Fenomena manusia super yang mengklaim bisa menggandakan uang sebenarnya bukan hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Tak terhitung lagi sudah berapa dukun, guru spiritual, pesulap, atau sebangsanya yang masuk pemberitaan karena kemampuannya menggandakan uang, baik itu asli maupun cuma tipu-tipu belaka.

Namun khusus untuk Dimas Kanjeng Taat Pribadi, tentu lain ceritanya. Fenomenanya bukan fenomena biasa. Ia menjadi begitu luar biasa karena pengikutnya yang begitu banyak, jumlah setoran uangnya yang begitu fantastis, sampai pembelaan atas dirinya yang begitu spartan dan militan. Tak heran jika kemudian, Mojok sampai selo menayangkan tulisan tentangnya, bukan hanya satu, tapi dua artikel —tiga, dengan artikel ini.

Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan dengan membaca sekaligus melihat berita dari berbagai sumber, satu hal yang menjadi salah satu alasan besar mengapa kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini begitu menarik dan layak untuk diperbincangkan adalah pembelaan dari Ibu Marwah Daud Ibrahim. Terutama pada satu kesempatan ketika beliau mengatakan bahwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi adalah aset Indonesia!

Pernyataan ini lantas menjadi bahan tertawaan netizen kita yang memang suka humor receh. Kebanyakan mengolok-olok bu Marwah atas pernyataannya yang dianggap tidak logis, padahal beliau ini cukup terpandang sebagai salah satu cendekiawan (apalagi ditambah embel-embel pernah sekolah di Amerika).

Sebagai seorang penulis Mojok yang tiada mengenal suudzon, tentu saya selalu menjauhkan diri dari mengolok-olok keyakinan seseorang, seaneh apapun itu, apalagi pendapat wanita, apalagi ia seorang ibu-ibu, apalagi pernah sekolah di Amerika. Anda tentu pernah dengar celetukan “wanita tidak pernah salah”, atau “Seorang ibu pasti punya insting tersendiri”? Nah itu pula yang saya yakini. Apa yang diyakini ibu Marwah pastilah sesuatu yang benar-benar berdasar dan ndalan.

Mari kita cermati, selama ini Dimas Kanjeng dipercaya bisa menggandakan uang, emas, atau memunculkan harta benda apapun yang sebenarnya ia mau. Fokus karomahnya saya yakin ada di penggandaan. Urusan kok uang atau barangnya bisa muncul di tempat tertentu paling ya ulah asistennya.

Nah, yang disayangkan adalah, fokus penggandaan Dimas Kanjeng ini masih sebatas pada harta benda. Inilah yang sebenarnya ingin dikembangkan oleh bu Marwah ke depannya. Bahwa setelah harta benda titipan sudah digandakan, maka Dimas Kanjeng akan menggandakan hal-hal berikut:

Baca juga:  Inikah Senjakala Partai Politik Kami...

Minat baca masyarakat

Sebagai salah satu dedengkot ICMI sekaligus tergabung dalam MUI (meski kabarnya sudah keluar), saya yakin pendidikan adalah salah satu yang menjadi perhatian dari bu Marwah. Sebagai cendekia, tentunya bu Marwah ingin menelurkan cendekiawan-wati di masa depan. Apalagi mendengar kabar bahwa minat baca kita masih termasuk terendah meski buta huruf sudah teratasi. Semacam sudah bisa mengatasi lapar tetapi masih punya masalah gizi.

Tujuan ini sejalan dengan revolusi mental yang di gaungkan oleh Presiden kita, yakni dengan membentuk generasi bangsa yang unggul dibanding bangsa lain. Untuk itu, kemampuan Dimas Kanjeng akan digunakan untuk menggandakan minat baca masyarakat kita, baik itu membaca buku cetak, ataupun artikel-artikel di dunia maya.

Tentu saja langkah ini diharapkan mampu mengurangi tindakan-tindakan semena-mena terhadap buku khususnya, dan pengetahuan pada umumnya, akibat dari kebanyakan masyarakat yang memang susah untuk membaca.

