Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Dukun Beranak Lebih Dipilih Ibu Hamil Ketimbang Bidan?

Mega S Haruna oleh Mega S Haruna
26 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dukun beranak kadang lebih dipilih untuk menangani persalinan dibandingkan bidan bagi ibu hamil. Alasannya sederhana: kepercayaan udah terbangun.

Saya punya teman yang bekerja sebagai bidan desa. Suatu ketika, ia bercerita tentang masalah di wilayah kerjanya.

“Bagaimana ya, Me. Di sini itu ibu-ibunya lebih suka ngelahirin di rumah. Udah banyak cara dibujuk biar mau lahiran di Puskesmas, tapi tetep aja nggak mau. Sampai bingung harus gimana.”

“Emangnya kenapa lebih suka di rumah?”

“Mereka bilang, kalau sama dukun bayi, habis lahiran bisa langsung baring-baring nyantai.”

“Lha, memangnya, kalau di Puskesmas nggak bisa gitu?”

“Makanya itu. Padahal di Puskesmas, mereka juga dilayani kok. Mau baring-baring atau gimana, terserah. Nggak kalah nyaman lah sama dukun beranak.”

“Hm, karena di Puskesmas bayar kali?”

“Eh, gratis.”

“Kenapa kalian nggak bermitra sama dukun beranak aja?”

“Lah, itu malah program dari zaman dulu, Me. Kami udah jadi sejoli kalau sama dukun.”

“Sosialisasi atau pendekatan ekstra ke ibu hamil sebelum lahiran juga udah?”

“Udah. Pedoman juga udah kami jalankan, mobil siaga sampai rumah singgah juga selalu siap.”

Obrolan saya dengan teman saya tersebut, cukup bikin saya kepikiran. Semalaman saya betul-betul berpikir, kenapa banyak ibu-ibu lebih suka ditangani sama dukun beranak ketimbang tenaga kesehatan?

Iklan

Sebetulnya ini permasalahan klasik yang belum tuntas diselesaikan di beberapa daerah terpencil. Dulu sih, karena melahirkan dengan menggunakan fasilitas kesehatan, mesti bayar. Belum lagi biaya rawat inapnya. Tapi kan, sekarang ada program pemerintah yang bisa menggratiskan biaya persalinan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan.

Pasalnya, dulu kematian ibu-ibu hamil atau bersalin sering kali disebabkan karena keterlambatan penanganan medis. Biasanya, mereka baru datang ke fasilitas kesehatan, kalau sudah pendarahan hebat. Atau kejang-kejangnya sudah sampai gigit lidah. Jadinya, bidan sering nerima kejutan dengan pasien kayak gitu.

Bersalin tanpa menggunakan fasilitas kesehatan yang mumpuni, itu sama saja mengambil risiko untuk ibu dan bayinya. Bahkan sekalipun ibu hamil dalam keadaan sehat walafiat.

Sayangnya, kejadian tidak mengenakkan sering kali terjadi begitu saja dan ketahuan baru saat menjelang lahiran.

Jangankan di rumah, di fasilitas kesehatan saja, juga uring-uringan kalau tiba-tiba pasien pendaharahan setelah melahirkan dan butuh darah. Atau tekanan darahnya naik drastis tanpa bisa dicegah.

Nah, kalau dekat dengan fasilitas kesehatan kan minimal asupan cairan melalui intravena dan obat-obatan tertentu bisa segera diberikan. Kondisi tersebut juga bisa tertangani, setidaknya bisa mencegah akibat terburuk yang bisa saja terjadi.

Bayangkan saja jika kondisi yang tidak diinginkan itu terjadi. Yang mau infus, siapa? Yang ngasih obat, siapa?

Belum lagi kalau ternyata bayinya asfiksia—sulit atau tidak bernafas. Nah, terus, yang mau melaksanakan penanganan bayi gawat darurat mulai dari pembersihan jalan napas sampai pemberian oksigen dengan alat-alat, siapa coba?

Ya harus diakui, masih ada ibu hamil yang agak malas memeriksakan kehamilan rutin ke puskesmas terdekat. Terutama kalau infrastruktur di daerahnya belum di bangun.

Kalau di daerah perkotaan mah nggak usah ditanya lagi. Kadang ibu-ibu hamilnya malah udah dalam tahap mengejar gengsi perihal dokter obgyn siapa yang paling hebat dan—kalau perlu—yang paling mahal untuk lahiran nanti.

Maka jadi pemandangan yang bisa dimengerti kalau masih ada ibu-ibu hamil yang lebih memilih dukun ketimbang bidan—terutama—di pedesaan.

Selain soal akses menuju tempat penanganan medis, dukun beranak juga punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh bidan. Tentu kita tidak perlu bicara soal pendidikan dan pengalaman membantu persalinan. Kedua profesi ini punya keunggulan masing-masing. Lagian, membandingkan keduanya cuma dari sudut pendidikan bidan rasanya juga tak cukup adil.

