Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Nasib Nahas Toyota Corolla Altis di Tangan Saya

Edi AH Iyubenu oleh Edi AH Iyubenu
8 Agustus 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Toyota Corolla Altis bolehlah tidak sehits adiknya si Avanza dan segala jenis mobil berbodi kaleng Khong Guan lainnya. Tapi, siapa pun akan sepakat bahwa Altis lebih siap menjadi imam dalam hal keselamatan dan kenyamanan berkendara dibanding Avanza wa akhawatuha.

Bila dilihat menggunakan stratifikasi sosialnya Clifford Geertz (manusia merupakan susunan taraf-taraf, setiap taraf melapisi taraf-taraf di bawahnya dan mengalasi taraf-taraf di atasnya), Avanza jelas cuma keset bagi Corolla Altis.

Jangan diambil hati. Di atas langit masih ada langit kok. Di mata Koenigsegg Raffi Ahmad (33 miliar), Corolla Altis (450 juta) bahkan cuma debunya keset. Ya gimana, 1 Koenigsegg setara dengan Altis 74 biji. Lalu gimana dengan Avanza (180 juta) yang kesetnya debu keset? Bisa dapat 184 buah. Ckck.

Lupakan Koenigsegg setan itu, kita bahas Corolla Altis saja. Tapi, sebelum saya berkisah tentang Altis milik saya, saya ingin minta maaf dulu agar tak ada dendam antara kita. Terutama bila kisah ini membuat Anda yang sehari-hari mengemudikan Avanza wa akhawatuha merasa seperti sedotan Ale-Ale penyet yang habis digigiti Gus Mul.

Alkisah, di tahun 2008 saya pindah rumah dari wilayah Sleman ke daerah Bantul. Misi kepindahan ini tidak hanya terkait dengan kejengahan saya pada atmosfer sosial perumahan ngehek yang gue-gue elu-elu pret, tapi jelas bertalian dengan keyakinan hati saya untuk menjadi bupati Bantul 2025.

Namanya pindahan rumah dengan barang segaban, meski banyak orang yang membantu, tetap ruwetlah hari-hari saya selama seminggu itu.

Urusan posisi ranjang kayu yang beratnya melampaui beban pikiranmu perihal jodoh di usia yang telah matang di pohon saja bisa menelan waktu seharian lamanya. Kalau menghadap utara, kok kayak posisi orang mati. Kalau kaki selonjor ke utara, kok kayak nyikili para almarhum yang tentu sebagiannya adalah orang tua, kerabat, sahabat, dan guru-guru kita. Kalau menghadap ke barat, kok kayak membelakangi kiblat. Kalau selonjor ke barat, lah malah tidak hormat pada kiblat.

Itu sekadar satu contoh keruwetan pindahan rumah. Luar biasa menguras energi, fokus, dan waktu untuk berleha-leha sambil jalan-jalan sore bersama Corolla Altis silver yang makin jarang saya pakai semenjak kedatangan Toyota Innova generasi awal yang konsumsi bensinnya per liter hanya cukup untuk melewati tujuh tiang listrik.

Seminggu setelahnya, setelah agak longgar urusan menata rumah itu, saya menemukan sebuah kunci kontak lengkap dengan remote gantungnya di dekat tumpukan baju. Tertera emblem Toyota.

Ini kontak mobil yang mana ya? Gumam saya sendiri.

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, saya lalu tanya kepada istri. Jawabannya sangat memuaskan.

“Tidak tahu.”

Daripada saya menjejalkan baju-baju ke dalam tas lalu mencegat Sumber Kencono untuk mudik, saya melangkah ke garasi rumah yang bisa menampung tiga mobil dan sepuluh motor. Sombong lagi? Duh, jujur dituding sombong, bohong disebut munafik. Maunya apaaa?

Satu demi satu saya dekati tiga mobil yang bobok di garasi untuk dicocokkan dengan remote-nya. Tak satu pun mengangkat suara atau mengedipkan mata.

Iklan

Kemudian saya memanggil sopir ke rumah, menyerahkan kontak kepadanya dan meminta ia ngecek di garasi kantor. “Barangkali ada yang cocok di sana sama kontak ini, But.”

Tak lama kemudian Ribut datang lagi ke rumah sambil menggelengkan kepala. “Tidak ada yang cocok, Pak.”

“Lha, terus kontak mobil apa ini? Ndak mungkin to kontak ini termasuk golongan jomblo, ndak ada pasangannya?”

Setelah dua atau tiga hari berusaha mengingatnya meski lebih kerap melupakannya, saya mendapat jawaban melalui salat istikharah. Gambar rumah lama!

Ya! Jangan-jangan ada mobil Toyota di rumah lama yang telah saya tinggalkan sepuluh harian itu.

Saya lalu meminta sopir berangkat ke rumah lama di Sleman sambil menyerahkan kontak Toyota itu. Sekitar satu jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah yang baru. Corolla Altis silver!

Kondisinya sungguh menyedihkan. Buluk luar biasa bermandikan debu-debu. Maklum, rumah lama di Kecamatan Condongcatur itu hanya punya carport, bukan garasi. Niscaya debu-debu yang berseliweran begitu bebas menyetubuhinya selama saya tinggalkan.

“Tadi ada tetangga yang pesan gini, Pak,” kata sopir saya, “Mas, Mas, mbok kalau Altisnya ini ndak kepake, kasihkan saya saja. Karimun saya boleh sampean ambil deh.”

Saya menyeringai. Mungkin, kalau masa itu jalanan sudah riuh oleh Avanza wa akhawatuha kayak sekarang, mungkin kalimatnya akan jadi begini, “Mas, Mas, mbok kalau Altisnya ini ndak kepake, kasihkan saya saja. Avanza saya yang suspensinya iyig-iyig dan semakin mendekatkan saya sekeluarga kepada Tuhan dalam setiap perjalanan boleh sampean ambil deh.”

Sungguh saya lupa. Benar-benar lupa bahwa saya masih punya satu mobil lagi. Toyota Corolla Altis.

Beberapa hari kemudian Altis itu saya lego. Daripada mengulangi nasib nahas kayak gitu, kan kasihan. Bukannya Altis tidak oke sih driving experience-nya, tapi … gimana ya ….

Oh gini. Waktu itu saya kepincut mobil anyar dengan “taraf baru” yang seketika menjadikan Altis sekadar keset baginya. Honda New Accord.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: avanzacorolla altishondakoenigseggnew accordRaffi Ahmadtoyota
Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Yang punya Kafe Basabasi.

Artikel Terkait

Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO
Otomojok

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO
Pojokan

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Calya, Mobil Toyota yang Ganggu Kewarasan Logika Saya MOJOK.CO
Otomojok

Derita Toyota Calya Adalah Penderitaan yang Mengobrak-abrik Kewarasan Logika Saya padahal Ia Adalah Pahlawan Finansial Keluarga Kelas Pekerja

24 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO

Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

13 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.