Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pengajian Akhlak di Drakor ‘Hospital Playlist’ dari Tinjauan Psikologi

Lya Fahmi oleh Lya Fahmi
9 Mei 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jalan cerita drakor ‘Hospital Playlist’ ternyata bisa kasih pengajian akhlak yang lumayan. Apalagi kalau ditinjau dari psikologi kayak di bawah ini.

Layaknya ibu-ibu muda pada umumnya, saya juga bagian dari ibu-ibu muda yang menghibur diri dengan drama Korea. Lebih dari sekadar penghiburan, saya juga termasuk yang bereaksi keras jika ada bapak-bapak julid yang menyindir mamak-mamak penonton drakor.

Bukan karena saya fanatik drakor, tapi karena kesal pada orang-orang yang sok tahu pada apa yang mereka tak punya pengetahuan sama sekali.

Bagi sebagian anti-drakor, nonton drakor itu hanya buang-buang waktu. Bagi anti-drakor yang merangkap sebagai ustaz(-ustazan), nonton drakor adalah maksiat. Wah, padahal bagi saya nonton drakor itu ibarat menyimak pengajian. Tentu bukan pengajian fikih atau akidah, tapi pengajian tentang akhlak.

Dan, pengajian akhlak yang bisa saya dapatkan dari drakor terakhir yang saya tonton adalah bagaimana mengatasi konflik dan meningkatkan hubungan baik dengan orang lain.

Tersebutlah kisah seorang duda lumayan keren bernama Yang Seok Hyong. Ia bekerja sebagai dokter spesialis kandungan di Pusat Medis Yulje. Neng ndi kuwi rumah sakite, ya cek aja di Google Map, kalo ada.

Pada dasarnya, Yang Seok Hyong adalah seorang dokter yang berhati baik. Hanya saja, personal trait alias kepribadiannya, bukan tipikal kepribadian ramah yang mudah diterima di budaya timur.

You know lah, dalam budaya timur pada umumnya, yang dianggap baik dan menyenangkan adalah orang-orang ekstrovert ramah macam Lee Ik Jun (kalau kamu nggak tahu siapa Lee Ik Jun, ya salahmu sendiri nggak nonton Hospital Playlist).

Tapi Yang Seok Hyong bukan ekstrovert ramah, dia seorang introvert parah. Yang Seok Hyong tak nyaman berada di sekitar orang lain, kecuali sahabat-sahabatnya sendiri.

Ia lebih senang makan sendirian daripada makan siang bersama-sama dengan para koleganya. Lebih parah lagi, ia hanya ingin berkomunikasi via teks dan anti dengan percakapan telepon.

Tingkahnya membuat Choo Min Ha, dokter residen yang ia supervisi, menganggapnya sebagai supervisor yang tidak bersahabat. Dan, tentu saja menyebalkan.

Namun, sosok yang kita anggap menyebalkan bukan berarti tidak kita perhatikan. Diam-diam Choo Min Ha memperhatikan Yang Seok Hyong. Demikanlah, anggapan bahwa seseorang menyebalkan seringkali menjadi celah munculnya rasa penasaran yang membuat kita sadar nggak sadar terus memperhatikan seseorang.

Dalam kasus Choo Min Ha di Hospital Playlist, ia memperhatikan Yang Seok Hyong dengan terlebih dahulu memiliki banyak prasangka di dalam kepalanya.

Choo Min Ha terus-menerus memperhatikan tindak tanduk Yang Seok Hyong, sekaligus terus menerus menginterpretasinya dalam bingkai negatif sesuai dengan prasangka yang ada di kepalanya.

Iklan

Dalam pikirannya, Yang Seok Hyong adalah orang yang tidak peka dan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya, terutama pada dirinya yang bekerja keras siang dan malam tanpa di-notice dan diapresiasi, tapi malah banyak dikritik. Choo Min Ha memandang Yang Seok Hyong sebagai orang yang dingin dan tidak berperasaan.

Puncak kekesalan Choo Min Ha pada Yang Seok Hyong membuatnya curhat pada seorang perawat betapa bencinya ia pada Yang Seok Hyong dan merasa tidak nyaman apabila berada disekitarnya.

Bagaimana dengan Yang Seok Hyong?

