Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Aksi Bela Palestina Oleh Yahudi, Kristen, Dan Komunis

Arman Dhani oleh Arman Dhani
18 Desember 2017
A A
aksi bela palestina

aksi bela palestina

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Aksi Bela Palestina 1712 kemarin adalah satu dari sekian banyak solidaritas terhadap negara itu.”

Pada 17 Desember kemarin, Monas penuh dengan manusia yang bermunajat, berorasi, dan berdoa sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat Palestina. Melihat ribuan orang dari berbagai latar belakang, mazhab, keyakinan, hingga komunitas, Palestina bisa menyatukan banyak orang karena kepedulian bersama. Kita sebagai bangsa secara kolektif, nyaris bersepakat bahwa keputusan Donald Trump adalah tindakan gegabah. Tidak hanya menyulut konflik baru, pernyataan itu hanya akan membuat perpecahan di timur tengah semakin menjadi.

Puluhan ribu masyarakat Indonesia menunjukkan solidaritasnya terhadap pendudukan Palestina oleh Israel. Bertahun-tahun mungkin jutaan rakyat Indonesia juga sudah menunjukkan dukungannya terhadap Palestina melalui berbagai aksi, entah itu penggalangan dana sampai mengirimkan relawan kemanusiaan. Tentu ada beragam niat dan juga alasan solidaritas. Ada yang merasa bahwa konflik Palestina Israel adalah permasalahan kemanusiaan, keagamaan, dan kebangsaan. Apapun itu niat kita tak jadi lebih rendah hanya karena perbedaan.

Solidaritas kemanusiaan yang ditunjukkan melalui Aksi Bela Palestina bukan hanya milik umat muslim. Paus Fransiskus misalnya menunjukkan kepedulian dan solidaritasnya sejak ia terpilih. Pada mei 2014 ia mengaku bahwa sikap Vatikan terhadap Palestina sudah bulat. Mereka mengakui bahwa Palestina adalah negara yang berdaulat, pada 14 Januari tahun ini, Pemerintah Palestina diberikan kesempatan membuka kedutaan besar di Vatikan. Paus Fransiskus juga merupakan salah satu petinggi negara yang merespon langsung keputusan Donald Trump. Romo Paus Fransiskus menyebut bahwa Yerusalem adalah tempat suci bagi kaum Yahudi, Muslim, dan Kristen.

Pada 2014, duta besar Palestina saat itu mengupas tuntas tentang dukungan dunia terhadap Palestina. Ia menyebut bahwa dukungan terhadap negara itu tidak hanya berasa dari negara muslim. “Lihat di PBB, lihat Vatikan, Sri Paus ada di Palestina, dan tidak ke Israel. Dia berangkat dari Amman, lalu terbang dengan helikopter ke Bethlehem. Ia tidak menganggap Bethlehem sebagai bagian dari Israel. Jadi ini posisi dari Sri Paus, dan gereja Katolik, bagaimana pula ini hanya menjadi masalah bagi umat muslim?” katanya.

Tentu solidaritas Aksi Bela Palestina tidak melulu hanya perkara ibukota. Aksi-aksi kolektif pemuda arab baik kristen, druze dan muslim di Jalur Gaza, Tepi Barat, Ramallah, Betlehem hingga berbagai kota di Palestina adalah wujud solidaritas terhadap bangsa ini.

Mereka tidak sedang membela agama hingga berjilid-jilid. Mereka sedang membela kedaulatan bangsa, nasionalisme, dan identitas kultural sebagai warga negara Palestina. Kesadaran bahwa sebagai warga dari negara yang dijajah membangkitan semangat perjuangan yang lebih kuat dari sentimen keagamaan.

Pemuda-pemuda kristen Palestina menjelang natal kerap berpakaian seperti Santa Klaus untuk menunjukkan bahwa mereka menolak penjajahan Israel. Mereka bertikai dan bentrok dengan otoritas Israel karena dianggap tak pernah ada. Pada perayaan Natal 2015, pemuda-pemuda kristen Palestina membagikan kado di Betlehem yang direspon represif oleh pemerintah Israel. Dengan pakaian Santa Klaus mereka melempar batu dan dibantu pemuda muslim melakukan perlawanan kecil terhadap militer Israel.

