Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Kisah Santet Pak Guru yang Ketahuan Lewat Isi Perut Sapi

Redaksi oleh Redaksi
28 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Orang-orang terkejut pada kisah santet yang jadi nyata ini. Pak Kiai melantunkan doa sambil meminta Bu Rohman melepas jeratan tali rafia itu.

Pelajaran Matematika kami kosong lagi. Pak Rohman, guru kami yang sudah sepuh, tak lagi datang untuk yang kesekian kali ke sekolah. Kami hanya diberi tugas mengerjakan soal-soal LKS halaman 25 sampai 27.

Iklan

Pak Rohman adalah guru yang sangat baik. Dia sering membuat tertawa lewat jokes-nya yang kadang garing, tapi tetap epic. Karena perasaan rindu dan khawatir, kami—aku, Dio, dan Roni—memutuskan untuk datang menjenguk ke rumahnya selepas sekolah nanti. Teman-teman yang lain menitipkan doa dan salam yang kami janjikan untuk disampaikan.

Rumah Pak Rohman agak jauh dari sekolah—perlu waktu hampir setengah jam untuk sampai di sana.

Singkat cerita, sampailah kami di rumah Pak Rohman. Istrinya menyambut kami dengan ramah, lantas mengantarkan kami bertemu guru yang kami rindukan.

Betapa sedih rasanya melihat Pak Rohman sore itu: badannya kurus, terbujur di atas kasur, sementara seluruhnya telah lumpuh. Ia hanya mampu menggerakkan lidahnya sebagai tanda ia mengenali kami.

“Bapak sudah sakit sejak lama, mungkin 10 tahun,” kata istri Pak Rohman saat kami sudah duduk di ruang tamu dan membiarkan Pak Rohman tidur sebentar.

“Sudah ke dokter,” lanjutnya lagi, “tapi anehnya tidak ada diagnosa yang mengkhawatirkan. Kami berhenti ke dokter, akhirnya. Tapi belakangan, Bapak malah tambah parah.”

Saat sedang bercerita, sebuah rombongan datang: bapak-bapak berpakaian rapi, putih-putih, dan peci. “Kiai-kiai, guru Bapak,” kata Bu Rohman, saat melihat dahiku berkerut keheranan.

Rombongan kiai ini agaknya sudah cukup akrab dengan keluarga Pak Rohman. Sebentar saja berbasa-basi, mereka kini sudah masuk ke dalam kamar dan mendoakan Pak Rohman yang tampak menyedihkan. Namun, dengan agak pucat pasi, salah seorang dari mereka berkata,

“Bu, Bapak sepertinya kena kiriman santet.”

Pernyataan singkat sang kiai mengejutkan kami. Selanjutnya, kami turut mendengarkan penjelasan Pak Kiai pada istri Pak Rohman yang tampak syok. Aku sendiri juga terkejut karena tak pernah mendengar kisah santet sebelumnya.

“Seseorang mungkin merasa kesal dan tersaingi oleh Bapak. Apa Bapak punya musuh, Bu?” tanya kiai pada istri Pak Rohman yang masih kaget.

“Ti-tidak,” jawabnya, “tapi kami baru saja mulai membuka toko kelontong tiga bulan lalu di area yang cukup banyak pesaingnya, sih…”.

Pak Kiai berdeham. Lalu katanya, “Saran saya, besok ibu segera menyembelih sapi agar santetnya terlepas. Tapi syaratnya harus dipenuhi.”

“Apa itu, Pak?” tanyaku akhirnya, turut merasa penasaran dan ingin tahu.

“Isi perut sapi tadi harus diurai langsung oleh Bu Rohman.”

Pertemuan sore itu berakhir. Aku, Dio, dan Roni berjanji akan datang esok hari, membantu Bu Rohman menyiapkan keperluan menyembelih sapi. Adapun sapi yang bakal disembelih itu didatangkan dengan bantuan Pak Kiai tadi. Katanya, seorang kawannya mempunyai sapi yang sudah siap dipotong.

Iklan

Datang juga hari yang ditunggu-tunggu. Beberapa orang menyembelih sapi sambil melantunkan doa dan takbir bersama. Aku duduk bersama istri Pak Rohman yang kini sudah siap dengan pisau tajam untuk mengurai perut si sapi.

Tibalah waktunya. Bu Rohman langsung menyayat kulit sapi, membuat isi perut binatang ini tampak ke mana-mana. Satu per satu organ ia lepaskan, uraikan, hingga hal aneh terjadi.

Dari dalam perut sapi, Bu Rohman menarik lepas benda berbentuk manusia—seperti boneka—yang terbuat dari tali rafia. Sisa tali rafia yang menguntai tampak melilit bagian leher boneka tadi hingga berkali-kali.

Orang-orang ramai dan terkejut pada kisah santet yang jadi nyata ini. Pak Kiai kembali melantunkan doa sambil meminta Bu Rohman untuk melepas jeratan tali rafia itu sampai habis. Selang beberapa lama, semua proses itu selesai.

“Tadi itu santetnya. Bapak sudah bebas sekarang. Bonekanya harus kita buang. Biar saya saja yang tangani,” kata Pak Kiai.

Sebelum pergi, ia bertanya, “Bu, perlukah saya memberi tahu siapa yang mengirimkan santet pada Bapak?”

Bu Rohman menggeleng cepat, “Tidak usah, Pak. Kami tidak butuh tahu itu. Bapak sudah sehat saja sudah cukup bagi kami.”

Apakah Pak Rohman langsung segar bugar malam itu? Tidak. Nyatanya, santet yang dikirimkan padanya telah bercokol bertahun-tahun, sampai menghabiskan daya tahan tubuhnya sendiri. Keadaan fisik Pak Rohman memang mengalami sedikit kemajuan (lidahnya mulai bisa bergerak lebih lancar), tapi secara keseluruhan ia telah jatuh terlalu dalam.

Beberapa minggu kemudian kabar duka itu datang. Pak Rohman telah kembali ke pangkuan Illahi, sementara seluruh kerabatnya datang dan mendoakan yang tebaik baginya di alam baka.

Saat datang ke pemakamannya, aku bertanya-tanya sendiri: apa yang dirasakan oleh pengirim santet ke Pak Rohman saat ini, ya? Apakah dia senang dan sekarang hanya pura-pura turut prihatin?

Duh, bagiku, itu mengerikan sekali. Dan jahat. (A/K)

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: cerita hororguna-gunakiaikisah santetMalam Jumat
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Ilustrasi Pesantren Lirboyo diserang framing TransTV yang kelewatan - MOJOK.CO

Framing Busuk Trans7 ke Pesantren Lirboyo dengan Citra Perbudakan adalah Kebodohan yang Tidak Bisa Dimaafkan Begitu Saja

14 Oktober 2025
Toko Buah Horor di Sudut Kota Jogja MOJOK.CO

Toko Buah Horor di Sudut Kota Jogja: Tentang Sosok Hantu Perempuan yang Muncul dari Tempat yang Tidak Terduga

22 Mei 2025
Asrama Horor di Sudut Magelang MOJOK.CO

Asrama Horor di Sudut Magelang: Tentang Bisikan Dingin yang Tidak Terjawab

6 Maret 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.