MOJOK.COHari minggu bagi saya warnanya kelabu. Di hari itu biasanya saya sangat emo, penuh drama dan air mata. Pas saya cari tahu kenapa, ternyata banyak orang juga mengalami hal yang sama. Apa kamu juga salah satunya?

Sejak lulus dan hidup sendirian di Jogja saya baru sadar kalau saya sedikit membenci hari minggu. Saya nggak tahu apa penyebabnya, tapi setiap hari minggu saya merasa sangat kelabu.

Ketika orang lain begitu lesu di hari kerja dan berbahagia ketika hari minggu, saya sebaliknya. Di hari kerja saya merasa penuh semangat, tapi di hari minggu saya malah lemas tak bertenaga seperti kehilangan tujuan hidup wqwq.

Akhirnya, yang biasa saya lakukan hanya tidur seharian—yang berujung pada perasaan kacau dan ketakutan yang puncaknya terjadi di sore sampai malam hari.

Di hari minggu itu, terkadang saya juga merasakan serangan panik, dan kecemasan yang bikin saya merasakan (((urgensi))) untuk berlindung di bawah meja. Kemudian saya akan menangis cukup banyak karena tiba-tiba merasa sendirian dan kesepian.

Dan kejadian seperti itu berulang dan hampir jadi seperti rutinitas setiap minggu. Makan-tidur-menangis. Eh kadang ada kangen masnya hhe hhe.

Ketika saya menceritakan hal ini, orang-orang kadang nggak percaya kalau saya bisa seperti tadi. Maksud saya, mereka melihat bahwa kehidupan saya di Jogja bisa dibilang cukup sempurna. Saya punya pekerjaan yang menyenangkan, dikelilingi orang-orang baik yang suka ngasih dukungan, kerjaannya cukup santai (apalagi ketika mereka tahu kalau saya bisa tidur siang) dan sama sekali tidak pernah dimarahi ketika mengacau atau melakukan kesalahan.

Ya betul sih cukup sempurna jika dibandingkan dengan mereka—teman-teman saya—yang hidup lebih ngebut  di Jakarta. Di sana, selain harus merasakan kemacetan, harus siap juga stress dengan tekanan pekerjaan, dan atasan yang menyebalkan.

Saya jadi mikir. Iya juga ya. Sebenarnya apa sih yang bikin hari minggu saya itu selalu kelabu?

Seperti seorang manusia modern pada umumnya, saya kemudian melakukan penelitian ilmiah, bertapa di bawah air terjun, sampai mencari wangsit di gua belanda, alias tentu saja itu kelamaan jadi saya mending ngegoogling saja. WQWQ.

Saya kemudian menemukan kenyataan bahwa pengalaman punya hari minggu yang kelabu itu ternyata sesuatu yang cukup umum, alias banyak orang juga yang merasakannya (yha betul, tentu saja aq tida sendirian karena aq tida special).

Menurut saintis, fenomena (((sunday blues))) ini terjadi karena bagian dari otak kita yaitu neocortex sedang mengantisipasi sesuatu di masa depan yang dianggap menakutkan dan bisa bikin stress. Sesuatu yang menakutkan dan bikin stress itu maksudnya hari Senin saudara-saudara~ Betul tuchh, senin tuch seram karena harus kembali rapat dan kerja dan jadi budak dunia~

Baca juga:  Film Joker Sudah 'Gelap' Sejak dari Trailernya

Ini juga yang menjelaskan fenomena kenapa sebagian orang merasa bahagia di hari jumat meskipun mereka kerja. Yha betul~ Karena otak mereka, lagi-lagi sotoy mengantisipasi kalau besok itu libur. Libur artinya tidak harus bekerja, tidak bekerja artinya bahagia.

Tapi tapi saya merasa penjelasan ini masih belum bikin saya puas. Saya pikir, saya nggak takut-takut amat sama hari senin karena senin di kantor Mojok tidak seburuk itu.

Ya sih harus kerja dan rapat dan bikin laporan dan berpikir dan kurasi email dan mengerjakan hal lainnya, tapi hari senin tetap terasa sedikit menyenangkan karena bisa ketemu semua orang di kantor dan dapat makan siang gratis.

Karena saya nggak puas, saya kemudian (((menggali))) lebih dalam penjelasan lain yang lebih mewakili diri saya. Saya kemudian scroll scroll scroll scroll sampai akhirnya menemukan penjelasan lain yang lebih bisa saya terima.

Katanya, seseorang akan merasakan minggu kelabu ketika orang itu mabuk…

Bukan, bukan mabuk kecubung atau orang tua—-apalagi mabuk asmara hhe hhe. Mabuk di sini itu maksudnya mabuk pekerjaan dan mabuk bersosialisasi.

