Barangkali kemampuan mahasiswa saat ini untuk berkomunikasi sudah mulai hebat. Ada yang melalui media sosial, ada pula yang harus melalui pesan SMS. Mereka menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman sejawat, orang tua hingga dosen.

Perumpamaan yang terakhir itu akhirnya menjadi sorotan di beberapa kampus, salah satunya UI. Mungkin banyak yang belum tahu kalau satu-satunya kampus yang di dalamnya ada Starbucks itu menerbitkan suatu kebijakan unik, kalau tak mau dibilang aneh.

Peraturan itu adalah etika mahasiswa dalam mengirim pesan melalui telepon genggam ke dosen. Etika tersebut memuat 7 hal. Di antaranya, bagaimana cara mengawali kalimat pembuka, isi, hingga mengakhiri kalimat penutup.

Peraturan tersebut dibuat karena mengingat banyaknya mahasiswa tak tahu sopan santun dalam berkirim pesan kepada dosen. Dan itu tampaknya menjalar tidak hanya di UI. Ada di Bandung, Yogya, Malang, Bali, hingga Polewali Mandar.

Belakangan teman-teman seperguruan saya yang berkarier sebagai dosen juga mulai risih dan mengernyitkan dahi ketika mendapat pesan dari mahasiswa.

“Pak, kira-kira sampai kampus jam berapa? Lalu pulang dari kampus jam berapa?”

Saya, yang diberi tahu dan ditunjukkan pesan seperti itu hanya tersenyum. Kenapa? Zaman saya dulu, senakal-nakalnya mahasiswa, jika disuruh kirim pesan ke dosen, tak ada yang berani melakukannya.

Mau mengirim pesan pun harus revisi berulang kali. Bahkan revisi mengirim pesan ke dosen lebih banyak daripada revisi skripsi. Ini serius. Teman-teman saya sampai harus berkonsultasi ke teman sejawat atau bahkan, yang lebih mengerikan, bertanya kepada ahli cenayang kapan waktu yang tepat untuk berkirim pesan. Banyak teman saya yang melakukannya lo~

Rasanya mengirim pesan ke mereka adalah sesuatu yang mistis. Bener. Pada waktu itu, lebih baik kami menunggu dari pagi sampai sore untuk menanti kehadiran mereka. Walaupun tentu saja menunggu adalah sesuatu yang melelahkan. Bahkan terkadang saat kita sudah sampai di rumah, justru 5 menit kemudian si dosen datang. KZL kan.

Pernah suatu kali teman saya, dosen di salah satu universitas swasta terbesar di Yogya mendapat pesan macam ini:

“Hari ini Bapak ada di kampus jam berapa?”

“Jam 9 di Gedung C.”

“Aduh, Bapak, saya nggak tahu Gedung C. Tahunya cuma Gedung B.”

“Makanya, coba kamu main ke sini biar tahu kalo kampusmu punya gedung banyak sekali.”

“Lagian juga, Pak, jam 9 saya belum mandi. Baru mandi menjelang zuhur.”

Kamu tahu jawaban teman saya apa?

“Mau bau badanmu bergentayangan hingga menyesaki ruangan, saya nggak peduli. Saya cuma pengin tahu progress skripsi kamu!”

Nah itu baru salah satu dialog dari sekian banyak dialog yang pernah diceritakan kepada saya. Masih banyak dialog remeh-temeh yang jauh lebih lucu dan unik.

Saya memahami perasaan teman saya. Mungkin memang seharusnya ada peraturan macam UI yang betul-betul diberlakukan di seluruh universitas sehingga ada etika yang semestinya diperhatikan. Tapi, masalahnya, seperti apa etika yang baik dan benar?

Ada yang berpendapat hubungan dosen dan mahasiswa harus seperti kakak dan adik. Ada yang berpendapat hubungannya seperti kiai dan santri. Ini menjadi polemik tersendiri bagi generasi milenial.

Seharusnya para mahasiswa itu lebih berpikir bagaimana dan kapan memosisikan dosen sebagai teman belajar atau dosen sebagai orang tua pengganti di kampus. Tapi, mohon maaf, tampaknya mahasiswa jaman now menganggap bahwa mengirim pesan secara resmi tidaklah efisien dan mungkin tertinggal dari budaya Barat.

Sekali lagi budaya Barat diagungkan. Saya tidak menampik budaya Barat memang masyuk secara deras, mulai dari cara berpakaian, bersikap, hingga bertutur kata. Tapi, yang patut diperhatikan adalah Indonesia (masih) menganut budaya Timur yang mana orang lebih tua harus dihormati dan dijunjung sedemikian rupa.

Tak perlu kamu tuliskan Yang Mulia atau Yang Terhormat Bapak/Ibu Dosen karena itu hanya milik anggota DPR semata. Cukuplah menulis salam. Itu sopan. Jauh lebih sopan lagi jika kamu menuliskan kata maaf setelah salam.

Mahasiswa mungkin berkeluh kesah, “Dosen sekarang sikapnya sok-sokan, maunya dihormati terus, sudah begitu susah ditemui pula.” Mungkin itu alasan banyak mahasiswa sering menanyakan, “Kira-kira di kampus sampai jam berapa?”

Kata teman saya, jadi dosen itu susah. Sudah harus menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, masih harus melakukan yang lain-lain. Sudah gaji kecil, eh uang remunerasi juga telat turun (asli ini curhat teman saya yang tak boleh disebutkan identitasnya).

Ditambah lagi tuntutan bahwa harus memberi nilai baik kepada mahasiswa. Kasih nilai C adalah sesuatu yang tabu. Apalagi kalau sampai lupa kasih nilai. Wah, nanti si dosen bisa diingatkan sama mahasiswa melalui pesan berantai.

“Bapak, sudah menjelang tutup tahun, jangan lupa beri NILAI kepada teman-teman mahasiswa.”

Mungkin maksudnya baik, mengingatkan sang dosen. Sayangnya, maksud tak sesuai dengan kenyataan hingga akhirnya menimbulkan masalah sehingga mahasiswa jaman now jadi dianggap sak penake dhewe, mau dapat nilai bagus tanpa perlu belajar secara tulus apalagi harus berperilaku halus.

Generasi telah berganti. Tata krama telah menjadi sesuatu yang abai. Bukan tak mungkin suatu saat tata krama menjadi hilang.

Gitu kok katanya mahasiswa adalah agent of change. Mbelgedes.

Komentar
Baca juga:  Jomblo dan Mamah-Mamah, Harapan Terakhir Indonesia
Kirim Artikel
No more articles