Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jokowi Gebuk Kuminis, Keciprat Muka Umat

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
28 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika Presiden Jokowi mengeluarkan diksi “gebuk” untuk orang kuminis sepekan sebelum Ramadan, “umat” bersorak. Ini “kemenangan” kesekian umat atas berbagai isu politik nasional setelah memenangkan kepemimpinan Jakarta yang “diridai” Allah Swt.

Menurut evaluasi internal partai pengusung Presiden Jokowi, menggebuk (hantu) kuminis adalah jalan keluar yang jitu setelah 44 kekalahan merebut kepemimpinan daerah dalam kontestasi pilkada serentak 2017. Isu kuminislah yang menjadi biang keladi kekalahan; bukannya karena menghina secara harian konstituen petani dan nelayan, atau karena bikin air mata wong cilik di kampung-kampung kumuh perkotaan asat setelah mereka disingkirkan. Dan ini kode keras untuk pilpres 2019 yang tersisa 600 hari lagi.

Apa pun masalahnya, (hantu) kuminis yang harus digebuk. Itu harus dinyatakan seorang presiden. Presiden yang saat kampanye di Yogyakarta pada 2014 tangannya disentuh oleh para penyintas berusia sepuh sembari menitipkan harapan penyelesaian pelanggaran HAM berat dalam tragedi pembantaian 1965. Bukannya harapan mati dengan tenang yang didapat para pinisepuh itu, yang datang malah gebuk. Oh, Tuhan!

Bagi para nasionalis garis keras, sampar kuminis selalu dilempar ke cakrawala politik bukan untuk benar-benar menghalau bangkitnya kuminis itu. “Umat” yang hatinya berbunga-bunga berkat rentetan kemenangan lewat serial demonstrasi sepanjang 2016—2017 juga tahu sama tahu, kuminis itu hanya hantu; sejenis khayalan-seram-tanpa-bentuknya barisan serdadu tua yang takut pengaruhnya tanggal lebih cepat daripada gigi depan mereka.

Memukul kaum nasionalis yang berzirah “NKRI Harga Mati” dengan menghadirkan sampar kuminis adalah fakta historis. Ini taktik lama yang direproduksi “umat” terus-menerus selama lima puluh kali Ramadan. Orang-orang Presiden Jokowi menjawab taktik itu dengan “gebuk” yang diucapkan secara verbal.

Apalah arti guncangan hati dan tangisan para pinisepuh pencari keadilan atas pembantaian massal dibanding ketakutan akan hilangnya kursi di kepemimpinan nasional 600 hari ke depan.

Pantaskah “umat” bangga? Tunggu dulu!

Menggebuk kuminis bisa punya dua sasaran: kuminis betulan atau kamuflase. Dua kubu ini sebetulnya juga tahu sama tahu, tapi menyembunyikannya. Kalangan nasionalis dengan tentara sebagai pemayungnya punya cap yang melekat abadi pada kata “kuminis” itu: sekelompok durjana yang anti-Pancasila.

Di sinilah soalnya, “umat” yang tawaduk dan konsisten mengerek “kuminis” sebagai dagangan politik harian adalah umat yang di hatinya selalu dibisiki suara gaib: garuda kafir, garuda pancasila kafir, gardala kafir!

Umat yang ngomyang kuminis dan garuda kafir sefasih berzikir di sepertiga malam itu betul-betul dalam ancaman yang pasti. Mereka mungkin terperanjat, tapi apa boleh bikin, sebagian dari mereka sedang diburu dan dirontokkan satu-satu dari “jalan dakwah”.

Memang, menyorong kuminis sebagai senjata pendelegitimasian penghuni istana hari ini memang terlihat nyata hasilnya. Buktinya istana kelabakan. Setelah Ibu Kota lepas dari genggaman, partai penjual Sukarnois mesti melakukan rapat internal yang hasilnya menyimpulkan kuminis adalah kartu mati mereka.

Bagi umat pemundak isu garuda kafir, Ibu Kota adalah kunci. Berhasil merebut Jakarta berarti mudah untuk mengambil daerah-daerah lain. Bahkan Jawa Tengah sekalipun yang menjadi basis partai sang Presiden hanya menunggu waktu. Semua itu bisa terjadi tak lain tak bukan karena sumbangan buah “kuminis”. Buah ini selalu menjadi mainan aktual umat, dan teruji berkali-kali menampakkan hasil yang memuaskan.

Begitu pula bagi nasionalis garis keras, buah busuk kuminis yang pernah terbukti menjadi sampar malahan dipelihara untuk memukul para pemrotes.

Ramadan ini merupakan jeda dari perayaan kesuksesan permainan gasing kuminis oleh umat dan kaum nasionalis berzirah “NKRI Harga Mati”. Dua kaum ini ingin berkuasa di atas buah kuminis.

Iklan

Politbiro PKI yang musnah pada 1965 itu tentu tak menduga sama sekali, pada suatu masa yang panjang mereka sekadar buah pelir simalakama politik Indonesia kiwari di antara dua pejuh karang: kanan dan tengah.

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2017 oleh

Tags: gebukjokowiKomunisKuminispilkadaPilpres 2019PKIUmat
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.