Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Empat Hal yang Bisa Dilakukan Pemerintah untuk Meningkatkan Imun Masyarakat

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
26 Agustus 2020
A A
imun
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Masyarakat butuh hiburan agar imun bisa terjaga. Kuncinya adalah menjaga agar masyarakat tetap bahagia. 

Kabar “menggembirakan” datang dari dunia hiburan tanah air. Pemerintah dalam waktu dekat berencana memberikan izin untuk membuka kembali bioskop.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa pembukaan bioskop bisa menjadi hiburan bagi masyarakat dan berdampak pada menguatnya imun.

“Perlu kami sampaikan, bahwa bioskop dan sinema memiliki karakteristik penting dan kontribusi penting, terutama dalam memberikan hiburan kepada masyarakat, karena imunitas masyarakat bisa meningkat karena bahagia, atau suasana mental fisik dari penonton dan masyarakatnya juga ditingkatkan,” terang Wiku.

Pernyataan Bapak Wiku tentang kebahagiaan dan imun ini tentu saja harus diperhatikan. Sebab ia bisa menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan-kebijakan lain terkait pandemi covid-19 di masa mendatang.

Dengan menggunakan logika kebahagiaan dan imun yang disampaikan oleh Bapak Wiku, maka sejatinya pemerintah bisa melakukan banyak hal dalam rangka mengendalikan pandemi covid-19 melalui peningkatan imun masyarakat berbasis kebahagiaan.

Mengizinkan masyarakat untuk menyelenggarakan jathilan, dangdutan, dan event masyarakat lainnya.

Kalau hanya bioskop saja yang diperbolehkan, maka bukan saja imun yang akan meningkat, melainkan juga kesenjangan dan keirian masyarakat menengah ke bawah, sebab buka atau tidak, mereka memang tidak pernah menyambangi bioskop.

Oleh karena itu, agar ketahanan imun masyarakatnya merata, maka bukan saja bioskop yang harus diperbolehkan, melainkan juga wahana hiburan-hiburan lain seperti jathilan, dangdutan, campur sarian, dll. Tentu saja dengan tetap menggunakan embel-embel kata ajaib “dengan memperhatikan protokol kesehatan”.

Memangnya panitia jathilan atau dangdutan itu bisa menjamin penerapan protokol kesehatan? Kalau soal itu, biarlah waktu yang menjawab. Toh selama ini juga belum terbukti pengelola bioskop bisa menjamin penerapan protokol kesehatan untuk para pengunjungnya. Wong melarang pengunjung yang bawa anak kecil dan menonton film yang ratingnya dewasa saja pengelola bioskop nggak becus kok, apalagi menjamin jaga jarak. Mereka cuma becus mengawasi pengunjung yang bawa makanan dari luar.

Ingat, yang penting masyarakat (menengah ke atas) bahagia, imun terjaga.

Iman, imun, aman. Itu kuncinya.

Memberikan subsidi sepeda untuk warga yang kurang mampu

Kita semua tahu, di masa pandemi ini, orang-orang jadi giat bersepeda. Bersepeda menjadi aktivitas pelarian bagi banyak orang yang mungkin sudah bosan berdiam diri di rumah. Sepeda menjadi semacam gaya hidup serta sarana olahraga alternatif.

Jumlah pesepeda yang lalu lalang di jalanan semakin banyak. Toko-toko sepeda ketiban pulung. Penjualan sepeda naik pesat. Dari sepeda paling murahan yang sadelnya keras seperti bangku SD Inpres, sampai sepeda super mahal yang dengan melihat jeruji rodanya saja sudah cukup untuk membuat orang bergaji pas-pasan langsung minder dan lebih memilih membeli gerobak celeng saja.

Nah, usut punya usut, ternyata banyak masyarakat yang tak bisa menggeluti hobi ini karena tak punya sepeda, atau setidaknya, punya sepeda namun bututnya setengah mampus.

Iklan

Dengan sepeda butut, tentu menjadi tak elok kalau seseorang bergabung dengan para pesepeda yang sepedanya jauh lebih bagus atau setidaknya lebih mulus. Akan ada kesenjangan yang mencolok.

Bukannya diajak gabung, malah diejek “Mau ngasong koran, Mas?”