Ia memperhatikan Choo Min Ha dengan cara yang Choo Min Ha tidak mengerti. Diam-diam Yang Seok Hyong menitipkan tteopokki lewat perawat untuk diberikan kepada Choo Min Ha yang dilihatnya telah bekerja sangat keras.

Konflik terselubung antara supervisor dan yang disupervisi akhirnya diselesaikan Choo Min Ha dengan cara berterus terang pada Yang Seok Hyong tentang apa yang selama ini ia rasakan.

Ia mengungkapkan seluruh keberatannya, termasuk dirinya yang setiap hari mengumpati Yang Seok Hyong di dalam hati.

Scene saat Choo Min Ha berterus terang dan Yang Seok Hyong yang dengan sabar mendengarkan adalah scene yang paling saya ingat dari drama Korea berjudul Hospital Playlist.

Bagi saya, puncak penghormatan dalam berelasi dengan orang lain adalah saat kita bersedia terbuka menyampaikan apapun perasaan kita dan terbuka menerima apapun perasaan orang lain terhadap kita.

Melakukan apa yang dilakukan oleh Choo Min Ha dan Yang Seok Hyong sama-sama tidak mudah. Coba kita ingat, kapan terakhir kali kita menyampaikan keberatan pada orang lain dengan baik dan tidak menyakiti? Dan, kapan terakhir kali kita mendengarkan keberatan orang lain dengan lapang dada?

Ada banyak hambatan untuk terbuka dalam menyampaikan dan menerima. Kita sering berada dalam situasi ingin memuntahkan banyak hal pada seseorang, tapi kemudian tercekat ketika langsung berhadapan.

Dan, sering pula kita menahan geram saat seseorang menyampaikan keberatan, merasa seseorang tersebut keterlaluan dan menyakiti.

Atas nama menjaga harmoni, kita lebih sering memilih diam demi kedamaian yang semu. Iya, semu. Sebab, ketika kita tak sanggup membicarakannya di depan, maka kita akan membicarakannya di belakang.

Dan kemudian, kita kehilangan kesempatan untuk saling berdinamika untuk mencapai kesepahaman.

Namun, kebiasaan ini dapat dipahami mengingat kita memang tidak dibiasakan dan tidak dilatih untuk menghadapi emosi. Kita tidak diajarkan bagaimana caranya mengekspresikan marah, sedih,  kecewa, dan emosi lainnya.

Jangankan mengekspresikan, dalam batas-batas tertentu, merasakannya pun tidak boleh. Ini membuat kita selalu berjarak dari emosi sendiri dan orang lain. Bukankah sering teman-teman rasakan betapa kita sering tidak siap menghadapi emosi kita sendiri dan orang lain?

Ada banyak pernak-pernik terkait relasi yang kita pandang secara tidak realistis dan tidak proporsional. Segala emosi tak menyenangkan yang kita rasakan sebagai konsekuensi dari berinteraksi dipandang sebagai hal yang merusak hubungan.

Konflik dalam berelasi dianggap sebagai hal yang musti dijauhi. Padahal, konflik merupakan bagian penting dari pertumbuhan suatu hubungan selama kita mau menerima dan mengatasinya.

Saya termasuk yang percaya bahwa konflik yang sehat adalah salah satu cara untuk meningkatkan hubungan menjadi semakin rekat. Dan, konflik yang sehat hanya mampu dikelola oleh orang-orang yang mau menerima segala bentuk emosi dan melepaskan prasangka.

Seperti Choo Min Ha dan Yang Seok Hyong yang menjadi lebih saling memahami setelah berhasil mengatasi hal-hal yang tak menyenangkan di antara mereka.

Beberapa hari menjelang hari raya, saya berusaha mengingat-ingat apakah masih ada konflik-konflik antara saya dan orang lain yang masih tersisa. Saya tak ingin bermaaf-maafan tanpa makna di hari raya. Tak ada saling memaafkan tanpa penyelesaian konflik yang jelas di antara kita.

Jika ada yang masih ada yang masih memendam rasa marah dan kecewa, kabari saya, ya. Dengan senang hati saya akan mendengarkan dan menerima.

BACA JUGA Evolusi yang Terjadi pada Manusia Pecinta Drakor dan tulisan Lya Fahmi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2021 oleh

Tags: Choo Min HadokterDrakorhospital playlistpsikologiPuasarumah sakitYang Seok Hyong
Lya Fahmi

Lya Fahmi

Psikolog, tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.