MOJOK.COTak pernah aku bayangkan diri ini menjadi tumbal perempuan iblis. Dia yang mengaku teman dengan jubah malaikat, ternyata iblis laknat.

Aku tidak menyangka semua ini terjadi padaku. Sosok yang aku hormati dan aku anggap mampu membimbingku ternyata malah merusak hidup serta keluargaku.

Yah, semua itu karena sosok perempuan iblis, perempuan sesat berkedok alim serta bertutur kata halus namun sebenarnya tidak ubahnya iblis “berjubah malaikat”.

Kejadian ini terjadi sekitar 5 tahun lalu di kota Gudeg. Aku tidak mengira bahwa perkenalanku dengan perempuan bernama Dian menjadi penyesalan seumur hidup.

Perkenalanku dengan Dian berawal dari ajakan teman mengembangkan usaha makanan ringan untuk diekspor. Bagiku, menjalankan usaha ini tidak sulit. Pengalaman serta relasi yang aku miliki bisa menjadi modal. Hingga pada akhirnya aku berkenalan dengan perempuan bernama Dian, sosok iblis yang saat itu belum aku sadari.

Dian adalah sosok perempuan anggun dengan wibawa yang terasa kuat. Saat itu usianya baru 30 tahun. Janda beranak satu.

Lewat beberapa kali diskusi dengan Dian, aku merasa sangat klop dengan segala pemikiran serta visi dan misinya. Kata-katanya membuatku sangat optimis.

Singkat cerita, Dian menjadi rekan kerja. Tugas Dian adalah mendukung ketersedian bahan baku dan quality control.  Yah, sebenarnya, aku bisa saja mencari orang lain. Namun, relasi Dian juga tidak kalah banyak terutama para petani. Oleh sebab itu, Dian mampu mencarikan bahan baku langsung dari para petani sehingga kita bisa memangkas harga cukup lumayan.

Tiga bulan berjalan, usaha kami cukup lancar. Sata itu aku berpikir bahwa usaha ini sangat menjanjikan. Terutama untuk biaya pendidikan anak-anakku yang semakin hari membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oya, aku memiliki 2 orang anak perempuan kembar yang saat itu masih berusia 9 tahun, sedangkan istriku sudah lama memilih menjadi ibu rumah tangga.

Kejadian aneh di sekitar perempuan iblis

Suatu malam, aku terpaksa datang ke rumah Dian. Ada rekap laporan yang mendadak diminta pemilik modal. Dari rumahku menuju rumah Dian berjarak sekitar 20 menit perjalanan. Rumahnya tertelak di ujung desa dan jarak dengan tetangga terdekat cukup lumayan jauh.

Malam itu, rumah Dian terlihat sangat ramai. Banyak orang bertamu. Namun, anehnya, tidak ada satu kendaraan pun yang diparkir di halaman rumah klasik yang cukup luas itu.

“Permisi, assalamualaikum, Bu Dian ada, Pak?” Aku bertanya ke salah satu tamu.

Walaikumsalam, ada Pak. Di dalam. Silakan tunggu dulu. Monggo duduk dulu.” Beberapa dari mereka menjawab hampir serempak. Aku lihat ada sekitar 16 orang berpakaian serba hitam. Meski mereka nampak ramah,
tapi dari wajah mereka aku merasakan hal cukup aneh.

Hampir 1 jam aku menunggu sedangkan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10:30 malam. Berkali-kali aku coba kontak hapenya yang sedari tadi, sejak aku berangkat dari rumah, sudah tidak aktif.

Aneh sekali suasana malam itu. Selama menunggu Dian, orang-orang yang ada di teras rumah itu nyaris tidak saling bicara satu sama lain. Mungkin mereka sebetulnya tak saling kenal, batin saya. Padahal mereka punya bagian dari ritual perempuan iblis itu.

“Pak, Bu Dian kok lama ya?” Tanyaku kepada bapak-bapak paruh baya yang duduk di dekatku.

“Biasa Mas, Bu Dian sedang ritual.” Jawab bapak itu sambil tersenyum.

“Hah?! Ritual apa, Pak?”

“Ya biasa, malam Jumat kliwon. Mas baru pertama kali ini ya datang ke rumah Bu Dian?” Aku seolah tergagap. Bingung mau menjawab dan mulutku hanya mampu berkata “Iya, Pak.”

Semilir angin dingin yang aneh seolah seperti memaksaku untuk memejamkan mata. Dan akhirnya aku terlelap di kursi rotan model lama itu.

