MOJOK.CO – Bagi pengendara Honda Beat dan Vario, hujan di Jakarta adalah separator kelas sosial yang paling jujur. Pedih di mata!
Setiap masuk bulan Desember, timeline media sosial seperti berubah menjadi panggung bagi kaum pluviophile. Ini adalah istilah atau sebuah sebutan keren untuk mereka yang (mengaku) pemuja hujan.
Sejak beberapa bulan sebelum Desember, sebenarnya, konten “butiran air di kaca jendela” sudah menguasai timeline.
Coba buka Instagram Story kalian ketika gerimis mulai turun. Pasti bertebaran video butiran air di kaca jendela, ditemani segelas latte estetik, buku puisi yang terbuka tapi nggak dibaca, dan latar lagu indie folk yang mendayu-dayu. Caption-nya seragam: “Hujan bulan Desember membawa kenangan” atau “Syahdu sekali sore ini.”
Buat kalian yang membuat story kayak gitu, saya cuma mau bilang satu hal: Pret!
Hanya ada dua golongan yang meromantisasi hujan. Pertama, mereka yang sedang WFH di kamar ber-AC. Kedua, mereka yang sedang duduk manis di jok kulit Pajero atau Fortuner.
Bagi kami, kasta sudra jalanan Jakarta yang menunggangi Honda Beat getar atau Honda Vario cicilan flat, hujan bulan Desember bukanlah puisi. Ia adalah bencana logistik, fisik, dan mental.
Neraka di kolong flyover bagi pengendara Honda Beat dan Vario
Mari kita bicara realitas pengendara pengendara Honda Beat dan Vario, bukan estetika. Saat langit Jakarta mulai gelap gulita pukul empat sore, alarm bahaya di kepala pengguna motor langsung menyala.
Ini bukan tanda suasana “syahdu” akan turun menaungi Jakarta. Ini adalah tanda “Hunger Games” bagi pengendara Honda Beat dan Vario untuk rebutan tempat berteduh.
Kalian pikir para pengendara pengendara Honda Beat dan Vario itu suka berhenti massal di kolong flyover atau terowongan sempit sampai bikin macet total? Tidak, Bos. Kami terpaksa.
Memakai jas hujan di pinggir jalanan Jakarta itu butuh ketangkasan setara atlet senam lantai. Telat sedikit, baju basah. Baju basah artinya masuk angin dan masuk angin artinya anggaran kerokan dan Tolak Angin membengkak. Bagi kaum jelata dengan gaji standar, sakit itu mahal.
Belum lagi drama jas hujan yang merepotkan pengendara pengendara Honda Beat dan Vario. Jas hujan model ponco (kelelawar) mengandung bahaya karena bisa nyangkut di rantai motor. Jas hujan model baju-celana memang aman, tapi memakainya butuh waktu lima menit sendiri sambil joget-joget di pinggir trotoar demi memasukkan kaki yang tersangkut sepatu boots.
Di mana letak romantisnya? Nggak ada. Yang ada cuma keringat dingin bercampur air hujan yang merembes lewat leher.
Baca halaman selanjutnya: Derita pengendara Beat dan Vario di Jakarta.














