MOJOK.CO – Lebaran merupakan hari di mana kita mengingat seperti apa kita saat dilahirkan, menerima dengan sepenuhnya, lalu ikhlas menerima kekurangan keluarga kita.

Tahun ini saya bersama istri dan anak kami, Abi (Muhammad Ibnu Arabi), berangkat mudik lebaran ke rumah orang tua saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ini pertama kalinya bagi Abi dan istri saya merayakan Idul Fitri di Banjarmasin.

Istri saya berasal dari Sampit, Kalimantan Tengah. Kami berjodoh karena kebetulan bekerja di satu kampus yang sama di Palangka Raya. Kami menikah di Sampit pada 12 Januari 2018. Jadi, Idul Fitri tahun lalu kami rayakan bersama keluarga mertua saya di Sampit, saat Abi masih dalam kandungan. Kini, usia Abi sudah memasuki 7 bulan (lahir pada 25 Oktober 2018).

Sebagai orang tua anyar, tentu saja kami bahagia, karena tahun ini kami bisa berkumpul dengan keluarga besar di Banjarmasin. Musababnya karena tidak setiap tahun, saya dan empat saudara kandung saya dapat merayakan lebaran dengan Mama, seperti umumnya keluarga besar muslim di Indonesia. Maklum, tiga kakak laki-laki saya secara bergiliran harus menjalani tugas belajar tingkat doktoral ke mancanegara (antara 2002-2017).

Pada praktiknya, formasi inti keluarga saya jarang bisa komplet: kami lima bersaudara plus Mama. Tentu saja, jumlah keluarga akan bertambah setiap tahunnya karena masing-masing saudara membawa istri dan anak-anaknya.

Alhamdulillah, tahun ini personilnya bisa lengkap, meski tanpa adanya Abah. Abah meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung tahun 2003 silam. Artinya, sudah 15 kali Idul Fitri kami rayakan tanpa kehadirannya.

Sebagai seorang Nenek, mama saya sekarang sudah memiliki delapan orang cucu: 4 perempuan dan 4 lelaki. Nah, si Abi adalah cucunya yang kedelapan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri dalam keluarga besar dilaksanakan secara sederhana. Pasca menunaikan ibadah sembahyang sunat Idul Fitri di masjid dekat rumah Mama, kami kemudian berkumpul di rumah, saling salam-salaman, bermaaf-maafan sekeluarga, juga dengan para tetangga.

Baca juga:  Cerita tentang Pencuri Sandal di Masjid

Kemudian masuk sesi yang paling ditunggu: pesta makan. Menu khas Banjar yang selalu dihidangkan Mama untuk kami siap disantap: Lapat (sejenis buras) masak sambal habang, dengan lauk itik, ayam, dan telor itik. Juga ada Soto Banjar.

Mama biasanya juga menyajikan es buah sebagai minuman untuk penyegar dahaga. Tamu-tamu silih berganti datang untuk bermaaf-maafan dan tentu saja untuk menyantap hidangan lezat buatan Mama.

Selain itu, di hari Lebaran (entah di hari pertama atau kedua), kami sekeluarga juga berziarah ke makam Abah yang letaknya di luar kota. Di sana kami membaca Surah Yasin sekaligus tahlilan, juga memanjat doa kepada Allah Swt. untuk alm. Abah.

Di pemakaman yang sama, kami juga menyempatkan diri untuk menziarahi dan mendoakan makam Nenek (orang tua dari Mama). Ziarah adalah kegiatan yang sakral dalam tradisi keluarga kami, karena selain alasan spiritualitas, tradisi ini juga berguna untuk melestarikan pengetahuan genealogis kepada anak dan cucu.

Sejak kecil, kami lima bersaudara sudah diperkenalkan oleh orang tua untuk rutin berziarah ke makam-makam keluarga dan rutin bersilaturahim dengan keluarga (baik dari pihak alm. Abah ataupun Mama).

Orang tua kami berasal dari Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Sekira 1980-an, Abah dipindahdinaskan ke Banjarmasin. Sejak itu, kami sekeluarga menetap dan menjadi penduduk ibu kota provinsi Kalimantan Selatan itu.

Namun, Abah dan Mama setiap lebaran akan membawa kami berlima mudik ke Amuntai. Selain mengunjungi sanak-famili, agenda utama ialah menziarahi makam dua kakek kami.

Belakangan, Nenek (orang tua Abah) juga meninggal dunia dan  dimakamkan di Amuntai, setahun setelah Abah tiada. Saya pribadi tidak pernah bertemu dengan kedua kakek karena mereka sudah lama meninggal dunia sebelum saya lahir.

Baca juga:  Bapakku Seorang Modin: Sebuah Profesi, Sederet Cerita

Tak dinyana, Abi pun mengalami hal yang senada dengan. Abi tak bisa bersawala dengan kedua kakeknya karena sudah meninggal dunia (Abah mertua saya wafat empat hari setelah resepsi perkawinan kami di Banjarmasin pada 2018).

Jadi, dengan menziarahi dan mendoakan mereka, keluarga kami secara turun-temurun dapat melestarikan wawasan genetika nan lestari ihwal “apa itu keluarga?”.

Dengan demikian kita dapat memaknai fitrah kita sebagai manusia: mencintai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang kemudian disempitkan melalui wilayah terdekat: keluarga.

Akan tetapi, kegiatan mudik lebaran ke Hulu Sungai ini tidak lagi rutin kami lakukan pasca Abah wafat, karena selain saudara-saudara merantau ke luar negeri untuk sekolah, kiwari kami juga sudah berumah tangga (tinggal adik bungsu yang masih jomblo) dan  merantau. Singkatnya, lokasi berlebaran pun bergeser: dari Amuntai ke Banjarmasin.

Arkian, dalam pengalaman keluarga besar, perayaan Idul Fitri ialah ritual tahunan terpenting, di mana momen kumpul keluarga dan berziarah kubur merupakan kegiatan yang fundamental. Ada memori yang terus terawat dari anggota keluarga yang telah tiada, menjadi legenda yang selalu diceritakan ke mereka yang masih hidup.

Terakhir, saya ingin menggunakan mulut Don Vito Carleone sebagai penutup, “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”

Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Salam untuk keluarga kalian yang selalu menjadikan kalian sebagai manusia seutuhnya.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.



Loading...



No more articles