Tak Perlu Nonton Drakor Lagi karena Negara Siapin Drama ‘New Normal’ 2.517 Episode

MOJOK.CO Bagi pecinta drakor segera hapus daftar pilem yang mau ditonton karena pemerintah mau nyiapin drama new normal dengan 2.517 episode dan berbiaya Rp168 miliar.

Bagi kalian yang mencoba mengalihkan kebosanan dan kegalauan di tengah pandemi dengan cara nonton Drakor, saya minta kalian untuk berhenti. Yak, mulai dari sekarang, silakan tutup aplikasi pemutar film di hape atau laptop.

Kemudian buka fail drakor tersebut, tandai, lalu tekan delete. Jangan ragu! Tenang saja, karena sebentar lagi kita akan menonton drama bikinan negeri sendiri yang diproduksi oleh pejabat-pejabat kita tercinta.

Karena pacar saya terus ngomong masalah Drama Korea (drakor) dan memposting foto aktor-aktor Korea, akhirnya beberapa minggu lalu saya bulatkan tekad untuk terjun ke dunia per-Drakor-an. Saya pun minta rekomendasi film kepada pacar saya dengan tingkat kerumitan di bawah rata-rata. Lalu dia rekomendasi drakor berjudul My Love From the Star.


Eits… sabar, jangan nyerang dulu. Saya tahu film ini sudah lama dan nggak main lagi bagi kalian para drakor-pro. Tapi kan saya pemula, jadi mesti dari yang easy dulu. Nanti baru naik ke normal, hard, expert, dan akhirnya sampai ke level mie pedas kerak neraka jahanam kayak kaliyan.

Nah, setelah saya nonton beberapa episode, jujur perasaan saya jadi sendu. Tidak pernah saya membayangkan sebelumnya jatuh cinta sama alien. Memang menyakitkan. Ternyata begini ya rasanya nonton Drakor. Begitu mengharukan.

Karena tidak mau langsung menghabiskan film itu dalam sekali duduk, saya pun rehat sejenak. Leyeh-leyeh di kasur sambil membuka twitter. Ketika saya refresh beranda, eh ada berita CNN nongol dengan judul Pemerintah Janjikan Rp168 Miliar untuk Lomba Video New Normal. Melihat angkanya membuat raut muka saya jadi mupeng. Saya klik itu berita dan membacanya.

Baca juga:  Menunggu Jakarta Menjadi Atlantis di Bawah Ridwan Kamil dan Fahira Idris

Sebenarnya ada dua hal yang ingin saya kejar dari usaha membuka berita itu.

Pertama, menyangka kalau itu adalah lomba yang akan dilaksanakan. Kedua, kalau itu memang lomba, apa sih tema, persyaratan,  dan ketentuan teknis lainnya. Ketika saya baca ternyata sudah ada pemenangnya saja. Tidaaaaak…. aaaak.

Tapi karena sudah terlanjur, yasudah, saya lanjut baca. Oh, ternyata, peserta film pendek itu adalah Pemerintah Daerah seluruh Indonesia. Di dalam berita itu juga tertulis, “Pemda yang ikut serta diminta mengirimkan video berdurasi 2 menit. Video itu berisi simulasi protokol kesehatan yang dibuat dengan melibatkan ahli kesehatan dan bekerja sama dengan stakeholder lokal.”

Hmmm.

Jadi ini lomba film pendek, ya? Macam yang ada di festival-festival film, seperti Jogja NETPAC Asian Film Festival, atau Arkipel Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival, atau Festival Film Indonesia, atau Academy Award yang ada di Amerika sana? Oke, oke.

Kenapa saya kepikiran begitu? Soalnya ada acara penganugerahan segala yang diadakan di Kantor Kemdagri. Kayaknya pejabat kita nggak mau kalah juga nih sama sineas muda berbakat Indonesia. Mereka juga ingin menunjukkan kalau mereka juga bisa bikin film yang canggih, eh video.

Kata Pak Mendagri pula, sampai ketika saya nulis ini sudah terkumpul 2.517 video yang dikirimkan berbagai Pemda dari seluruh Indonesia.

Nah, yang membuat saya terharu itu adalah hadiah yang berbentuk dana insentif daerah (DID) bagi pemenang. Juara pertama dapat 3 miliar, juara kedua dapat 2 miliar, juara ketiga dapat 1 miliar.

