Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

Kresnanto Sulistiyo Broto oleh Kresnanto Sulistiyo Broto
27 Agustus 2026
A A
Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Ilustrasi Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah 12 motor Honda Verza menemani saya menembus pegunungan Banjarnegara untuk mencari rezeki. Dan motor tua ini masih menolak untuk pensiun. 

Pukul 5 subuh. Pasar Kota Banjarnegara masih gelap. Udara dingin menusuk tulang, jalanan naik-turun seperti grafik usaha UMKM. 

Iklan

Di antara gerobak sayur dan lapak tempe, terparkir motor Honda Verza 2013 warna merah. Plat R. 150cc. Ini bukan motor gaya, tapi alat kerja, dan motor ini selalu menolak pensiun.

Motor Honda Verza adalah alat kerja di kota pegunungan

Saya membeli Honda Verza ini bekas tahun 2018. Bukan karena mau koleksi. Alasannya sederhana. Ia murah, bandel, dan irit. 

Di Banjarnegara, motor matik sering ngos-ngosan saat menanjak membawa muatan sayur. Justru Honda Verza tua seperti ini yang bertahan. Mesinnya sederhana, tapi tidak pernah rewel.

Kini, usianya sudah 12 tahun di tangan saya. STNK bukan atas nama saya. Status saya hanya pengendara, sopir, sekaligus mekanik dadakan. Namun, motor inilah saksi perjalanan saya dari titik nol. 

Honda Verza ini mengantar saya pertama kali ke Kelurahan Sigaluh untuk mengurus NIB pelaku UMKM yang usahanya masih di teras rumah. Ia menemani saya kehujanan di depan Kantor DPMPTSP Banjarnegara karena antrean panjang dan server OSS sedang down.

Motor ini juga bisa menemani saya nongkrong sejak pukul 5 subuh di Pasar Kota, menunggu klien tanda tangan sambil menitipkan helm di lapak sayur dan menyeruput kopi 3 ribuan. Hilir-mudik ke Batur, Wanadadi, Madukara untuk sosialisasi OSS kepada petani kentang dan tembakau yang ponselnya masih Nokia jadul, motor ini juga ikut.

Motor Honda Verza ini pernah mogok sekali. Tepatnya di tanjakan Karangkobar pukul 5 sore. Bagasi penuh berkas, ditambah 2 karung dokumen dan jas hujan sobek. Penyebabnya kelalaian sendiri. Saya lupa ganti oli selama 8 bulan. Sibuk mengurus orang, lupa mengurus “karyawan”. 

Setelah mendorongnya 1 kilometer ke bengkel dan ganti oli, besoknya motor ini kembali nanjak. Tanpa drama. Tanpa protes. Mirip warga Banjarnegara: dibentak, tetap bekerja. Minim gaya, tapi beres.

Kenapa saya nggak mau ganti?

Pertanyaan itu sering muncul di Pasar Kota. Dari pedagang, tukang ojek, sampai klien. “Pak, kok tidak ganti NMAX atau PCX saja? Kan jasa perizinannya sudah laris.”

Jawaban saya tetap sama: “Sayang, Mas.”

Bukan soal harga. Tapi karena motor Honda ini sudah hafal peta perjuangan di pegunungan. Motor ini hafal titik jalan berlubang rute Banjarnegara-Dieng. Tahu mana titik rawan longsor saat musim hujan.

Ia paham jam-jam macet Pasar Kota karena truk sayur dari Wonosobo datang. Mengerti kapan harus ngebut ke kecamatan demi deadline NIB 1×24 jam. Dan, tahu kapan harus pelan karena aspal licin habis hujan es di wilayah Batur.

Ada tetangga yang ganti NMAX. Dua bulan kemudian mengeluh cicilan. Sementara keluhan Honda Verza hanya bensin.

Mengganti motor baru berarti adaptasi dari awal. Sementara waktu tidak ada untuk itu. Yang saya butuhkan adalah teman yang langsung tancap gas.

Honda Verza 2013 memang teknologinya jadul. Belum LED. Belum USB. Spion standar. Speedometer masih jarum. 

Tapi, ia punya fitur yang tidak ada di dalam brosur: torsi untuk menanjak, rangka yang tidak rewel, dan loyalitas menemani dari pasar hingga kantor kelurahan. 

Iklan

Ironi motor Honda tua di kota dingin 

Secara spesifikasi, Honda Verza kalah telak. Kalah irit dari Beat. Kalah bagasi dari Vario. Dan nggak bakal bisa menyaingi gaya dan fitur PCX. Namun di Banjarnegara, secara mental, ia unggul.

