• 2
    Shares

MOJOK.CO – Melawan kemerosotan kualitas jurnalistik di era digital dengan sistem koletif pembaca.

Untuk melawan kemerosotan kualitas jurnalistik dan tulisan jenis lain di era digital, beberapa media online memasang tarif untuk bisa dibaca. Bisnis ini tumbuh dengan bagus karena pada dasarnya kita tidak suka, dan bosan, dengan buih dan kedangkalan.

Tapi, ada cara lain yang bisa dikembangkan. Apakah itu?

Supaya mudah, saya menyebutnya dengan nama: kolektif pembaca. Apa itu dan bagaimana cara bekerjanya? Saya permudah urusan ini dengan contoh saja.

Misalkan ada 100 orang yang bosan dengan semua omong kosong media online. Tidak mau didikte, lalu punya prinsip: “kami akan membaca apa yang penting bagi kami dan layak dibaca”. Mereka, setiap bulan, melakukan iuran dengan batas minimal 100 ribu rupiah dan batas maksimal 1 juta rupiah. Uang yang terkumpul dipakai untuk membiayai apa saja yang ingin mereka baca dan dibagikan ke publik luas.

Mereka kemudian bermusyawarah menentukan tulisan jenis apa, siapa penulisnya, dan berapa bayaran yang layak buat si penulis. Misalkan saja mereka ingin tahu: sebetulnya apa yang terjadi di Tumpang Pitu? Mereka kemudian meminta jurnalis yang hebat untuk meliputnya.

“Ini ada uang 10 juta rupiah. Beri kami liputan tentang Tumpang Pitu yang adil dan tajam. Waktunya maksimal dua minggu. Hak cipta ada pada Anda, tapi tulisan ini akan dibagikan ke publik luas.”

Baca juga:  Lulus S2 Jurusan Filsafat Harus Siap Nganggur karena Dianggap Cuma Bisa Mikir

Dengan cara yang sama, kita sendiri bisa meminta penulis cerita, esais, penyair, komikus, dll, untuk menyajikan karya dan tulisan terbaik mereka, dan dibayar dengan murwat.

Iuran bulanan bisa berubah. Bulan ini bisa saja A menyumbang 100 ribu. Bulan berikutnya, bisa 500 ribu. Berikutnya lagi, bisa 300 ribu. Anggota ‘Kolektif Pembaca’ bisa bertambah.

Tapi, kenapa iuran tertinggi tidak boleh lebih dari 1 juta sebulan? Supaya tidak ada orang yang bisa memonopoli lembaga ini. Semua orang sama kedudukannya. Makin banyak anggota, makin banyak iuran, berarti makin tinggi standar kualitas yang ditentukan, makin banyak pula jenis tulisan, dan bisa meminta tulisan yang makin tinggi tingkat kesulitannya.

Kelak, untuk mempermudah dan membuat jalannya Kolektif Pembaca lebih efisien, ada pembagian kepengurusan. Misal: Dewan Konten, Dewan Aduan dan Etik, Dewan Anggota dan Kerjasama, Dewan Iuran dan Keuangan, dll.

Kemarin, kita disodori apapun yang disediakan orang (baca: produsen konten) untuk dibaca. Hari ini, kita bisa membaca tulisan yang bagus dengan cara membayarnya (untuk diri kita sendiri). Esok, dengan model Kolektif Pembaca seperti ini, kita bisa menentukan apa yang ingin kita baca, kualitasnya seperti apa, lalu kita sebarkan ke publik seluas-luasnya.

Jika Kolektif Pembaca seperti ini makin banyak, akan makin banyak pula ragam tulisan yang berkualitas tersebar ke masyarakat luas. Bahkan, mungkin bukan hanya medium tulisan, tapi juga film, pameran seni rupa, pertunjukan teater, dll. Kenapa tidak? Toh, publik (pembaca, pemirsa, penonton, dll) harus mulai belajar berkuasa: menentukan sendiri apa yang mereka mau.

Baca juga:  Tribun vs Remotivi: Kita Berdiri di Mana?