Baca juga:  Kegelisahan tentang Tuduhan Gerakan Kristenisasi pada Kami

Ya Tuhan, melihat besarnya nominal itu, saya jadi kepikiran, kapankah hadiah sebesar ini bisa diterima sineas muda berbakat Indonesia? Yakin saya, mereka akan rajin membuat film yang canggih-canggih jika ada hadiah festival film di Indonesia sebesar itu.

Pak Mendagri, di manakah saya bisa menonton film yang meraih hadiah 3 miliar itu? Kata Pak Mendagri, kegiatan lomba festival video ini dilaksanakan untuk mengampanyekan new normal.

Sebab, lanjut belio, “Sebagai sesuatu yang baru maka tatanan ini memerlukan tahap pengenalan atau pra-kondisi agar seluruh masyarakat siap dan mampu beradaptasi.”

Waw!

Berarti, untuk ke depannya kita akan disuguhkan film pendek yang jumlahnya ribuan tersebut.  Atauuu… barangkali selama pandemi ini, Pak Mendagri melakukan riset sebelum mengadakan festival lomba tersebut.


Blio mungkin mulai risih dengan pembahasan drakor yang semakin lama semakin tidak jelas. Terutama untuk Generasi Z yang harus di rumah doang nggak ngapa-ngapain sampai bisa namatin satu judul drakor per hari. Belum dengan twit dari para fans fanatik drakor yang menggila ketika foto aktor kesayangannya nongol di linimasa.

Dan mungkin saja Pak Mendagri juga mengikuti tulisan yang terbit tiap hari di Mojok, Voxpop, dan media daring lainnya yang tidak pernah lepas dari pembasahan drakor-drakoran! Bukan tidak mungkin dalam pikiran para generasi boomers: “Apa-apaan ini! Negara sudah dijajah oleh Korea di saat pandemi melanda. Wah, wah, ini tidak bisa dibiarkan!”

Memang, salah satu media yang cepat untuk mendoktrin pikiran manusia itu lewat film. Apalagi kalau film yang ceritanya enak diikuti, mudah dipahami, plus ada drama-dramanya gitu.

Oleh karena itu, saya curiga, jangan-jangan pemerintah sedang berupaya menarik masyarakat kita dari jurang kecanduan drakor. Dengan cara? Yaaa bikin lomba video new normal ini tadi.

Baca juga:  Belajar dari Indonesia, Konflik di Serial Game of Thrones Bisa Diselesaikan dengan Pemilu

Mulai dari sini saya lalu sadar, bahwa angka-angka yang dikeluarkan untuk perlombaan itu bukanlah apa-apa dari besarnya niat tulus seorang pejabat negara untuk membawa masyarakatnya dari dimensi kegelapan, menuju dimensi yang terang-benderang seperti yang sebentar lagi akan kita capai.

Untuk itu, sekali lagi saya tegaskan, sudahlah…. mari kita hentikan kebucinan kita sama drakor.

Tinggalkan! Hapus semua drama yang kalian miliki. Tidakkah kalian sadar drakor hanya membuat kalian teralienasi dari realitas kita yang sesungguhnya? Bahwa kita seharusnya belajar setiap hari untuk mengenal tentang new normal ini. Kita mesti mampu beradaptasi dengan sempurna. Apalagi, bukankah kita ini bangsa yang kuat?

Sejak ada pengumuman dari Pak Mendagri itu pula, saya akan menghentikan episode My Love From the Star yang tersisa. Jika kalian juga melakukan itu, saya pun akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk membujuk pacar saya agar ingatannya bisa lumpuh dari drakor.

Karena sebentar lagi saya akan disuguhi “Drama New Normal” yang berjumlah 2.517 episode itu. Apalagi saya yakin drama bikinan pemerintah ini jauh lebih baik karena tiga alasan utama.

Pertama, saya yakin efek “getir” drama ini bakal sangat terasa—bahkan—setelah kita nonton. Nangisnya bakal betulan, menderitanya betulan, bahkan geregetannya pun betulan.

Kedua, bobot new moral-nya terasa kalau ditonton masyarakat Indonesia, terutama di situasi new normal begini. Ketiga atau terakhir, karena pemerintah kita emang udah terbukti jago banget kalau soal bikin drama.

BACA JUGA Rekomendasi 15 Drama Korea Terbaik Sepanjang Masa atau tulisan soal Drama Korea lainnya.