• 70
    Shares

MOJOK.CO – Jika kamu jadi pejabat nanti, tak perlu takut menghadapi wartawan. Apalagi takut konyol seperti Edy Rahmayadi. Tenang, nih ada tipsnya~

Menjadi tokoh publik itu tidak mudah. Hanya untuk menjaga wibawa saat tampil di depan masyarakat saja susah, apalagi ketika digempur pertanyaan wartawan yang seringnya bikin kesel. Tenang saja, saya punya tips dan trik khusus untuk ngeles dari pertanyaan-pertanyaan wartawan yang ngadzubillah sulit dijawab. Tentu saja, tanpa terlihat bodoh dan konyol.

Silakan disimak, siapa tahu suatu saat nanti ketika kita menjadi penjabat, tidak jadi kocak seperti pejabat multitalenta yang sedang viral itu. Sebut saja namanya Edy Rahmayadi.

Sebelum mulai, harus kita pahami dulu bahwa SOP seorang wartawan adalah menggali informasi dan mengolahnya menjadi sebuah berita yang kredibel serta layak dipublikasikan. Dalam prosesnya, menggali informasi mau tak mau melibatkan kalimat-kalimat pertanyaan. Maka, mempertanyakan hak wartawan untuk bertanya seperti yang dilakukan Edy Rahmayadi itu, sama konyolnya dengan mempertanyakan hak penjaga warteg yang nanya, “Mau minum es teh apa es jeruk, Mas?”.

Tidak dapat dipungkiri, terkadang pertanyaan wartawan memang nakal dan memancing-mancing emosi. Tapi sebagai calon pejabat, kita mesti tenang. Santai saja menghadapi wartawan sambil cari cara ngeles yang elegan tanpa terlihat bodoh. Dalam teknik wawancara, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dipraktikkan demi ngeles yang elok.

Cara pertama dan paling dasar adalah dengan mencari tahu topik wawancara, media, dan wartawannya. Percayalah, mengetahui tiga hal ini adalah hal penting agar selamat menghadapi gempuran pertanyaan.

Cari tahu dulu topiknya. Jika sudah tahu topiknya seputar sepak bola, ya cari data sepak bola yang kira-kira relevan dengan yang akan ditanyakan. Jangan cari data perbandingan jumlah pemain bola untuk menjawab alasan keberingasan suporter bola. Nggak nyambung babar blas! Kalau sulit dan gaptek, pakai teknologi mesin pencari. Oh ya, jangan ragu minta tolong timses atau staf ahli. Percuma bayar mereka mahal-mahal kalau ujung-ujungnya kita mikir semuanya sendiri.

Selain itu, jangan lupa cari tahu rekam jejak media dan wartawannya. Ini sangat penting. Pasalnya, beda media dan wartawan akan beda juga cara bertanyanya. Ngoceh di media oposisi jelas lebih berisiko dikerjain daripada di media pendukung. Kalau tak cukup nyali, tolak saja, daripada nantinya jadi bulan-bulanan dan mejeng berhari-hari di fanpage meme. Memalukan.

Selanjutnya, mengetahui rekam jejak wartawan yang akan mewawancarai. Apalagi jika wawancara tersebut akan disiarkan langsung. Wartawan sekelas Aiman Witjaksono, Rosianna Silalahi, atau Najwa Shihab sudah dikenal dengan deretan pertanyaan mereka yang sadis. Jadi, jika sudah tahu akan diundang oleh wartawan ‘serem’ sekelas mereka, dan ternyata kita nggak berani ambil risiko, ya tolak saja. Ini lebih baik daripada dipermalukan di hadapan jutaan penonton. Jangan malu menolak, korban wartawan-wartawan ini sudah banyak. Kebanyakan yang gagal juga sukses jadi bahan tertawaan. Jangan sampai kita masuk daftar itu. Ini sangat berbahaya untuk elektabilitas.

Baca juga:  Johar Lin Eng, Tersangka Pengaturan Skor: Sehat “Jasmani”, Sakit “Rohani”?

Cara ngelesnya? Bilang saja bahwa kita tidak ada waktu, karena sedang ada rapat penting untuk membahas permasalahan yang butuh segera dikasih solusi. Jangan lupa berbasa-basi dengan janji bersedia diwawancara bila ada kesempatan. Tentu saja, tidak perlu beri kepastian waktu, supaya kita tidak bisa ditagih. Lip service ini akan membantu upaya kabur dari wawancara terlihat elegan karena kesannya kita sedang serius membenahi negeri.

Tips yang kedua adalah dengan frasa sakti, “No comment”. Saya berani menjamin wartawan yang pertanyaannya dijawab dengan frasa ini langsung mak clakep terdiam. Ibarat nembak calon pacar, jawaban ini sama nyeseknya seperti dijawab singkat, “nggak!” setelah menulis puisi panjang demi menyatakan rasa.

Tidak perlu ragu menolak menjawab. Dalam dunia jurnalistik, menolak untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan wartawan itu menjadi hak narasumber. Jadi sah-sah saja kita menjawab, “No comment” atau “Saya tidak mau berkomentar”. Palingan setelah itu sang wartawan akan memancing pertanyaan dengan kalimat yang berbeda.