Pertama, dukun beranak biasanya lebih jago soal pendekatan psikologis. Dimulai sejak ibu hamil pertama kali, di mana mereka sangat membutuhkan petunjuk, dan arahan dari orang-orang yang lebih berpengalaman.

Begini. Saat kehamilan pertama, dukun beranak bakal mendampingi dan memberi petunjuk perihal apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Juga tentang pamali-pamali yang tidak masuk akal. Biasanya, karena faktor kedeketan ini ibu hamil bakal rela dan senang hati menjalankannya.

Akhirnya, secara psikologis, ibu-ibu hamil merasa lebih rileks, dan hal tersebut sangat baik untuk pengelolaan stres serta keadaan janin.

Sebetulnya sih yang beginian nyaris sama kayak bidan. Bidan juga kasih petunjuk buat ngejaga kesehatan ibu dan janin. Hanya saja, perbedaannya terletak pada cara mengintervensi. Bidan cenderung memerintah, bukan membujuk.

Hal ini sebenarnya juga bisa dilihat cukup berbeda di akhir tujuan membantu persalinan. Jika dukun beranak berharap si ibu dan anak selamat dengan bahagia. Ya karena dengan begitu diharapkan si ibu bakal jadi pelanggan, lalu informasi soal kepiawaian si dukun disebar pakai teknik promosi getok tular.

Sedangkan bidan, tujuannya ya cuma satu: ibu dan anak selamat, laporan program selesai.

Kalau kena nama baik kan juga institusinya, sangat jarang kok yang bakal diingat nama bidannya. Hal itu lah yang jadi sebab beberapa Puskesmas mengajak dukun beranak bermitra. Ya karena memanfaatkan ketelatennya itu.

Kedua, dukun beranak sangat mahir melibatkan peran suami dalam proses kehamilan sampai persalinan. Sadar atau tidak sadar, suami sangat berperan dalam pola pengasuhan ibu hamil sampai persalinan. Soalnya pengambil keputusan mengenai siapa dan dilahirkan di mana, biasanya ada di tangan si suami.

Apalagi kebanyakan perempuan masih nurut sama aturan moral klasik kalau di desa. Mereka harus ngikut keputusan si suami. Situasi ini, yang jarang diamati tenaga kesehatan. Padahal kan tidak jarang si suami nggak sesigap kayak di iklan layanan masyarakat suami siaga.

Beberapa hari kemudian, saya ketemu lagi saya teman saya tadi. “Di daerah sana, udah ada sosialisasi persalinan untuk suami belum?”

“Duh, gimana, ya? Kami sih biasa undang mereka juga. Tapi, masalahnya mereka biasanya jarang datang. Beneran deh, susah betul ajak suaminya ikut datang ke Puskesmas.”

Ketika bidan kadang kesulitan soal sosialisasi ke suami, di sisi lain dukun beranak justru cukup mahir membujuk suami untuk membereskan segala persoalan dari awal kehamilan sampai kelahiran.

Dukun bilang, jangan bunuh binatang apapun selama istrimu hamil, mereka manut. Dukun menyarankan pakai sarung saja saat istri sedang proses beranak kalau tidak anakmu susah keluar, mereka juga manut tanpa basa-basi.

Dukun bilang ke sana, si suami nurut. Dukun bilang ke sini lagi, si suami langsung balikan badan. Inilah kemampuan dukun beranak yang jarang dimiliki bidan.

Hm, tapi bisa jadi ini persoalaan reputasi sih. Dukun beranak kan dipercaya gitu karena udah menjalani profesi ini berpuluh-puluh tahun. Kepercayaan masyarakat udah sampai pada taraf takzim, makanya lebih gampang mengarahkan ibu hamil beserta anggota keluarganya yang lain.

Ketiga, kalau ada yang mau tandingi dukun beranak dalam hal kesetiaan mengunjungi ibu nifas di rumah. Hm, saya bakal menaruh hormat, deh.

Bidan mana coba, yang mau merawat bayi dan ibu setelah melahirkan selama 40 hari berturut-turut tanpa digaji?

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2019 oleh

Tags: bidandukun beranakibu hamilkehamilanpamaliPersalinansuami
Mega S Haruna

Mega S Haruna

Artikel Terkait

bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO
Ragam

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

6 Januari 2026
Ngerinya malpraktik pengobatan tradisional dukun bayi/dukun beranak MOJOK.CO
Ragam

Sesal Berobat ke Dukun Bayi ketimbang ke Dokter, Bukannya Sembuh tapi Salah Kaprah hingga Penyakit Jadi Makin Serius dan Ancam Nyawa

4 November 2025
Dokter Obgyn Perempuan Lebih Sedikit bikin Ibu Hamil Parno. MOJOK.CO
Ragam

Sedikitnya Jumlah Dokter Obgyn Perempuan bikin Calon Ibu “Parno”, Lebih-lebih karena Kasus Pelecehan Seksual yang Pernah Terjadi

1 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.