Baca juga:  Fenomena Rock Balancing, Batu Bertumpuk yang Dikira Mistis

Dalam lelapku, aku seperti berada di sebuah istana berbentuk karang laut. anehnya, wujud orang-orang yang ada di sana bukan sosok manusia, tapi tinggi besar mirip gambaran genderuwo di kisah-kisah horor dengan sorot mata merah menyala.

“Haduh!” Aku terbangun karena kaget. “Di mana aku ?” gumamku dalam hati.

Ternyata aku belum beranjak. Aku masih terduduk di kursi rotan. Orang-orang berpakaian hitam itu sudah tidak tampak lagi. Aku makin kaget ketika melihat Dian duduk di sebelahku dan tersenyum melihatku.

“Lama Mas Anton nunggu ya?” Ucap Dian sambil tersenyum penuh misteri.

“Wah, jam berapa ini ya?” Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 01:20 dini hari.

Astagfirullah,” gumamku.

Aku merasa sangat sungkan. Meskipun Dian sudah aku anggap saudara, tapi mau gimana juga, dia seorang janda dan tinggal sendiri di rumah peninggalan mendiang orang tua bersama anak semata wayang, meski juga ada pembantu di sana.

“Maaf ya Mas, tadi aku mau bangunin kamu tapi tidak tega, jadi aku tunggu sampai kamu bangun.”

“Iya, ndak papa,” ucapku dengan kondisi masih linglung. “Loh, orang-orang tadi sudah pada pulang?”

“Oh mereka sudah pulang sekitar 30 menit yang lalu, Mas.”

Akhirnya aku sampaikan maksud kedatanganku dan Dian memberikan data laporan selama sebulan yang aku maksud. Setelah itu, aku buru-buru pulang. Aku melihat banyak notifikasi panggilan dan pesan dari istriku.

Hari berganti hari aku lalui dengan rutinitas pekerjaan dan melupakan kejadian malam itu. Kejadian yang baru aku sadari belakangan sebagai sebuah bagian dari ritual perempuan iblis itu.

Suatu ketika aku mendapat kabar bahwa Dian adalah sosok paranormal yang cukup disegani di desanya. Dia sering memberi nasihat dan arahan yang menurutku sangat agamis. Saat itu aku semakin yakin bahwa Dian ini benar-benar manusia religius, bukan perempuan iblis seperti yang aku sadari kelak.

Suatu sore, Dian berkata bahwa tubuhku penuh dengan sosok jin jahat dan harus dibersihkan agar hidupku lebih tenang dan fokus menjemput rejeki. Dan itulah awal prahara di keluarga kami.

Sejak meminum segelas air putih yang diberikan perempuan iblis itu, aku menjadi lebih peka akan hal-hal yang tak kasat mata. Bahkan aku sering melihat sosok-sosok tua berserban putih.

Beberapa kali aku tanyakan pada Dian. Dia hanya menjawab bahwa itu adalah sosok leluhur yang menjagaku agar tidak terkena gangguan jahat, terutama dari hal yang tidak kasat mata. Ucapan Dian itu seolah menjadi sugesti dan membuatku semakin percaya diri dan yakin bahwa aku bisa membuat keluarga kecilku bahagia.

Namun, apa yang terjadi… usaha yang aku rintis dari nol perlahan menjadi sepi. Ada saja kejadian apes yang terjadi. Misalnya kebakaran di pabrik, kecelakaan kerja karyawan yang tidak bisa dinalar, bahkan barang-barang produksi yang dikirim dalam kondisi sangat layak kirim akhirnya diretur karena rusak dan jumlahnya lebih dari 60 persen.

Hanya dalam waktu 4 bulan sejak aku minum air putih pemberian perempuan iblis itu, usaha yang aku gadang-gadang bakalan sukses, malah bangkrut. Temanku yang memberi modal dan percaya kepadaku sangat kecewa.

Nahas, kesialanku tidak berhenti di situ. Aku yang dulu penyabar, berubah menjadi berangasan, bahkan tidak jarang aku memukuli istri dan anak-anakku. Ketika aku tersadar, aku hanya berpikir, “Yah, mungkin aku depresi.”

Ambruknya ekonomi dan sifatku yang berubah membuat istriku jengah. Dia pulang ke rumah orang tuanya dan memilih pisah ranjang denganku. Istriku menginginkan cerai, tapi tidak aku izinkan. Pernikahan yang terancam bubar ini sengaja aku bikin “menggantung”.

Rumah yang masih aku cicil akhirnya aku oper kredit dan aku memilih kos bulanan yang murah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, aku mencoba bertahan hidup dengan menjadi driver ojek online karena hanya tinggal sepeda motor yang aku punya.

