MOJOK.CO – Kita bisa berbagi ilmu pengetahuan, bisa melatih kesabaran dan merasa bangga, apabila bisa membuahkan perubahan positif kepada para santri.

Siang itu, sekitar pukul 14.20 Wita, seorang lelaki paruh baya menyambangi Malik di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah.

“Assalamualaikum, Ustaz Malik,” sapanya.

Malik pun menjawab, “Waalaikumsalam, Bapak jangan memanggil ulun ‘ustaz’, ulun ini cuma guru biasa. Oh ya, ada apa ya, Pak?”

Bapak itu pun menjelaskan maksud kedatangannya untuk berpamitan pulang kampung ke Pulau Jawa. Dia menghaturkan terima kasih kepada Malik, yang telah menjadi guru mengaji Al-Quran buat puteranya selama beberapa bulan, tanpa memungut bayaran sepeser pun. Bagi Malik, mengajari baca-tulis Al-Quran adalah ibadah semata.

Meski materi dari mata pelajaran tauhid cukup berat, Malik selalu menyampaikannya secara sederhana dan jenaka. Dia dikenal sebagai ustaz yang ramah, tetapi tetap disegani oleh banyak para santri. Metode pembelajaran yang dilakukannya selalu kreatif, aktraktif, bahkan sedikit konyol.

Malik sering menceritakan kisal-kisah lucu, agar anak didiknya merasa terhibur dan dapat membunuh kebosanan dalam belajar. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai sahabat bagi anak didiknya, agar mereka semangat dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Menurut Malik, pada awalnya, mengajar itu dirasakan sebagai rutinitas yang membosankan. Namun, setelah menjalaninya dengan hari riang gembira dan ketulusan, ternyata aktivitas ini sangatlah menyenangkan.

Kita bisa berbagi ilmu pengetahuan, bisa melatih kesabaran dan merasa bangga, apabila bisa membuahkan perubahan positif kepada para santri. Saat mengajar, kita tidak seyogyanya menganggap bahwa santri-santri itu laiknya “ember kosong” yang mesti diisi segala macam hal yang kita kehendaki.

Anggap saja mereka itu sebagai rekan, sahabat. Kita adalah guru yang mengayomi mereka, sebagai pendengar yang baik. Guru itu harus punya seribu wajah, 1000 teknik mengajar, sesuai dengan situasi dan kondisi.

Intinya, seorang ustaz harus berusaha agar pembelajaran terasa asyik, menyenangkan, namun tetap fokus. Di kelas, para santri memiliki karakter yang berbeda-beda. Pengajarlah yang harus bisa meneroka dan memahami masalah ini.

Tentang mendidik santri yang melakukan dengan hukuman fisik (kekerasan), bagi Malik sudah tidak bisa lagi dipakai era digital ini.

“Kalau dulu, zaman aku masih mondok, badan santri itu umumnya besar-besar, dan tabiatnya agak barbar, jadi wajar saja saat itu kami kalau nakal diberi hukuman fisik oleh para ustaz. Tapi sekarang, badan anak santri di Al Falah umumnya kecil-kecil, jadi kasian kalau kita main pukul. Lagipula, kiwari pesantren sudah mulai melek dengan apa itu, semisal Komnas HAM, Polisi, Ombusman, dan lain sebagainya. Selain itu, generasi ustaz-ustazzah Al Falah saat ini,  umumnya telah menikah, jadi secara emosional sudah tak labil lagi,” selorohnya.

Malik sering memberikan pujian kepada murid-muridnya yang dinilai baik dan berprestasi, di bidang apa pun. Jika ada santrinya yang nakal, biasanya dia memberikan hukuman berupa berdiri di depan kelas dan tertawa selama sepuluh menit atau meminta si anak untuk menggambar hal-hal yang aneh di papan tulis.

Baca juga:  Betapa Drastis Rasa Takut Bisa Mengubah Manusia

Rusdian Malik dilahirkan di kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, pada 21 Agustus 1985. Dia merupakan putera dari pasangan H. Basuni dan (alm.) Hj. Ismah. Keduanya memiliki empat orang anak; terdiri atas tiga putra dan seorang puteri.

Rusdian Malik merupakan anak bungsu. Kakak sulung Malik, Saidil Mursalin, kini bekerja sebagai seorang guru sekolah di HSS. Kakak keduanya, bernama Nurhiliyati, seorang ibu rumah tangga. Ia kini menetap di HSS. Kakak ketiganya, seorang perawat di sebuah puskesmas di HSS. Namanya Ahmad Rabbani.

Malik kecil telah familiar dengan ilmu-ilmu Islam, karena diajarkan secara rutin oleh kedua orang tuanya. Keluarganya memang sangat religius. Ayahnya, H. Basuni—pensiunan guru pegawai negeri sipil (PNS) dari sebuah madrasah—aktif sebagai imam di langgar (musala) di dekat rumahnya dan dipercaya menjadi khatib di beberapa masjid di Kandangan.

Hj. Ismah, ibundanya Malik, sehari-hari mengajar baca-tulis Al-Quran sekaligus menjadi pengelola sebuah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bernama Darrul Muttaqien. Hj. Ismah juga sering mengadakan pengajian untuk wanita-wanita lanjut usia (lansia) yang belum fasih mengaji Al-Quran. Hj. Ismah dibantu oleh puterinya Nurhiliyati dalam mengelola TPA itu.