Sebagai seorang milenial yang terlihat bekerja dengan santai karena baru datang ke kantor jam 11 siang dan sudah boleh pulang jam 3 sore, mabuk pekerjaan terdengar tidak relevan. Tapi, ketahuilah Fergosong kalau milenial yang bekerja di (((industri kreatif))) itu jam kerja aslinya bukan jam 11 – 3 sore, tapi jam 11 sampai tipes… HAHAHA. Itu serius!

Di satu hari saya bisa santai di kantor ketawa-ketawa main kartu dan tidur siang, di hari besoknya saya bisa saja masih bekerja ketika jam 1 pagi. Apalagi, sebagai anak media, tidak ada yang namanya hari libur yang—literally libur—alias kamu tetap saja harus bekerja dan melakukan tugas seperti biasanya hanya saja tidak perlu ke kantor.

Pekerjaannya memang terlihat keren dan menyenangkan. Tapi yah—kalau mengutip kata-kata penulis best seller kita, Ali De Praxis—Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Mau yang sesuai passion, tidak sesuai passion, harus ngantor tidak perlu ngantor, seragam atau baju bebas, semuanya melelahkan hahaha.

Mabok kerjaan bisa diterima.

Mabok bersosialisasi?

Ya kalau ini sih saya pikir akan sangat gampang dimengerti ketika kamu seorang (((introvert))) seperti saya. Yah menghabiskan waktu 5 hari bercanda dan ketawa-ketawa di kantor memang menyenangkan, tapi kamu tentu saja jika boleh memilih, lebih ingin tidur siang dan kelonan sama buku atau film bagus seharian.

Baca juga:  Jika Ada Teman Curhat dan Bilang Lagi Depresi, Kita Harus Ngapain?

Apa hanya itu saja alasan di balik hari minggu kelabu yang penuh drama dan air mata? Oooo tidak sesederhana itu Fergosong, masih ada alasan-alasan lain (yang seringnya terakumulasi atau berkolaborasi) bikin kita merasa depresyy di hari minggu itu.

Hal-hal semacam perasaan bersalah karena mengacau atau membuat kesalahan di hari sebelumnya juga mempengaruhi tingkat ke-emo-an diri kita.

Nggak ngapa-ngapain di hari minggu ternyata juga bisa bikin kita depresi, lho. Kalau kita kerja kan otak bisa sibuk memikirkan banyak hal, sementara ketika cuman gular goler aja, otak nggak melakukan apa-apa jadinya suka tiba-tiba aja mengingat kembali kebodohan di masa lalu. Atau yang lebih seram sih, malah otak nggak mikirin apa-apa jadinya kita merasa kosong dan hampa (ini yang saya maksud seperti kehilangan tujuan hidup).

Hal terakhir yang bisa bikin kita emo dan drama update status kesedihan adalaaaaaaah kurangnya interaksi sosial. Hari minggu terasa kelabu karena kita merasakan puncak kesepian. Dan di saat kesepian kayak gitu, kita sangat mendambakan interaksi sosial tapi ketika melihat kenyataan kalau kita sendirian, kita akhirnya merasa lebih sedih dari biasanya deh. Ini nih yang kadang bikin mikir kalau punya pacar itu ternyata penting ya hhe hhe.

Kira-kira ada nggak sih yang bisa kita lakukan biar hari minggu kita itu nggak kelabu?

Kalau kata para ahli, nggak tahu para ahli siapa yang penting para ahli aja dulu lah. Kita disarankan untuk belajar mindfulness. Menikmati apa yang terjadi saat ini dengan tidak memikirkan masa lalu, atau khawatir tentang masa depan.

Katanya, ketika rasa panik dan ketakutan menyerang, cobalah fokus dengan apa yang terjadi saat itu. Lihat sekeliling, bernafas, dan sadari kalau hal jelek yang muncul dalam pikiran kita itu, belum dan nggak akan terjadi.

Kedua, cobalah menghabiskan hari minggumu melakukan sesuatu yang kamu suka. Membaca, melukis, masak, atau pergi piknik ke suatu tempat yang membuat kamu bahagia. Pokoknya jangan gabut biar otaknya nggak mikir kemana-mana hhe hhe.

Ps: tolong seseorang aja saya piknik ke luar ngaglik hhe hhe.

Terakhir, kita harus sering-sering memberikan kata-kata baik kepada diri kita seperti “ya hari senin memang melelahkan tapi kamu sudah sering melewatinya”. Lalu, ingat bagian-bagian menyenangkan yang bikin kita semangat melanjutkan kehidupan seperti “Oh manga one piece bakal update lagi nanti”.