Saya tercekoki sepakbola sejak usia sangat dini. Tapi itu tak membuat saya serta-merta menjadi terlalu aneh di antara teman-teman saya. Tentu saya punya bakat untuk terlihat aneh, namun setidaknya sampai memasuki usia remaja, pandangan heran orang-orang masih tertuju ke orang lain: bapak saya. Lalu Piala Dunia ‘94 mengubah semuanya.

Saya tidak menonton pertandingan di dua hari pertama karena baru saja keluar dari puskesmas setelah kena tipus. Di hari ketiga, masih dengan kepala berat dan lidah pahit karena obat, saya memutuskan “lari” dari rumah, karena merasa tak mungkin melewatkan kembalinya Maradona pada pertandingan Argentina vs Yunani. Dan sejak itu, saya tak melewatkan satu pertandingan pun—kecuali yang memang tidak disiarkan.

Seperti semua anak dengan Piala Dunia pertamanya, saya berakhir dengan menjadi pemuja para bintang: Baggio, Maldini, Batistuta, Stoichkov, Ivanov, Hagi, Kennet Andersson, Brolin. Namun, saya mulai menyimpan obsesi untuk menghapal lebih banyak nama pemain lebih dari sebelum-sebelumnya.

Sepakbola adalah salah satu pendorong besar saya membaca. Ketika fase cerita lewat, yang bersamaan dengan selesainya masa sekolah dasar (dan majalah Kuncung dan Kuncup tak lagi dibaca), sepakbola menjadi daya tarik utama. Itu yang saya cari ketika mampir ke rumah Pak Guru Umar, yang biasa membawa balik Suara Karya dari SD di Tuban tempatnya mengajar. Itu yang saya tekuni saat tepekur berlama-lama di teras rumah Cak Pit, setiap ia pulang membawa Jawa Pos dari tempatnya bekerja sebagai satpam di Tempat Pelelangan Ikan Brondong. Pasti karena itu juga, dua edisi tabloid Kompetisi yang pernah dibelikan Bapak saya simpan rapi seakan benda pusaka, dan saya baca berulang-ulang sampai hapal. Juga selembar koran bekas bertajuk Kompas, dengan gambar beberapa suporter Belanda yang mengenakan rambut dari wortel yang berasal dari Piala Eropa 1992, yang dibawa Bapak saat kepulangannya dari Batam.

Pada saat yang sama, saya juga mulai dijangkiti kebiasaan khas para remaja pemuja di seluruh dunia: menggunting dan menempel. Namun, saya hanya melakukannya dengan cara yang sangat terbatas. Masalah saya, tak seperti kebanyakan remaja yang menjadikan lemari dan dinding kamar sebagai media menempelnya, saya tak punya kamar, terlebih lemari. Yang lebih buruk lagi, saya tak punya apa yang mesti saya gunting dan tempel.

Saya tak ingin menggunting dua edisi tabloid Kompetisi yang saya punya. Mereka terlalu berharga untuk dirajang. Koran-koran hanya ada di tempat di mana biasa saya numpang baca. Saya tak bisa membawanya pulang kecuali dalam kesempatan yang sangat jarang, entah karena saya dengan sengaja mencurinya atau memintanya dengan alasan yang mengada-ada, yang tak ada hubungan dengan apa yang saya lakukan terhadap koran-koran itu kemudian. Maka, seingat saya, saya hanya mendapatkannya dari seorang kerabat yang jadi penjahit. Dan itu pun sangat sedikit.

Di tempat jahitan, ada tumpukan koran bekas, baik untuk dipakai sebagai pola jahit atau untuk kertas pembungkus hasil jahitan. Dari tumpukan koran bekas itu saya bisa numpang baca. Dari sisa-sisa guntingan pola, saya kadang menemukan gambar-gambar pemain sepakbola seukuran foto KTP atau sedikit lebih besar saja dari itu dalam warna hitam putih yang dicetak dengan kualitas yang buruk. Jadi, tak terlalu banyak pilihan. Minusnya lagi, koran-koran bekas di tempat jahitan itu kebanyakan dari media-media yang lebih minor. Bukan hanya berita bolanya lebih sedikit, kebanyakan beritanya dari sepakbola lokal dengan mutu gambar yang buruk. Saya masih ingat beberapa dari gambar yang saya kumpulkan dari situ: Mursyid Effendi, Marzuki Badriawan, Hadi Surento, Gomes de Oliveira, Da Costa, dan beberapa nama lokal lain yang sering diprofilkan koran-koran kecil di Surabaya.

Lalu di mana saya menempelkannya? Bapak punya kotak buku dari papan tripleks setinggi satu meter. Mungkin ada sekitar limapuluhan buku di situ. Di bidang sangat kecil dan sempit di belakang pintu kotak buku, di situlah saya menempelkan gambar-gambar buruk pemain-pemain Liga Indonesia.