Baca juga:  Tak Ada Pocong yang Tak Islam

Semua barang-barang yang ada, seperti mobil, akhirnya juga harus ditarik leasing karena aku tidak mampu membayar cicilan. Saat itu, di tengah keterpurukanku, aku masih terus menjalin kontak dengan Dian. Bahkan perempuan iblis itu selalu menasihati agar aku untuk sabar serta tawakal menghadapi ujian hidup dan jangan lupa untuk selalu berdoa.

Kondisi ekonomiku dengan Dian boleh dibilang bagaikan bumi dan langit. Aku hancur perlahan, sedangkan rezeki Dian seolah tiada habisnya. Bahkan waktu itu dia sampai mampu membeli mobil keluaran Eropa seri terbaru.

Entah dari mana uangnya berasal karena modal yang dia tanamkan di usahaku juga sudah ludes. Di rumah, Dian hanya berjualan baju secara online. Saat itu, aku hanya menduga, mungkin usahanya sebagai paranormal agamis memang sedang bagus. Tamu yang ingin ketemu perempuan iblis itu tak pernah habis.

Pernah suatu ketika aku tanya dari mana Dian mendapatkan kekuatannya. Awalnya Dian tidak mau bercerita. Namun, suatu ketika, dia mau terbuka. Dulu, Dian pernah sangat stres akibat perceraian. Bahkan saat itu Dian pernah mencoba bunuh diri.

Hingga suatu malam, sosok berserban datang dan memberikan wejangan serta kekuatan. Sosok berserban itu, kata Dian, adalah salah satu leluhur
yang membantunya mengentaskan diri dari segala keputusasaan. Aku hanya bisa mendengarkan, tapi rasa aneh itu sudah terasa.

Pertolongan Tuhan

Tidak terasa hampir 3 tahun kesepian ini berjalan. Mencari nafkah dengan menjadi driver ojek online ternyata berat dan tidak gampang. Suatu ketika, aku mendapat seorang penumpang yang ternyata adalah teman SMA bernama Bimo.

Dari pertemuan itu akhirnya aku banyak berkomunikasi dengannya. Bimo sangat prihatin dengan nasibku. Tidak sedikit bantuan yang dia berikan untuk anak-anakku yang saat ini hidup dengan istri di rumah mertuaku.

“Ton, aku kok merasa ada yang tidak beres dengan dirimu, ya,” ucap Bimo siang itu.

“Kenapa Bim? Ada apa denganku?”

“Besok aku ajak ke guruku mau? Beliau tinggal di pondok pesentren, masih di Jogja, kok.”

Awalnya aku ragu. Saat iti Aku sudah skeptis dengan agama. Doa-doaku seperti tidak didengar Tuhan, bahkan ketika rajin beribadah, rejeki itu seolah makin jauh.

“Ayolah Ton,” ucap Bimo sedikit memaksa.

“Sebenarnya aku sudah tidak peduli lagi, bahkan mungkin aku sudah tidak percaya Tuhan itu ada Bim, tapi karena kamu yang meminta, baiklah Bim,” ucapku dengan datar. Selang 3 hari kemudian, sore itu, aku dan Bimo menuju ke tempat guru Bimo.

Assamualaikum Abbah.”

Wallaikumsalam. Sini Bim, masuk sini.”

Setelah berbasa-basi sedikit, Bimo membuka cerita pada gurunya. “Abbah, ini teman yang saya ceritakan kemarin.”

Pak Kiai hanya tersenyum, kemudian bertanya dengan suara pelan. “Gimana, Mas? Apa yang terjadi, serta apa yang dirasakan saat ini?”

Aku kemudian bercerita panjang lebar dari awal pertemuanku dengan perempuan iblis itu, bangkrutnya usaha, serta punggungku yang sering terasa panas akhir-akhir ini.

“Mas, kalau tidak keberatan, sekarang juga kamu mandi besar, kemudian salat Ashar di musala samping rumah. Nanti Abbah susul,” ucap Pak Kiai dengan nada lembut.

Usai salat Ashar, aku merasakan kepalaku sedikit pusing. Di situ kemudian aku duduk berhadap-hadapan dengan Pak Kiai. Beliau memberi wejangan, salah satunya harus hati-hati, jangan sampai terjebak dalam kegaiban. Setelah itu, beliau seperti membaca ayat-ayat suci dan aku merasakan ada yang berjalan di punggung serta kepalaku dan rasa pusing itu berubah menjadi mual dan akhirnya aku jatuh pingsan.

