• 13
    Shares

MOJOK.CO Tak perlulah kita perlakukan hoaks macam komunis sampai ada Hari Antihoaks segala. Benahi saja rasa malas kita dalam melakukan verifikasi data!

Layaknya sinetron kejar tayang, sepertinya drama hoaks Mami Ratna Sarumpaet juga sedang mengalami babak baru: babak kopet, alias sisa-sisaan yang tidak signifikan. Misalkan, Farhat Abbas melaporkan para penyebar berita hoaks penganiayaan, termasuk duet kembar intelektual Fahri-Fadli yang justru mengaku sebagai korban hoaks itu sendiri. Padahal, menjadi korban dan penyebar hoaks adalah dua hal yang bisa terjadi secara bersamaan.

Lalu, pelaporan ini menyisakan kopet lagi: 17 orang yang dilaporkan Farhat Abbas akan melaporkan balik Farhat karena pencemaran nama baik. Aktivitas saling lapor macam pleton upacara ini memang benar-benar kopet.

Ada lagi macam-macam kopet lainnya, seperti: 1) warganet mendadak tertarik menjadi dokter bedah plastik karena Tompi; 2) sobat miskin jadi tahu berapa harga yang dibutuhkan untuk operasi plastik; atau 3) Mahfud MD yang kegagalan pencalonannya sebagai cawapres kembali diungkit akibat drama ini.

Dari seluruh kopet-kopet ini, menurut saya ada satu kopet yang sangat tidak perlu: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendadak masuk ke dalam pusaran drama dengan mengusulkan tanggal 3 Oktober sebagai Hari Antihoaks Nasional. Mulus sekali caranya agar bisa ikutan cast sebagai anti-hero di drama ini!

Lagian, kenapa sih harus dibuat Hari Antihoaks? Saya tahu dampak hoaks kemarin cukup menggegerkan, tapi mengapa harus sampai dibuatin hari khusus???!!!

Begini, cuy. Pertama, saya yakin pemerintah tidak akan menjadikan hari tersebut tanggal merah sehingga tidak ada dampaknya buat saya dan kita semua. Kedua, hoaks tidak sejahat itu loh! Ada banyak manfaat hoaks yang sering kali kita lupakan! Jangan sampai gara-gara politisi terkena dampaknya, lantas hoaks langsung menjadi barang haram! Tolonglah, PPP ndak usah sok ide! Thanx!

Ingat: hoaks adalah korban itu sendiri!

*JENG JENG JEEETTT* (Lia effect versi metal)

Akibat orang-orang bodoh yang malas verifikasi, hoaks dijadikan kambing hitam sebagai sumber masalah. Saya paham, menyebarkan berita bohong adalah dosa. Namun, drama-drama receh penuh kepentingan macam kasus Ratna Sarumpaet membuat kita lupa bahwa berita bohong sudah banyak membantu kita tumbuh sebagai manusia.

Baca juga:  Ini Kronologi “Penganiayaan” Ratna Sarumpaet Menurut Hasil Penyelidikan Kepolisian

Artinya, hoaks tidak jahat bila digunakan dengan pendekatan tertentu.

Saya ambil contoh larangan memakai baju hijau di Pantai Parangtritis.

Pelarangan ini tentu sudah diketahui hampir semua orang. Katanya sih, Nyi Roro Kidul menggunakan pakaian warna hijau dan menyukai yang hijau-hijau. Kepercayaan ini melandasi konsep bahwa pengguna pakaian hijau bisa raib seketika apabila mengunjungi Pantai Parangtritis.

Nah, menurut badan pengelola pantai, ini hoaks!

Ternyata, pengunjung pantai tidak disarankan menggunakan pakaian hijau karena pakaian ini membaur dengan air pantai yang berwarna sama. Pembauran ini akan menyulitkan para penjaga pantai dalam memantau pengunjung yang berenang, atau menyulitkan tim evakuasi dalam mencari korban yang tenggelam.

(Kalau Nyi Roro Kidul dan kolega sedang baca artikel ini, tolong pahami bahwa saya hanya mengutip ucapan pengelola. Nyuwun ngapunten ingkang kalepatan nipun.)

Sekarang, mari kita pindah tempat ke Candi Borobudur.