Tentu saja itu jauh dari memuaskan. Saya ingin punya gambar Maradona atau Baggio atau Maldini dalam ukuran yang lebih pantas dan warna yang lebih baik. Juga dipajang di tempat yang lebih baik. Koran-koran bekas di tempat jahitan tak akan memberi itu. Juga di desa kecil itu. Maka, ketika saya memutuskan untuk sekolah SMA di Babat, kecamatan paling ramai sekaligus kota terbesar di Lamongan, dan kemudian lulus seleksi, saya membayangkan akan lebih mudah mendapatkannya di sana.

Baca juga:  Kolom: Bonsai

***

Dan benar.

Saya sudah mendapatkannya bahkan di hari pertama saya sampai di Babat. Sebelum masuk ke pesantren, saya menumpang di kamar kos kakak sepupu saya, tak jauh dari Pasar Babat. Rumah itu milik seorang pengusaha wingko babat rumahan, dan dapur produksi wingko bersebelahan dengan kamar yang dihuni sepupu saya. Wingko sangat membutuhkan kertas pembungkus, dan kertas pembungkus yang paling pas untuk wingko seukuran piring adalah kertas bekas dalam ukuran tabloid. Dan tahukah apa yang saya temukan bertumpuk-tumpuk tinggi di sepanjang lorong dari dapur hingga ruang tamu di rumah itu? Ratusan eksemplar tabloid Kompetisi bekas! Saya seperti orang serakah yang dilemparkan ke dalam goa penuh uang emas. Saya begitu kegirangan.

Saya membaca dengan rakus. Semua edisi yang berbeda saya gilir. Namun, entah kenapa, saya hanya colong satu-dua eksemplar, tak lebih banyak dari itu. Mungkin karena kamar kos yang saya huni sekitar tiga bulan di dekat situ tak punya dinding yang bisa ditempeli; mungkin juga karena tak lama kemudian saya pindah ke pesantren, dan membawa terlalu banyak koran bekas hasil curian akan merepotkan. Tapi, dari rumah itu, di kepulangan pertama saya ke kampung, saya membawa satu halaman penuh poster tim Arsenal, dengan wajah Ian Wright, Dennis Bergkamp, dan Tony Adams ada di antaranya—tim buruk yang membuat pelatih Bruce Rioch dipecat di pertengahan musim, dan seorang Prancis ceking berkacamata dan berwajah serius yang baru saja berkarir di Liga Jepang bernama Arsene Wenger didatangkan. Poster tim Arsenal dalam ukuran tabloid itu, dengan dialasi kertas kardus di belakangnya, yang saya tempel dengan rapi dan hati-hati, kemudian menjadi poster sepakbola pertama saya… di dinding ruang tamu.

Namun yang paling berharga bukan itu. Selama tinggal di dekat pasar saya mencari tahu di mana bisa didapatkan tabloid-tabloid bekas itu. Di situlah saya menemukan tabloid sepakbola lain yang ukurannya lebih besar dan gambar posternya lebih seru, dan harganya lebih murah: tabloid GO, yang saat itu belum lama terbit. Saya tidak membelinya seketika itu—saya tak punya uang saku lebih. Tapi, saya merasa bisa melakukan lebih dengan itu, kelak.

Di pesantren, tak ada tabloid Kompetisi bekas, tak juga ada tabloid sepakbola yang lain. Hanya ada koran Republika, yang dilanggan oleh kantor sekretariat pesantren, dan kami mesti bergiliran berdesakan untuk ikut membaca. Dari lembar olahraga Republika, informasi dan perkembangan sepakbola saya dapatkan—selain dari pertandingan Liga Italia di akhir pekan, yang kebanyakan bisa ditonton hanya sampai turun minum, di warung makan dekat pesantren akibat aturan jam malam.

Saya tentu saja tetap tak punya kamar berdinding yang bisa ditempeli guntingan gambar pemain sepakbola idola. Sebab, di petakan 3 x 3 meter itu, saya mesti berjejalan bersama 12 anak lain. Tapi setidaknya saya kini punya lemari pakaian, dan sisi dalam pintunya kosong melompong. Saya menempeli gambar-gambar pemain sepakbola ukuran kecil di sana, tapi jauh lebih bagus dari gambar-gambar kecil dan buram di kotak buku Bapak di rumah. Yang paling bisa saya ingat di antaranya adalah tangan merentang dan muka girang Filippo Inzaghi dalam seragam Atalanta-nya. Juga muka dingin dan muram bek Inter Milan yang tak banyak diingat orang, Salvatore Fresi.

Kenapa ada gambar striker licik yang kemudian bermain untuk Juve dan bek ketengan Inter di dalam lemari seorang Milanisti? Saya tak mengingat apa alasannya. Mungkin waktu itu saya memang masih memakan segala, termasuk anasir-anasir dari klub musuh; yang penting sepakbola. Tapi, boleh jadi, saya memang menyiapkan gambar-gambar hebat sepakbola untuk tempat lain, yang lebih bergengsi dan lebih strategis.