Saya pernah melihat bapak-bapak dengan NMAX baru mogok di pom bensin karena aki tekor kedinginan. Sering saya melihat ibu-ibu mendorong Scoopy karena ban selip di tanjakan Pasar Kota saat hujan. Sementara Honda Verza saya cukup isi Pertalite Rp20 ribu, lalu langsung nanjak ke Dieng membawa map berisi 30 berkas.

Mungkin motor Honda tua ini paham. Jika berhenti, ada petani yang terlambat mengurus izin dan gagal panen. Jika rewel, ada UMKM di Pasar Kota yang gagal ikut tender karena berkas belum beres. Maka, pilihannya hanya satu: terus berjalan. Diam. Tanpa keluh. Tanpa menuntut bonus.

Enam tahun terakhir, odometer sudah menyentuh 70 ribu kilometer. Ini setara 10 kali PP Banjarnegara-Dieng. Ban belakang ganti 4 kali karena aspal kasar pegunungan. Kampas rem 3 kali karena turunan curam. Rantai 2 kali. Tapi mesin belum pernah turun. Tidak pernah menginap di bengkel lebih dari 1 hari.

Mentalitas orang pegunungan dan Honda Verza tua

Ada yang bilang, “Pakai motor tua itu malu. Tidak update.” 

Saya jawab, “Lebih malu punya motor baru tapi tidak bisa membayar cicilan pupuk dan gaji tukang.”

Suatu pagi, Mbah penjual sayur bertanya: “Pak, kok motornya tidak ganti to? Isin ora?” 

Saya menjawab: “Mbah, sing penting iso golek duit to mbah. Gengsi ora nggo tuku beras.”

Honda Verza mengajarkan filosofi orang Banjarnegara: jangan gengsi dengan alat kerja. Cangkul tua yang tajam lebih berguna daripada traktor yang menganggur karena menunggu solar subsidi. Ponsel jadul yang bisa WA lebih penting daripada iPhone untuk gaya-gayaan.

Jok motor Honda tua ini sekarang sobek di tengah dan saya tutup pakai lakban. Dulu malu. Sekarang bangga. Bodi Honda Verza saya lecet tersenggol gerobak sayur di Pasar Kota. Tangki penyok terkena ranting di halaman kecamatan. Spion kanan patah diserempet truk.

Meski begitu, mesin tetap halus. Setang lurus. Tarikan masih kuat untuk menanjak membawa 2 karung berkas dan semangat.

Motor Honda Verza tua adalah saksi 

Honda Verza tua ini adalah saksi perjalanan dari nebeng sampai bisa membuka jasa dan membantu 200 UMKM Banjarnegara mengurus izin, dari warung kopi hingga pabrik tempe.

Motor tua ini menjadi saksi kehujanan di Pasar Kota, kepanasan di kantor kelurahan, kedinginan di Dieng sampai bibir membiru. Ia juga saksi mengeluh di pom karena uang tipis, makan nasi kucing, dan sujud syukur di masjid setelah cair.

Orang bilang motor tua itu beban. Boros. Memalukan.

Bagi saya, motor Honda tua ini adalah bukti. Bukti belum menyerah. Bukti bahwa di kota pegunungan, rezeki tidak butuh motor baru untuk datang. 

Kesetiaan itu mahal. Kadang wujudnya bukan manusia. Wujudnya motor tua 150cc.

Terima kasih, Honda Verza. Kita lanjut sampai benar-benar tidak kuat. Pasar Kota Banjarnegara masih menunggu, berkas masih menumpuk, tanjakan masih panjang.

Jadi, motor Anda sudah berapa tahun menemani mencari rezeki?

Penulis: Kresnanto Sulistiyo Broto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Honda Verza, Produk Gagal yang Justru Meningkatkan Kesombongan Saya dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2026 oleh

Tags: banjarnegaradienghondaHonda VerzaHonda Verza 150ccHonda Verza 2013nmaxpcxVerza
Kresnanto Sulistiyo Broto

Kresnanto Sulistiyo Broto

Penggiat pemberdayaan masyarakat di Banjarnegara. Fokus saya di ekonomi kerakyatan, perikanan, dan kegelisahan.

Artikel Terkait

Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026
Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Vario 150, Motor Honda Terbaik Wujud (Cicilan dan) Kasih Ibu MOJOK.CO

Vario 150: Motor Honda Terbaik tapi Paling Mengancam Kewarasan dan Bikin Malu, Takut Gak Bisa Nyicil Setelah Jadi Pengangguran Akhirnya Diselamat Ibu

21 Mei 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.