Kalau belum sreg dengan pertanyaannya, jawab saja lagi, “No comment!” Begitu saja seterusnya sampai wartawannya bosan dan mengganti topik pertanyaan. Jangan lupa sampaikan frasa ini dengan wajah penuh percaya diri. Untuk apa? Supaya masyarakat merasa seakan-akan kita bisa dan tahu jawabannya, namun demi stabilitas negara kita memilih diam. Bijaksana sekali, bukan?

Strategi ogah menjawab ini ampuh bila kita perlu menghindari keseleo lidah yang bisa bikin urusan makin runyam. Atau menjawab pertanyaan yang tidak kita pahami dan mengerti jawabannya. Bayangkan saja apa jadinya kalau kita yang nggak mudeng apa-apa, tiba-tiba harus ngarang bebas dan memberi komentar masalah yang tidak kita kuasai. Bisa makin bubar image cerdas nan tegas yang sudah susah payah kita bangun.

Kalau diingat-ingat, ada tokoh publik yang sempat terkenal dengan frasa, “No comment”, Desy Ratnasari namanya. Saking seringnya Mbak Desy memberikan jawaban tersebut, gelar tidak resmi Miss No Comment sempat melekat padanya. Namun, toh Mbak Desy masih eksis di dunia politik. Bahkan saat ini menjadi juru bicara salah satu pasangan calon presiden. Itu membuktikan kecerdasan Mbak Desy dalam menghindari pertanyaan berbahaya yang dapat menciderai karier politik dan sosok yang didukungnya.

Walau praktis sekali untuk digunakan, namun menjawab dengan cara ini bukan tanpa risiko. Efek samping terberat dari jawaban ini adalah membuat kita terkesan ketus dan judes. Itu juga yang sempat melekat pada image Desy Ratnasari. Untung saja wajah beliau enak dipandang, jadi judes sedikit masih dapat dimaklumi. Kekurangan lainnya, jawaban ini akan efektif jika digunakan untuk menjawab pertanyaan yang rumit.  Kalau level pertanyaannya sesederhana pertanyaan Aiman yang bikin Pak Edy Rahmayadi muntab, menjawab dengan cara ini justru akan mencoreng kredibilitas kita sebagai narasumber.

Baca juga:  Wawancara Ahok di Hari Toilet Internasional

Cara ketiga dapat digunakan jika tidak sreg untuk menolak menjawab. Namun, hal ini memerlukan sedikit keahlian bersilat lidah, yakni dengan memberikan jawaban-jawaban normatif. Jawaban ini menebarkan optimisme dan kepercayaan, walau sebenarnya ya gitu, omong kosong.

Jangan salah, walau jawaban ini cuma manis di telinga, namun bermodal jawaban gombal ini saja, sudah terbukti banyak pejabat kita yang sukses. Bahkan sering nampang di layar kaca. Nggak usah saya sebutlah namanya, saya malas kalau nanti dicap cebong atau kampret. Wong di kedua kubu juga ada kok yang model beginian.

Saya kasih contoh konkret deh. Misalnya Bang Aiman bertanya, “Bagaimana cara Anda menjalankan peran sebagai Ketum PSSI dan Gubernur Sumatra Utara?” Maka jika saya Edy Rahmayadi, saya akan ngeles dengan penuh percaya diri dan senyum manis, “Saya tidak sendiri, bersama saya ada orang-orang hebat yang akan membantu untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, jadi saya rasa itu tidak masalah,”

Bagaimana? Keren kan? Apakah saya berbohong? Tentu tidak. Nyatanya jadi Gubernur kan masih punya wakil, staf ahli, jajaran kepala dinas. Jadi Ketum PSSI juga pasti nggak sendirian mengelola organisasi yang boros anggaran itu. Ditambah jawaban janji untuk bekerja sebaik-baiknya, mantap sudah jawaban normatif mbelgedhes ini. Bukan begitu, Bapak Edy Rahmayadi?

Lalu bagaimana jika dikonfrontasi soal aturan-aturan rangkap jabatan di organisasi induk keolahragaan? Santai saja, pasang senyuman manis lalu kita ngeles lagi, “Tim hukum saya sedang mempelajari aturan ini, kami pasti akan ikut aturan tersebut.”

Mudah toh, Pak Edy Rahmayadi? Bakal terlihat melek hukum, cerdas, tapi juga menebar kesan rendah hati dan tidak sombong. Tipikal calon mantu idaman para calon mertua se-Indonesia. Dijamin jawaban model begini langsung bikin para pendukung fanatik makin kepincut dan oposisi kejang-kejang.

Walau jauh lebih efektif dari tips pertama, kelemahan tips ketiga, ada pada kemampuan pribadi kita untuk ngeles. Pasalnya, kemampuan menjawab normatif ini harus dilatih secara rutin supaya jawabannya tidak begitu-begitu saja. Yang nantinya dapat membuat orang curiga jika selama ini kita cuma obral omongan doang.

Jadi, nggak perlu lagi kita grogi ketika menghadapi wartawan. Bermodal dua trik ini saja kita bisa kok nampak keren tanpa harus pinter-pinter amat. Cukup wangun lah kalau hanya mau nyalon di bursa politik. Ya, rajin-rajin saja berlatih biar semakin terampil ngeles-nya.

Oh iya, jika bisa, tolong sembunyikan tulisan ini dari pejabat publik dan politikus yang lucu-lucu itu, ya. Saya khawatir setelah membaca tips ini, kita tidak lagi mendapat hiburan gratisan di tengah situasi politik yang kian membosankan.