1996 adalah tahun yang aneh untuk tim saya, AC Milan. Mereka mendatangkan George Weah dari PSG dan menjuarai Serie A. Lalu Capello pindah ke Madrid dan Oscar Tabarez yang menggantikannya gagal total, dan itu mengawali dua musim Milan yang medioker, sampai Alberto Zaccheroni datang dan memberikan gelar kembali di musim ‘97-’98. Tepat saat liburan sekolah, saya diharu biru oleh masuknya listrik ke desa dan Euro ’96 Inggris yang seru. Jerman juara dengan gol emas Bierhoff di final, tapi Ceko dan nyaris seluruh pemainnyalah yang paling dipuja, sementara kaos papan catur Kroasia yang mengikuti turnamen besar pertamanya menjadi yang paling dikenang. Namun, headline tetap diambil timnas Indonesia, yang mengalami tahun tak terlupakannya. Gol salto Widodo C. Putra ke gawang Kuwait di Piala Asia 1996 di akhir tahun merebut semua perhatian.

Baca juga:  Kolom: Jendela Depan, Jendela Belakang

Saya mendapatkan foto gol salto Widodo di sebuah edisi tabloid Bola bekas. Juga wajah George Weah dalam seragam AC Milan dengan judul edisi “Wah Wah Weah” yang megah, juga di posisi yang pas, pada sebuah sampul tabloid GO. Bersama seabrek gambar-gambar menyenangkan dari Euro ‘96, dua gambar itulah yang mengerucutkan ide yang sebelumnya saya simpan.

Sementara poster tim Arsenal beralas kardus yang saya tempel di ruang tamu rumah saya temani dengan poster Jari Litmanen dalam seragam Ajax, Marco Simeone dari Milan, dan gambar Del Piero dari Juve yang saya timpa dengan sodokan Batistuta dan seragam Fiorentina produksi Fila yang ikonik itu, saya juga telah menemukan tempat terbaik untuk menempelkan gambar-gambar hebat yang lain. Tidak di dinding kamar, tak juga di balik pintu lemari pakaian. Di sampul buku.

Pada libur semesteran, saya mewujudkannya. Semua buku tulis saya lapisi dengan gambar-gambar para pemain, dengan lem yang rapi dan sampul plastik yang kencang. Ketika beberapa gambar tak mendapat tempat, maka muka buku ajar, termasuk yang dipinjamkan oleh sekolah, saya hajar juga. Maka, di seluruh sekolah, saya kira hanya saya yang punya buku tulis bergambar Matthias Sammer, Robert Jarni, Christian Ziege, Zinedine Zidane, Jiri Nemec, Kim Vilfort, dan tentu saja salto Widodo dan “Wah Wah Weah” itu.

Dan, saya pasti satu-satunya orang di dunia yang punya buku ajar Kimia dengan kulit muka bergambar Ali Daei.

***

Poster-poster dari lembar tabloid di dinding rumah kemudian jadi sampah ketika rumah papan itu dibongkar dan dipugar sebagai rumah tembok di tahun terakhir masa SMA saya. Sisa-sisa tabloid yang saya kumpulkan secara kiloan habis entah untuk apa ketika saya tinggal ke Jogja. Yang bertahan—tampaknya sampai sekarang—hanya buku-buku tulis bergambar pemain bola itu.

Tiga tahun di SMA, dengan tumpukan tabloid sepakbola bekas, selain juga tak pernah absen membaca lembar olahraga Republika, saya kira saya membaca tulisan sepakbola dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu, apakah guna dan signifikansinya itu semua? Selain bahwa itu menyenangkan, dan bisa dipakai untuk mengisi Teka-teki Silang sepakbola buatan teman saya, Darmanto, saya tidak tahu guna yang lain.

Secara praktis, bacaan itu, sebagaimana kebiasaan saya menonton, hanya menambah pengetahuan bola saya, tapi sama sekali tak mendongkrak kemampuan sepakbola saya yang tetap medioker—dan karena itu saya tak pernah dimainkan dalam pertandingan-pertandingan latihan di ekskul sepakbola. Secara psikologis, ia tak juga membantu mengerucutkan cita-cita yang saya belum kunjung punya bahkan hingga lulus SMA, katakanlah dengan menjadi wartawan sepakbola atau wasit atau pengurus PSSI misalnya.

Saya juga ragu, apakah ia punya guna bagi peningkatan selera baca saya. Meski membaca kolom Rob Hughes di Bola selalu menjadi kesenangan tersendiri dibanding semua tulisan, ia juga tak membawa saya ke mana-mana. Sekali-dua saya pernah mencoba memasukkan tulisan ke buletin sekolah, namun kesemuanya tertolak. Selain kekhawatiran gagal lolos ujian masuk PTN dan terjerembab ke LPK menjahit, hal paling berat yang saya pikirkan saat berangkat ke Jogja adalah apakah nanti di Jogja saya bisa nonton Piala Dunia 1998?

Menggunting dan menempel (dan membaca) gambar pemain sepakbola itu hingga waktu yang lama saya anggap sebagai semata kesia-siaan yang menyenangkan. Sampai saya mulai menulis tulisan-tulisan sepakbola saya—bertahun-tahun kemudian.

BACA JUGA Menunggu dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.