer per jam. Sebetulnya saya bukan tipe pengendara yang bersahabat dengan kecepatan tinggi. Saya lebih “moderate” saja. Lha wong lari 80 kilometer saja sudah saya anggap ngebut.

Dulu, seorang teman dari SMA pernah menertawakan saya. Pasalnya, saya nggak pernah ngebut ketika bawa Supra X 125. Katanya, “Bawa 125cc kok nggak berani ngebut.” Kalau memukul orang sampai gigi rontok nggak masuk penjara sudah saya tonjok moncongnya. 

Iklan

Lagian buat apa ngebut kalau cuma bikin bahaya orang lain dan diri sendiri. Saya heran, kok ya ada orang yang menertawakan orang yang nggak suka ngebut. Pola pikirnya sangat sesat. Kasihan, padahal masih sangat muda.

Yah, begitulah, manusia yang otaknya nggak punya rem. Mari kembali ke Honda Beat yang saya siksa di jalanan Jogja menuju Solo dan pulang balik.

Pagi itu, selepas Klaten, Honda Beat seperti mulai memberikan perlawanan. Mungkin dia merasa seperti korban penindasan dan kerja paksa.

Dari Solo kembali ke Jogja

Selepas siang, setelah pekerjaan di Solo selesai, saya bergegas kembali ke Jogja. Sore harinya, saya masih ada agenda. Maka, Honda Beat semakin saya ajak lari. Saya nggak tahu perasaan sepeda motor seperti apa. Namun, kayaknya, motor ini menyimpan dendam karena “terpaksa” menggendong saya dengan bobot lebih dari 100 kilogram.

Kejadian pertama adalah ban bocor. Sejak dulu, saya nggak pernah akur dengan yang namanya ban konvensional. Maksudnya, yang pakai ban dalam itu. Namanya tube type, bukan ban tubeless.

Supra X 125 itu hobi banget bocor, khususnya ban belakang. Makanya, saya curiga kalau Supra X 125 saya sudah mewanti-wanti Honda Beat supaya, “Kasih bocor saja kalau kamu tertindas.”

Iya, saya tahu, bocornya ban belakang ini agaknya, disebabkan oleh bobot saya yang terlalu “menyerap gizi sampai maksimal”. Kejadian bocor itu ada di Delanggu, daerah antara Klaten dan Solo. Tambal untuk bocor 3, semua karena paku, kata si bapak tukangnya. Ya sudah, tambal saja.

Bocor lagi di Kalasan, wujud protes Honda Beat

Saya sudah masuk Jogja ketika mulai merasa shockbreaker Honda Beat ini terasa nggak nyaman. Saya rada khawatir kalau shockbreaker ini ikut ngambek, tiba-tiba patah, atau apalah. Saya hanya bisa berdoa. Minimal selamat dulu sampai rumah.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Namun, ternyata, yang ngambek adalah ban lagi. Begitu masuk sekitar Kalasan, bocor lagi. Saya berhenti di dekat Percetakan Kedaulatan Rakyat. Saya amati lekat-lekat ban belakang yang kempes (lagi) itu. Setelah puas mengumpat, saya mendorong motor tersebut ke sebuah bengkel. Saya nggak mau menyebut namanya karena ini bukan artikel advertorial hehe.

Intinya, saya harus ganti ban dalam. “Sobek, Mas,” kata Mas Montir sambil nyengir. Untuk ukuran 2026, harga ban dalam terbilang sangat murah. Bahkan lebih murah dari segelas kopi susu gula aren dari kafe-kafe fancy di pusat kota. 

Saat itu, saya juga nggak masalah kalau harus ganti. Yang jadi pikiran saya adalah kenapa Honda Beat bawa masalah terus-terusan ketika saya yang bawa. Apakah ini wujud balas dendam kaum tertindas?

Mengembalikan Honda Beat

Kakak saya tertawa keras ketika saya selesai bercerita. Selama tiga bulan memakai Honda Beat ini, kakak saya nggak pernah kena halangan. Kenapa malah kejadian ketika saya yang bawa? Namanya saja kehendak semesta. Penuh kerahasiaan.

Iklan

Yang pasti, atas nama berat badan yang memang agak berlebih ini, saya minta maaf ke Honda Beat. Meski hanya saya ucapkan dalam hati, tapi tulus, kok.

Sekarang, saya pakai Vario 160. Saya kapok “menyiksa” para kaum tertindas. Sudah tertindas, Honda Beat jadi simbol orang miskin pula. Baru jadi motor saja sudah ngenes gini hidupnya.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda Beat: Irit Lahir Batin, Juara di Klasemen Harga Motor Bekas dan kisah seru lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: beatdelangguHonda BeatHonda Supra XJogjakalasanklatenMotor Hondasolosupra x 125
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.