Titimangsa 1991, Malik mulai bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bakarung Tengah, Kandangan yang lokasinya berdekatan dengan rumahnya dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Dia termasuk anak yang cerdas dan sering kali mendapat juara kelas. Pasca lulus dari SDN Bakarung Tengah pada 1997, Malik memilih Ponpes Al Falah Putera di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan sebagai tujuan menuntut ilmu berikutnya.

Dia memilih sendiri untuk tinggal di lingkungan santri tanpa ada paksaan dari orang tuanya, meski ibunya merasa sedih dan tak tega membiarkan anak bungsunya ini hidup jauh dari dari desanya dan menetap di lingkungan baru. Di pesantren ini, Malik melanjutkan sekolah tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Setelah tamat dari Ponpes Al Falah pada 2004, Malik yang notabene santri yang brilian, sebenarnya disarankan oleh oleh guru-gurunya, untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi Islam di Mesir. Namun, bak jauh panggang dari api, karena ketiadaan beasiswa untuknya dan orang tuanya juga merasa tidak mampu membiayai, maka Malik pun mengurungkan niatnya.

Dia kemudian berkuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darussalam, Martapura, Jurusan Tafsir Hadist, Fakultas Ushuluddin, pada 2005. Namun, menginjak semester ketiga, Malik memilih untuk pindah kuliah ke jurusan Pendidikan Agama Islam di STAI Al Falah, Banjarbaru pada 2008 yang masih satu yayasan dengan Ponpes Al Falah. Kampus ini berlokasi di depan Ponpes Al Falah Puteri, Landasan Ulin.

“Selama aku kuliah di STAI Darussalam, di setiap semester, ada saja teman-teman seangkatan yang berhenti kuliah, entah karena alasan pindah ke daerah lain, menikah, atau transfer ke kampus lainnya, hingga mahasiswa yang tersisa di kelas tinggal aku seorang diri,” kenang Malik. Melihat kondisi belajar yang semakin tidak kondusif, dia memilih hengkang dari STAI Darussalam.

Baca juga:  Ketika Iman Islam dan Sains Bertemu

Tak dinyana, keputusan Malik itu berbuah manis. Pada 2011, dia berhasil lulus sarjana pendidikan Islam dan diwisuda sebagai lulusan terbaik berpredikat cum laude.  H. Basuni dan Hj. Ismah yang menghadiri acara wisuda putranya ini begitu bangga, terharu, dan bersyukur.

Malik memiliki hobi membaca: buku-buku studi Islam, humaniora, sosial, politik, komik, cerita silat (cersil), roman picisan, dan sebagainya. Hal ihwal ini telah menjadi kebiasaannya di waktu senggang, sejak remaja.

Dia dengan hausnya memamah karya banyak penulis seperti: Karl Marx, Paulo Freire, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Emha Ainun Najib (Cak Nun), Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Majid (Cak Nur), Quraisy Shihab, A. Syafii Maarif, Jalaluddin Rahmat (Kang Jalal), Nur Khalid Ridwan, Mujiburrahman, Nadirsyah Hosen (Gus Nadir), Muhammad Sobary (Kang Sobary), Bastian Tito, Asmaraman S., Abdullah Harahap, dan Fredy S.

Selain gemar membaca, dia juga gemar nonton film kartun dan utamanya main facebook-an. Sejak masih nyantri tempo dulu, Malik suka sekali membaca dan meminjam buku ke perpustakaan atau ke taman bacaan. Malik juga penggemar berat tokoh Sun Go Kong dan Naruto.

“Aku tak baca buku-buku karangan Yusuf Mansyur, Arifin Ilham, apalagi Felix Siaw dan Jonru. Fiksi-fiksi dari Forum Lingkar Pena (FLP) juga tak kubaca. Rasa nggak cocok aja di hati.”

Malik sehari-harinya bekerja sebagai ustaz (guru agama) di Pondok Pesantren Al Falah Putra, Landasan Ulin, Banjarbaru. Dia merupakan alumni dari ponpes itu. Pekerjaan sebagai pendidik di pesantren, khususnya mata pelajaran tauhid, tingkat tahzizi, telah digelutinya sejak 2003. Malik sekarang telah menikah. Isterinya bernama Annisa. Kerap disapa Ocha. Pasangan suami-isteri (pasutri) ini memiliki dua orang anak.

Kehidupan Malik sangatlah sederhana. Dia tidak ingin hidup berlebih-lebihan dalam hal materi. Malik menikahi Ocha pada 21 Ramadhan 1432 H lalu di Teluk Masjid, kota Kandangan. Mereka berdua diperkenalkan melalui proses ta’aruf oleh kedua orang tua, hingga kemudian naik ke pelaminan.

Ustaz Malik dan keluarga kecilnya kini menetap di Gang Taufik No. 21, Landasan Ulin, Banjarbaru. Karena jarak antara rumah dengan Al Falah tak terlalu jauh, biasanya Malik berangkat mengajar dengan mengendarai motor, dan sesekali bersepeda.

Arkian, prinsip hidup Malik adalah sampaikanlah apa-apa yang benar, meskipun tidak sesuai dengan pendapat kebanyakan orang lain. Seseorang bisa sukses, karena ia tidak membiarkan dirinya terintimidasi oleh cara bernalar yang konservatif, seperti katak dalam tempurung.

Orang harus berani menyampaikan apa yang mereka yakini kebenarannya, sekalipun opini itu tidak populer bagi khalayak.

“Kamu tidak akan pernah bisa memafhumi seseorang hingga kamu melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, sampai kamu menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya,” pungkas Malik.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.



Loading...



No more articles