Setelah sempat berbincang dengan tim pengelola candi (inilah alasan kenapa saya hobinya ngobrol sama pengelola tempat wisata, sih), saya tahu sekarang bahwa Candi Borobudur bisa dibilang adalah penyebar hoaks terbaik (Maaf ya, Bu Ratna). Beberapa berita bohong nyatanya sengaja disebarkan demi kemaslahatan candi.

Pasti Anda pernah mendengar mitos apabila Anda memasukkan tangan ke dalam stupa dan berhasil menyentuh arca di dalamnya, maka permohonan Anda akan terkabul, kan? Nah, kita, manusia lemah penuh harap akan keajaiban mistis instan tentu berbondong-bondong mencoba membuktikkannya.

Tapi, sebelum merogoh stupa, pengunjung diharapkan untuk memasukkan sejumlah uang ke dalam stupa untuk “melancarkan”—mengutip kata Bang Rhoma Irama ketika mendengar suara Danilla Riyadi—kekuatan makhiisss-nya. Usut punya usut, cerita ini adalah buatan dari petugas candi zaman dahulu yang ingin mendapatkan pendapatan lebih mengingat gaji mereka yang sangat minim.

Adalagi cerita yang menyebutkan barangsiapa berkunjung ke Candi Borobudur berdua dengan kekasihnya, maka hubungannya tidak akan sampai pelaminan. Lagi-lagi, kita sebagai manusia lemah budak cinta akan was-was dan sebisa mungkin menghindari pergi ke Borobudur berduaan saja. Padahal, ternyata hoaks ini sengaja disebar karena dulu Borobudur seringkali dijadikan tempat mesum oleh pasangan muda-mudi penuh birahi, terutama di pojok-pojok yang tidak terlihat pengawas. Alhasil, berita bohong disebarkan secara masif sebagai langkah pencegahan.

Baca juga:  Selain Incar Jabatan Ketua MPR, PPP Juga Targetkan Dapat Jatah Dua Menteri

Namun, hoaks tersebut sudah tidak terlalu ditanamkan kepada pengunjung sebab kini hampir di setiap sudut candi sudah dipasangi kamera pengawas. Jadi, pengunjung yang berniat mesum di candi kini sudah bisa meminta rekamannya di kantor pengelola candi sebagai kenang-kenangan. Hehe.

Sekain itu, pengelola candi juga sering kali mengimbau pengunjung untuk tidak menggunakan sepatu ber-hak tinggi dengan alasan penuh perhatian: nanti kaki kamu sakit. Padahal, sepatu hak tinggi sejatinya mempunyai peluang menghancurkan batu candi lebih besar dibanding sepatu lainnya.

Tuh, jangan kegeeran dulu.

Di samping hoaks konsumsi masyarakat tersebut, kita juga sering kali mendapatkan hoaks-hoaks bermanfaat dari orang tua semasa kecil demi keselamatan atau pun kesehatan diri kita, seperti: “jangan keluar saat petang karena nanti diculik genderuwo” sampai “jangan makan sambil tidur nanti bisa berubah menjadi ular”. Hayo, warganet pasti pernah, dong, dibohongi orang tuanya untuk kepentingan baik? Cerita, ya, di kolom komentar! *ala-ala selebgram*

Kesimpulannya, tak perlulah kita perlakukan hoaks macam komunis dan kapitalis sampai ada anti-antinya segala. Benahi saja rasa malas kita dalam melakukan verifikasi data dan tidak latah menyebarkan berita, apalagi lewat konferensi pers. Tidak perlu juga pengadaan pengingat dengan hari khusus. Berkaca dari kasus Bu Ratna, warga negara Indonesia saat ini sudah cukup selo untuk membongkar berita-berita hoaks dengan data-data yang mengagumkan.

Lagian, kalau bicara soal pengaruh buruk hoaks Bu Ratna kemarin, ada satu pihak, loh, yang merasa sangat tertolong dan pastinya berutang budi kepada hoaks ini karena hampir semua warganet langsung fokus membongkar kasus yang menyebabkan spotlight yang tadinya mengarah padanya langsung pindah ke Bu Ratna dan kolega.

Saya, sih, mau saja menjelaskannya, tapi saya rasa itu bukan hak saya untuk menjelaskan. Bukan begitu, Bang Edy?

  • 13
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles