Di akhir ‘80-an, di sebuah kampung Pantura Jawa yang terpencil, hari-hari menjelang Puasa akan ditandai oleh suasana kerja bakti. Orang-orang berkumpul di masjid membersihkan yang perlu dibersihkan, memperbaiki yang harus diperbaiki, atau menambah yang kurang; di rumah masing-masing, orang mengapur dinding bambu rumahnya, pagar yang memisahkan halaman dengan jalan, kadang-kadang mendirikan warung dadakan untuk jualan musiman.

Listrik baru akan masuk tujuh-delapan tahun kemudian. Jadi, penanda malam-malam bulan puasa adalah ketika lampu pompa di masjid ditambah. Setengah jam sebelum manjing Isya, ketika tarhim menjelang Tarawih berkumandang dari Masjid Jami’, semua anak segera berhamburan meninggalkan rumah menuju ke masjid, sebagian mendahului orang-orang tuanya. Jalan tentu saja gelap, tapi tak perlu khawatir. Beberapa tahun sebelumnya mungkin orang akan membawa obor yang berbau minyak dan akan bikin kotor baju bersih kami. Orang-orang tua akan mengeluarkan lampu senter berbaterai 10 mereka yang besar dan terang. Tapi kami, anak-anak, lebih memilih lilin. Lilin, yang di belahan bumi lain menjadi perangkat ibadah umat beragama lain, kami sulap menjadi menerang jalan menuju tempat yang lebih terang, yakni masjid. Kami biasa memakai batok kelapa untuk lilin-lilin itu. Caranya, pangkas batok kelapa sepertiga bagiannya, pegang dengan lubang mengarah ke depan, nyalakan lilin dengan mendirikannya di bagian bawah muka lobang. Lobang batok kelapa itu tak hanya akan mengumpulkan sinar lilin menjadi cahaya yang lebih efesien, tapi juga melindunginya dari terpaan angin. Jika kalian kehabisan batok kelapa, panci rantang, rusak atau baru, akan cukup bagus untuk menggantikannya.

Para orang tua memisahkan Tarawih anak-anak dari orang-orang dewasa. Meskipun mereka bilang, “Agar kalian belajar salat lebih baik dan mendapatkan ceramah yang lebih cocok untuk usia kalian,” jelas sekali kami disingkirkan agar mereka lebih khusyuk Tarawih. Jika bukan musala yang lebih kecil yang sedikit agak jauh dari masjid, disediakan untuk kami ruang kelas sekolahan di samping masjid yang dikosongkan sepanjang bulan. Pada akhirnya, orang-orang tua itu tak menyediakan tempat khusus agar kami belajar salat lebih baik, melainkan tempat bermain yang bebas dari pengawasan. (Ya, selalu ada guru atau kakak pembina yang mengawasi kami, tapi mereka terlalu sedikit atau terlalu tak berdaya untuk menghadapi nafsu bermain kami yang meluap-luap.) Maka, kami memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Mungkin kami memang belajar banyak soal agama, tapi tak kalah banyak juga adalah belajar mengelabuinya. Kami sudah hapal surat-surat Juz Amma, jadi kami bisa sedikit bermain-main dulu jika Imam memilih surat yang agak panjang, sebelum di detik terakhir menjelang rukuk kami baru ikut angkat takbir. Kami tahu bahwa salat Witir bisa dikerjakan terpisah atau berapa pun asal rakaatnya ganjil, maka jika tidak sempat menyelinap keluar setelah rakaat ke-8 (ya, kami delapan saja) kami baru akan bangkit ikut imam di rakaat terakhir. Untuk apa tahu peraturan kalau tak untuk disiasati?

Ada jeda panjang antara selesai Tarawih dan jam tidur. Yang benar-benar masih kanak-kanak mungkin akan menunggu orang tuanya yang salat Tarawih di masjid selesai, atau menunggu ibu-ibu mereka tadarusan, kemudian pulang dan tidur. Yang tak mau lagi dianggap bocah kecil, akan segera menyebar ke banyak tempat bermain, atau menciptakan permainannya sendiri. Berbagai jenis petasan buatan tangan dibuat dan dibeli dalam rentang waktu macam ini. Jika malam sedang terang bulan, akan sangat cocok untuk gobaksodor di halaman masjid atau bahkan di jalan umum. Sebagian anak (laki-laki) akan pulang sangat larut dari hari-hari biasa, dengan keadaan kelelahan dan segera tertidur untuk nanti diganggu bangun sahur dan salat Subuh. Sebagian yang lain pulang hanya untuk mindo (makan kedua setelah berbuka) lalu balik lagi ke masjid, meneruskan jam bermain berikutnya yang dibungkus acara tadarusan.

Ratusan anekdot, baik yang lucu, seram, maupun menyedihkan biasanya lahir-lahir dari bocah-bocah yang tidur di masjid di malam-malam bulan puasa ini. Yang sangat biasa adalah seorang bocah dibiarkan tertidur sendirian di masjid, sementara teman-temannya sudah pulang untuk makan sahur, sampai kemudian orang yang pertama datang untuk jamaah salat Subuh datang dan membangunkannya, dan ia akan dengan kalut berlari pulang. Namun, yang dikerjai dengan cara sebaliknya juga tak kurang. Seorang anak tertidur di masjid terlalu awal, sementara semua anak masih terjaga. Seorang konspirator akan muncul di antara yang masih terjaga. Ia memanjat dinding masjid, mengubah jam masjid dari jam 11 malam ke setengah 4 pagi. Semua orang kemudian bersembunyi kecuali seseorang yang bertugas membangunkan si tertidur. Jangan lupa pakai mimik gawat: “Kin, bangun sahur! Sudah setengah 4!” Si Kin njenggirat saat melihat jam dinding di masjid dan lari lintang pukang ke rumah. Teman-temannya yang sembunyi keluar untuk menertawakannya. Namun, kelucuan itu jadi tragedi di rumah. Di tahun itu, jam dinding tak dimiliki semua rumah. Satu-satunya petunjuk waktu adalah pengumuman sahur dari masjid. Pengumuman itu jelas belum ada, tapi Kin baru pulang dari masjid dan melihat dengan matanya sendiri sudah jam empat pagi. Maka, Kin membangunkan seisi rumah, meminta ibunya memasak, dan keluarga yang malang itu makan sahur di jam setengah 12 malam. Di waktu lain, kami tak tidur semalaman, sebab semua orang yang bermalam di masjid tengah berjaga-jaga. Seseorang didesas-desuskan punya tuyul, dan malam itu semua orang bersiap untuk menangkapnya.

Baca juga:  Kolom: TV Rusak

Hari baru Puasa berikutnya akan diawali dengan cara yang kurang lebih sama: anak-anak keluar lebih dulu dari para orang tuanya begitu waktu imsak diumumkan, dengan batok dan lilinnya. Salat Subuh dan ceramah biasa dilewati oleh anak-anak dengan setengah tidur. Dan kondisi masih sama jika setelah itu disambung dengan mengaji Juz Amma atau Alalan (sebutan enteng kami untuk mengaji Ta’lim Muta’allim). Setelah itu dilewati, hari baru benar-benar telah dimulai.

Desa kami punya kawasan perbukitan dengan batu-batu yang lapang dan terlindung dan berada di ketinggian, yang sangat nikmat untuk nongkrong dan membuang waktu. Di waktu-waktu normal, tempat itu akan jadi tempat para remaja pacaran. Selama puasa, tempat-tempat itu akan dianeksasi anak-anak. Ke tempat itulah kami akan segera menuju begitu mengaji Subuh bubar. Ya, itu cara ngabuburit kami. Bedanya dengan ngabuburit di mana pun, kami memulainya dari saat sepagi mungkin. Dari tempat itu kami bisa melihat atap rumah seluruh kampung kami dan sebagian kecil Kota Tuban, kanopi hutan jati yang membentang dari tempat kami sampai ke dekat Madiun, juga garis pantai yang berkelok-kelok dari sisi utara Lamongan hingga perbatasan Rembang, plus kapal-kapal nelayan yang baru merapat ke darat yang tentu saja tampak kecil.