Kita kerap lupa Palestina adalah rumah bagi agama kristen. Di Betlehem dan Yerusalem tanah-tanah ini pernah disinggahi Yesus, kekristenan lahir di tanah ini. Maka ketika Palestina direbut dan dijajah oleh Israel, ini bukan lagi perkara satu agama. Tapi sebuah pertikaian panjang tentang identitas keimanan. Israel merasa bahwa ini adalah tanah yang dijanjikan, sementara warga Palestina menganggap ini adalah tumpah darahnya. Maka jika ada ustaz yang bilang nasionalisme tak ada dalilnya, mungkin ia perlu memeriksakan kepala sebelum ikut Aksi Bela Palestina.

Sebelum deklarasi Balfour pada 1948 Palestina adalah rumah bagi Yahudi, Muslim, Kristen dan kaum Druze. Palestina adalah rumah bagi berbagai keyakinan. Maka ketika Israel ujug-ujug muncul, perlawanan tidak hanya dilakukan oleh umat islam. Pengikut Judaisme juga muncul dan menentang zionisme global. Neturei Karta adalah salah satu organisasi Judaisme yang didirikan pada 1938 dan sejak saat Israel berdiri telah menentang keberadaan negara Yahudi.

Mereka menolak zionisme dan mendukung keberadaan Palestina sebagai negara sah. Aksi Bela Palestina ditunjukkan Neturei Karta dengan bersimpati, mengajak, dan menyerukan kepada sesama orang Yahudi untuk menolak pendudukan Israel terhadap Palestina. Tidak susah melihat keberpihakan kelompok Yahudi ini dalam berbagai aksi dukungan terhadap pemerintah Palestina dan menentang Zionisme Israel.

Palestina juga bukan hanya rumah bagi mereka yang berafiliasi dengan agama. Kelompok komunis juga salah satu yang aktif bergerak membela dan melakukan advokasi kemerdekaan Palestina. Setidaknya ada beberapa partai dengan haluan sosialisme di Palestina dan Partai Komunis Israel secara terbuka menolak keberadaan Zionisme dan penjajahan atas Palestina. Mereka mendukung kedaulatan Palestina sebagai negara dan mendesak pemerintahnya menghentikan kekerasan terhadap orang-orang Arab dan minoritas Druze.

Apakah orang-orang Palestina membenci orang Yahudi? Ini adalah kesalahpahaman yang kerap kali dipelihara. Orang-orang di Indonesia kadang tak bisa membedakan apa itu Judaisme, Yahudi, Zionisme, Israel, dan Israel Defence Force. Dalam sebuah foto yang diunggah oleh jurnalis Yahudi bernama Igal Sama pada 2 Agustus 2015, terlihat dua orang warga Arab Palestina melindungi seorang polisi perempuan dari lemparan batu. Foto ini diambil oleh Shaul Golan. Ia bercerita sebelum tindakan bodoh mendirikan Israel, Palestina adalah rumah bagi Yahudi dan Arab yang hidup berdampingan secara damai.

Jangan lupakan pula nama pengacara publik Tamar Peleg-Sryck, seorang Yahudi tulen, yang selama 20 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk mewakili rakyat Palestina di pengadilan Israel. Ia membebaskan ribuan orang, yang kebanyakan adalah anak-anak, Palestina yang ditangkap dan dipersekusi Israel. Bukankah ini satu bentuk Aksi Bela Palestina? Seorang aktivis kemanusiaan yang mungkin di Indonesia akan dibunuh karena dua hal; menjadi Yahudi dan komunis.

Akhirnya yang lebih penting dan lebih besar adalah kemanusiaan. Berbagai kalangan manusia dari penjuru dunia menunjukkan solidaritas terhadap Palestina terlepas keyakinannya. Ini seperti kamu menolong orang yang sedang jatuh atau mengalami kecelakaan. Kamu tak akan bertanya apa agamanya, hal pertama yang kita lakukan adalah menolong mereka. Karena agama tanpa kemanusiaan nyaris seperti dangdut koplo tanpa kendang, sia-sia belaka.

Terakhir diperbarui pada 18 Desember 2017 oleh

Tags: aksi bela palestinabethlehemgazaIslamIsraelKomuniskonflik israel palestinaKristenpalestinaYerusalem
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO
Cuan

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO
Cuan

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Kabar

Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

4 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.