Menjelang Maghrib, aku baru sadar diri dan merasakan masih mual ingin muntah.

Baca juga:  Pastor Berjubah Putih Melawan Kiriman Santet dengan Media Tokek di Labuan Bajo

“Sana Ton, kalau mau muntah, lekas ke belakang sana,” ucap Bimo.

“Ya Bim.” Segera aku mengeluarkan semua isi perutku.

Setelah itu, aku merasakan kepalaku agak ringan dan badanku terasa lebih nyaman.

“Sudah enak, Mas?” Tanya Pak Kiai.

“Lumayan, Bah,” jawabku.

“Ya sudah, nanti usai salat Maghrib, segera pulang dan istirahat. Jangan lupa untuk menjalankan kewajiban serta menjauhi segala larangan-Nya. Jangan pernah membaca doa-doa yang aneh-aneh ya, Mas, apalagi yang berhubungan dengan kekuatan gaib.” Ucap Pak Kiai.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Bah?”

“Sudah tidak apa-apa, tidak ada sesuatu yang terlambat,” ucap Pak Kiai diiringi senyum yang begitu teduh.

Akhirnya, usai salat Maghrib, aku berpamitan dan tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada Pak Kiai. “Bim, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku pada Bimo dalam perjalananku pulang.

“Ton, kalau yang aku rasakan dan ada sedikit cerita dari Pak Kiai, hokimu itu seperti diambil seseorang.” Jawaban Bimo membuatku kaget. “Ibaratnya, kalau aku bilang, kamu itu kayak ditumbalkan gitu lo, Ton,” lanjut Bimo.

Bimo akhirnya bercerita setelah aku paksa dan pada akhirnya aku paham. Semua ini adalah ulah Dian, sosok yang nampak religius itu ternyata perempuan iblis yang begitu tega menjadikan temannya sebagai tumbal.

Dian, dengan sengaja mengambil rezekiku demi nafsu dia. Aku yakin, hasil karya perempuan iblis ini tidak hanya menimpa diriku saja. Sosok yang dia anggap leluhur tidak lain adalah sosok raja genderuwo yang bisa jadi Dian sudah melakukan kontrak gaib dengannya.

Sosok itu menyedot semua hoki orang lain dan memindahkannya pada Dian. Bahkan raja genderuwo itu juga menyerap aura positif yang ada di pikiranku dan membuatku jadi sosok negatif. Seperti mudah marah, mudah tersinggung, bahkan tidak segan aku memukuli istri serta kedua anakku.

Hal-hal itulah yang menjadi “makanan” sosok genderuwo itu. Semakin aku tidak bisa menahan pikiran negatif, sosok genderuwo itu menjadi makin kuat Belakangan juga aku tahu bahwa sosok berpakaian serba hitam yang pernah aku jumpai itu, tidak lain adalah anak buah raja genderuwo yang turut serta mengantar pimpinannya ke rumah Dian.

Aku benar-benar heran, bagaimana mungkin di era yang sudah canggih ini, hal-hal seperti ini masih ada, bahkan dibalut dengan bungkus religi.

Kini, setahun berlalu sejak aku “disembuhkan” oleh Pak Kiai, guru Bimo. Berkat Bimo juga, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sisi pendapatan. Didampingi Bimo pula, aku bisa berkomunikasi dengan istri dan anak-anakku. Kami sudah satu atap lagi, meski semua harus aku mulai dari nol.

Bagaimana nasib Dian?

Sejak aku mengganti nomor hape, sudah hampir dua tahun, aku tidak mendengar kabar perempuan iblis itu lagi. Namun, pernah suatu hari aku sengaja lewat depan rumahnya. Di sana terpampang tulisan dari sebuah layanan jasa properti bahwa rumah tersebut dijual.

Sampai sekarang aku masih heran dengan pengalaman nyata ini. Mohon maaf jika aku tidak bisa menceritakan lebih detail. Aku juga tidak sedang menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Kisah ini aku tulis, harapannya agar semua pembaca paham bahwa segala sesuatu yang nampaknya bagus belum tentu seperti apa yang ada dalam pikiran kita.

Aku masih ingat dengan jelas perkataan Pak Kiai bahwa di akhir zaman, segala sesuatu yang hitam bisa dibolak-balikkan menjadi seolah putih. Seperti janji iblis yang teramat dahsyat. Mereka tidak akan berhenti menggoda dan menjerumuskan manusia hingga akhir zaman.

BACA JUGA Tergoda Pesugihan Genderuwo yang Meminta Tumbal Manusia dan kisah penumbalan manusia lainnya di rubrik MALAM JUMAT.