Jalan yang mulus dan rata

Permasalahan transportasi yang setiap tahun terus saja bermasalah di negeri ini adalah jalan. Jangankan yang pelosok, yang dekat kota saja seringkali jalan masih buruk dan penuh dengan lubang. Menjelang lebaran apalagi. Cibiran dan kritikan mengenai pantura sudah menjadi menu wajib tahunan. Oleh karena itu, demi mengurangi anggaran belanja pemerintah untuk memperbaiki dan membuat jalan baru, Negara bisa nunut memanfaatkan karomah dan kemampuan penggandaan ala Dimas Kanjeng.

Dengan tangan kanan memegang jalan mulus, lalu beliau pindah ke tempat lain yang jalannya rusak, sentuh dengan tangan kirinya, wosssh! Jalan mulus berhasil digandakan. Cuma butuh biaya konsumsi dan mahar seikhlasnya.

Kesabaran

Inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat kita, bukan uang, bukan investasi, bukan infrastruktur memadai, melaikan kesabaran. Karena kalau tidak sabar, sudah barang tentu bakal susah hidup di negeri ini.

Lha gimana ndak butuh kesabaran, mau lihat berita, isinya itu-itu saja. Hiburan, yang menghibur ya cuma itu-itu saja. Mau pemilihan pemimpin, yang ikut ya itu-itu saja. Lama-lama bosan.

Belum lagi tren salah-menyalahkan, men-judge seolah hanya hitam dan putih saja pilihannya. Komentar ngawur disana-sini bertebaran. Sweeping ngaco, marak. Apalagi? Ini semua butuh kesabaran ganda. Ganda, nah disitulah karomah Dimas Kanjeng dibutuhkan.

Baca juga:  Nezar Patria, Teman Saya yang Asu

Pemimpin daerah yang berprestasi

Ini yang menjadi masalah pelik dalam demokrasi kepemimpinan Indonesia, dimana persebaran pemimpin yang dianggap berprestasi tak selalu rata. Sehingga tak heran jika kemudian sering menjadi rebutan. Sosok Risma dan Ridwan Kamil, misalnya. Kedua sosok ini dianggap berprestasi membangun daerahnya masing-masing, sehingga banyak rakyat di daerah lain yang iri dan ingin juga punya kepala daerah seperti mereka.

Nah, dengan adanya ilmu penggandaan ala Dimas Kanjeng, nantinya sosok-sosok seperti Risma dan Ridwan Kamil bisa diperbanyak. Nanti setiap satu kota/kabupaten bakal kebagian jatah satu. Atau kalau benar-benar diperlukan, satu kecamatan satu. Sehingga jangan heran jika nanti ada sebutan Risma Ngaglik, Risma Tempel, Risma Godean, dan Risma-Risma kecamatan lainnya.

Kuota tulisan per hari di Mojok.co

Yang terakhir ini sebenarnya adalah harapan dari saya, dan mungkin harapan beberapa penulis lain yang sudah susah-susah mencurahkan tenaga, pikiran, serta waktunya demi mengirim secarik tulisan ke Mojok namun gagal naik tayang.

Sedikit curhat, sudah dua minggu ini saya mengirim 3 tulisan (ini keempat), satu tulisan masuk rekomendasi, sedangkan yang dua entah bagaimana nasibnya. Saya yakin bukan saya saja yang mengalami hal ini. Lha piye, situs ini sudah terlampau terkenal, dengan kuota 1 tulisan per hari, dan anggaplah ada 20 tulisan yang masuk dalam satu hari, maka propabilitas buat naik tayang cuma 5 persen. Belum kalau dalam periode itu, pak Kepala Suku, Cak Rusdi, atau Ustad Iqbal mendadak punya pikiran menarik yang jadi tulisan, kesempatan tayang berkurang pesat jadi 0,05 persen.

Karena itulah, andai saja Dimas Kanjeng tidak diperkarakan seperti sekarang, saya rasa beliau bisa menggandakan kuota tayang tulisan di Mojok. Setidaknya menghidupkan harapan kami, para penulis yang butuh uang jajan buat beli mie ayam di pinggir jalan.

Bagaimana? Semakin yakin kan kalau Dimas Kanjeng bisa menjadi aset yang penting? Anda ndak yakin? Ya sudah ndak papa. Anda ndak yakin dengan penggandaan ndak masalah, yang penting tetap yakin bahwa untuk saat ini, ganda campuran adalah yang terbaik.

(Maaf kalau garing, humor receh saya ternyata memang susah buat digandakan)

Komentar
Add Friend
No more articles