Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

Andry Setyawan oleh Andry Setyawan
23 Juni 2026
A A
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

Ilustrasi Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mulai berjuang bersama Honda Revo warna biru

Saya mulai bekerja saat bulan puasa. Dua hari pertama masih terasa biasa saja. Saya diberi daftar nasabah yang harus didatangi, lengkap dengan petunjuk jalan yang ditulis manual di kertas: belok kiri setelah warung, lurus sampai masjid, belok kanan setelah jembatan, dan semacamnya.

Google Maps belum sefamiliar sekarang. Semua masih mengandalkan catatan kertas dan bertanya ke warga sekitar.

Iklan

Kalau mengingat itu sekarang, saya kadang ingin tertawa sekaligus kasihan pada diriku sendiri. Kenapa dulu saya bisa sepolos itu?

Seminggu pertama, kepala mantri masih menemani saya. Dia adalah atasan saya yang mengajari cara menagih, bagaimana berbicara dengan nasabah, sampai cara membaca situasi di lapangan. Saya yang menyetir Honda Revo biru itu, sementara dia duduk di belakang sambil sesekali menunjukkan arah.

Jarak yang kami tempuh tiap hari tidak main-main. Kadang ke Kutoarjo, Kebumen, sesekali ke Wates. Semuanya kami tempuh naik Honda Revo, dalam keadaan puasa, di atas panas jalanan yang rasanya tidak ada habisnya.

Cerita seram yang saya dengar di atas jok Honda Revo

Di atas jok Honda Revo saya mendengar cerita-cerita seram para kolektor. Misalnya, saya mendengar cerita tentang kolektor yang tidur dengan nasabah demi mengganti satu kali cicilan. 

Saya bahkan melihat bagaimana banyak orang sebenarnya sudah terjebak utang dari banyak koperasi. Mirip pinjol zaman sekarang, hanya saja bentuknya lebih nyata karena penagihnya datang langsung ke rumah. Seperti saya naik Honda Revo ini.

Saya bahkan pernah melihat kolektor dari koperasi lain marah-marah di depan rumah nasabah yang kabur sampai mengancam memecahkan kaca. Dunia terasa sangat keras. Dan jujur saja, saat itu saya sudah merasa tidak cocok dengan pekerjaan ini.

Sampai akhirnya, dua hari sebelum libur Lebaran, aku hampir mengalami kecelakaan ketika naik Honda Revo biru itu..

Waktu itu sudah Magrib dan jalan mulai gelap. Saya dan kepala mantri sedang pulang dari arah Kutoarjo menuju Purworejo. Saya yang menyetir Honda Revo biru itu karena sudah seminggu belajar di lapangan. Karena jalanan agak sepi, saya berani sedikit ngebut.

Jadi, di depan saya ada truk besar dan saya memutuskan menyalip. Dalam pikiran saya waktu itu, semuanya aman. Ternyata salah.

Saat Honda Revo itu sudah berada di samping truk, dari arah depan muncul truk lain dengan kecepatan tinggi. Posisi kami benar-benar di tengah-tengah. Saya hanya bisa memaksa Honda Revo biru itu berlari secepat mungkin sambil berharap tidak tersenggol.

Panik, kosong, dan takut dalam waktu bersamaan. Setelah berhasil melewati truk itu, kepala mantri langsung meminta berhenti.

Dia turun, lalu berkata pelan, “Sudah, gantian saya saja yang nyetir.” Sejak saat itu sampai libur Lebaran tiba, dia yang selalu berada di depan. Sejak kejadian itu, saya mulai sadar bahwa saya memang tidak sanggup menjalani pekerjaan ini.

Iklan

BACA JUGA: Motor Honda Revo: Simbol Ngenesnya Umat Manusia yang Mampu Bertahan di Tengah Gempuran Motor Matik

Memutuskan untuk berhenti

Bukannya saya tidak mau bekerja bersama Honda Revo yang ikonik itu. Cuma saya merasa tidak bisa.

Maka, saat pulang libur Lebaran ke Gunungkidul, saya sengaja membawa semua pakaian dari kontrakan. Dalam hati saya sudah memutuskan untuk keluar dari koperasi itu. Total, saya hanya bertahan selama 17 hari kerja.

Di rumah, saya jadi bingung gimana bilang kalau aku mau keluar dari pekerjaan. Sampai akhirnya, saat sedang di dapur bersama ibu, saya memberanikan diri bicara.

“Kalau aku nganggur, nggak apa-apa kan?”

Saya bahkan tidak berani melihat wajah ibu. Dan jawaban ibuku justru membuat saya semakin ingin menangis.

“Nggak apa-apa. Yang penting kamu nyaman.”

Hari itu saya resmi keluar dari pekerjaan sebagai kolektor. Honda Revo kantor itu akan selalu menjadi saksi bahwa saya pernah mencoba masuk ke dunia yang ternyata tidak cocok. 

Honda Revo menjadi saksi kerasnya jalanan, saksi kerasnya dunia penagih utang. Kadang hidup memang begitu. Ada pekerjaan yang terlihat sederhana dari luar, tetapi ternyata terlalu berat untuk dijalani hati kita sendiri.

Penulis: Andry Setyawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada dan kisah spesial lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2026 oleh

Tags: hondahonda revokoperasiMotor Hondapenagih utangPurworejorevo
Andry Setyawan

Andry Setyawan

Seorang profesional di bidang Quality Assurance dengan pengalaman di fintech, e-commerce, dan perbankan. Tertarik menulis tentang keresahan dunia kerja dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Artikel Terkait

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO
Kilas

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO
Otomojok

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO
Esai

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO
Catatan

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.