Duduk-duduk saja, tak ada apa pun yang berarti, kecuali bercerita hal-hal yang terjadi semalam yang kadang juga tidak menarik, atau eyel-eyelan tentang sesuatu yang sepele sebelum kemudian berkelahi, menangis, dan bermain lagi. Radio, entah untuk sandiwaranya atau untuk lagu-lagunya, kadang dibawa sebagai pelengkap. Itu semua cukup untuk membuat kami baru turun di atas jam 9 pagi. Apa kami tak sekolah? Hanya anak-anak sekolah negeri yang masuk sekolah di bulan puasa. Lagi pula, mereka pasti belum pada kuat berpuasa.

Dari sana kami tak kembali ke rumah, melainkan ke tempat semalam kami salat Tarawih. Masih ada delapan jam sampai waktu berbuka puasa tiba. Tapi tak usah kawatir, kami sudah terbiasa menghabiskannya. Di depan kami, yang kalau malam menjadi musala, tersedia lapangan sepak bola termulus di dunia. Kini bolanya sedang ditunggu. Seorang sedang mencari bola plastik ukuran kecil yang sejak semalam disembunyikannya di bawah mimbar ceramah. Ada kalanya seorang anak datang dengan bola tenisnya. Dan selama dua jam kemudian, kami main bola dengan habis-habisan, sampai azan Zuhur menghentikan kami. Yang cukup budiman akan salat Zuhur dulu, sebelum kemudian terkapar di tempat yang sama tempat ia sebelumnya bermain sepak bola, dan bangun dengan bahagia karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 4 sore.

Bagi mereka yang punya sedikit tanggung jawab, itu waktunya untuk pulang ke rumah. Emak sedang membutuhkan seseorang yang membantu pekerjaan dapurnya atau yang membantu mengantar makanan ke kakek-nenek yang rumahnya terpisah. Tapi, ada yang masih bisa bersantai, ikut nongkrong para orang tua di beranda masjid menunggu pengantar takjil datang. Jika takjil hari itu enak, ia akan bertahan berbuka puasa di masjid. Jika tidak, ia akan melenggang pulang dan berharap kolak di rumah sudah matang.

Setengah jam setelah berbuka puasa, acara pesta diputar kembali, dengan urut-urutan yang nyaris sama. Dan itulah kenapa, dalam kepala saya, Puasa (cara sebagian kita menyebut dengan pendek dan sederhana sekaligus takzim bulan Ramadan) selalu adalah sebuah pesta yang panjang. Sebuah festival.

Baca juga:  4 Jenis Diet yang Sederhana Namun Tokcer

***

Pada dasarnya, suasana “festival” seperti saya gambarkan di atas tak benar-benar saya nikmati dalam waktu panjang. Secara sosial, masuknya listrik, kemudian televisi, mengubahnya dengan sangat cepat. Sementara secara personal, suasana pesta pada Puasa itu menyusut dengan cepat ketika Bapak pergi merantau saat saya berusia 11. Saya mesti lebih banyak berada di rumah untuk banyak alasan, tapi juga kadang tanpa alasan. Sekolah ke luar daerah kemudian mencipta rutinitas baru, dan menempatkan rutinitas lama sebagai nostalgia. Dan ketika kedua orang tua saya sama-sama merantau, justru di usia saya yang sudah melewati remaja, itu menjadi bulan-bulan Puasa paling tak mengenakkan. Bayangkan, kalian mesti menunggu telepon di wartel di luar desa hanya untuk bermaaf-maafan dengan mereka; tentu saja harus antre dengan bocah-bocah lain yang melewati prosedur yang sama. Namun, yang paling berat adalah ketika para tetangga menatapmu dengan penuh rasa kasihan. Bukan saja karena tak ada kue Idul Fitri di rumahmu, tapi terutama karena hari itu, di hari semua anak seharusnya berbahagia berkumpul bersama orang tua mereka, kamu tampak sama terlantarnya dengan anak-anak yatim.