Karena itulah, penting bagi pemerintah untuk memberikan subsisi sepeda kepada banyak warga yang kurang mampu, tanpa peduli bisa atau tidak menyebutkan lima nama ikan.

Nanti kalau semua masyarakat punya sepeda, niscaya akan terbentuk masyarakat gowes yang madani dan berbudi pekerti.

Perkara nanti banyak orang yang bersepeda tanpa menjaga jarak, itu lain soal. Yang penting masyarakat bahagia, imun terjaga.

Iman, imun, aman. Itu kuncinya.

Menghapus seluruh acara televisi yang tidak menghibur

Masyarakat butuh hiburan untuk meningkatkan imun. Itu mutlak. Karena itulah, pemerintah bisa mengambil langkah progresif dengan menginstruksikan seluruh stasiun televisi untuk hanya menampilkan siaran-siaran yang menghibur. Acara-acara yang isinya edukatif atau informatif harus dikurangi decara drastis atau bahkan kalau perlu dihapus sekalian.

Acara-acara film seperti Bioskop Trans TV, Big Movies Global TV, Layar Emas, dan sebangsanya itu harus diperbanyak porsinya dan dikurangi iklannya. Dangdut Academy, Indonesian Idol, SUCI, dan ajang pencarian-pencarian bakat juga harus ditambah.

Sinetron juga demikian. Kalau perlu, setiap hari, sinetron tayang 2-3 episode langsung. Biar mantap. Acara gosip juga sebab rasan-rasan merupakan hiburan bagi banyak orang, sehingga porsinya jelas harus ditambah.

Nah, sebaliknya, acara-acara seperti Liputan6, Dunia Dalam Berita, Sekilas Info, Patroli, dll itu dihapus saja. Ganti dengan siaran-siaran menarik seperti Gebyar BCA, Pesta, Tralala Trilili, dan sebangsanya.

Kecuali ILC, itu jangan dihapus. Sebab melihat politisi berdebat gontok-gontokan kayak orang goblok itu termasuk hiburan juga.

Perkara nanti masyarakat jadi tidak edukatif dan minim informasi, itu urusan belakangan. Yang penting masyarakat bahagia, imun terjaga.

Iman, imun, aman. Itu kuncinya.

Mewajibkan menteri, anggota dewan, dan para pejabat tinggi negara agar bisa melucu

Ini kebijakan yang penting dan sangat perlu. Selama ini, para pejabat tinggi negara hanya tampak lucu karena kebijakan-kebijakan mereka. Nah, sekarang, kiranya perlu bagi pemerintah untuk membikin agar para tokoh ini lucu juga dari pernyataan-pernyataan, gestur, dan gerak-geriknya.

Tentu akan menjadi lucu kalau nanti para menteri bisa melawak saat berpidato. Masyarakat pasti akan sangat terhibur.

Bayangkan, saat Luhut mengadakan kunjungan ke Makassar, lalu saat berpidato, ia menyisipkan tebak-tebakan “Apa bedanya soto dan coto? Kalau soto pakai daging sapi, kalau coto pakai daging capi. Hehehe, hehehe.” Betapa akan bahagianya orang-orang yang mendengarkan karena pejabatnya ternyata lucu setengah mampus.

Perkara nanti para pejabat jadi celelekan dan justru lebih sibuk mencari bahan lawakan ketimbang solusi permasalahan negara, itu urusan belakangan. Yang penting masyarakat bahagia, imun terjaga.

Iman, imun, aman. Itu kuncinya.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2020 oleh

Tags: imunmasyarakatnegarapemerintah
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Parkir Liar Susah Diberantas, Siapa yang Membekingi?
Video

Parkir Liar Susah Diberantas, Siapa yang Membekingi?

10 Juni 2024
Islam Sebagai Dasar Negara
Arsip

Islam Sebagai Dasar Negara

30 April 2022
Asri Saraswati: Hidup dengan Berkebun (Agradaya) dan Buka Warung (Murakabi)
Video

Asri Saraswati: Hidup dengan Berkebun (Agradaya) dan Buka Warung (Murakabi)

24 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Album baru ARIRANG BTS. MOJOK.CO

Sekecewanya ARMY dengan Album “ARIRANG”, Patut Diakui kalau Lagu-lagu BTS Selamatkan Hidup Banyak Orang

29 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.