Meski demikian, itu tak mengubah pendapat saya bahwa Puasa adalah sebuah pesta, sebuah festival. Saya dulu menganggapnya begitu, dan masih akan terus menganggapnya begitu. Dalam arti yang duniawi (dengan keramaian dan konsumsi yang melebihi hari-hari biasa) atau yang lebih spiritual (salat berjamaah, Tarawih, tafakur, mengaji, dst.), sama saja. Menikmatinya dengan gegap gempita saat kanak-kanak maupun mulai membuat jarak saat memasuki usia dewasa, saya akan tetap ambil bagian, tidak mungkin tidak.

Sebagai orang Jawa, dalam hemat saya, tak ada ibadah pokok Islam yang lebih cocok dengan orang Jawa melebihi Puasa. Saking cocoknya, saya sering merasa ini ibadah terasa seperti “diciptakan Tuhan hanya untuk kami”. Dan rasa-rasanya, tak ada yang lebih bisa merayakan Puasa melebihi orang Jawa. Semua terkumpul di sini, semua dikerahkan untuk ini. Jika orientasi seumur hidup seorang muslim Jawa adalah menunaikan haji ke Mekkah, maka orientasi tahunannya adalah Puasa. Ratusan khazanah masakan dibuat dan tampaknya hanya cocok untuk bulan istimewa ini. Ritus-ritus yang awalnya melengkapi berubah menjadi inti dan mencipta kultur yang khas: sadran, salat Tarawih, sahur, darusan, takbiran, hingga bermaaf-maafan (pluputan).

Saya dibesarkan dengan didikan untuk meninggalkan sebagian ritus-ritus itu, menguatkan sebagian yang lain, dan menganggap biasa yang sebagian lagi. Tapi, bagaimanapun jadinya, semuanya memapar saya; saya hidup dengan itu dan menganggap itu semua sebagai bagian dari apa yang membesarkan saya. Saya hapal beberapa lagu tarhim/pujian milik teman-teman Nahdliyin tanpa pernah mempelajarinya, sebagian karena semua begitu intensif saat Puasa. Dan, hal-hal macam itulah yang mencipta suasana pesta pada Puasa.

Saya akan merasa kehilangan jika pesta dan festival itu menghilang, baik gambaran fisiknya, lebih-lebih esensinya. Saya jelas tak lagi bocah yang sama yang dulu begitu bersemangat berlari ke masjid di malam pertama Tarawih, tapi saya tak pernah kehilangan kesan istimewa untuk setiap kedatangan Puasa.

Maka, ketika bulan puasa datang, namun tak ada orang berduyun-duyun datang ke masjid untuk Tarawih, tak ada suara pengajian dan pujian yang mengambang di udara, tak ada jerit dan tawa ceria bocah kecil dengan petasan atau kembang api di gang-gang, bahkan tak ada para penjaja es dan buah dadakan di tepi jalan, saya bisa merasakan betapa ada yang hilang. Sesuatu yang rutin, dan itu dicintai—begitu dicintai, tak bisa lagi dilangsungkan. Saya mencoba mencari-cari padanan dan metafor yang menggambarkan rasa kehilangan itu, tapi sepertinya tak ketemu. Dan sepertinya memang tak akan ketemu.

Wabah selalu mengubah peradaban. Dulu begitu, dan sepertinya yang belakangan muncul juga akan begitu. Melihat bagaimana Tuhan merayakan dan mengistimewakan bulan ini, pada dasarnya, selalu ada pesta, selalu ada festival, pada Puasa. Saya tak ingin mengajak berefleksi, tapi sepertinya ini saatnya untuk memikirkan cara-cara baru menikmati—dan terlibat dengan—Puasa. Saya tak tahu bagaimana, tapi saya yakin akan ada.

BACA JUGA Sebuah Kolom tentang Kolom dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.