Pengajian di Burjo, dan Pertanyaan Apakah di Surga Bisa Balikan dengan Mantan

Warung burjo di kawasan Klebengan yang saya datangi tidak berbeda dengan burjo yang lain. Lengkap dengan renceng minuman instan dan meja yang lengket. Yang berbeda adalah orang yang saya temui. Orang ini memilih memberikan pengajian di warung burjo, bukan di masjid ataupun majelis taklim.

Berguru pada Gus Baha dan Fahruddin Faiz

Orang tersebut hanya ingin disebut Putra. Alasannya hanya karena tidak mau dikenal banyak orang. Mungkin malas jadi influencer. Pria jangkung berusia 29 tahun ini berpenampilan biasa sekali: kaos oblong polos, celana training, hoodie Barcelona, dan merokok seperti kereta. Tidak berbeda dengan mas-mas yang hobi ke burjo pada umumnya.

“Tapi aku bukan fans Barca. Ini cuma pemberian kakakku,” sanggah Mas Putra saat saya tanya perihal jaket tadi. Tapi hati orang siapa yang tahu. Toh fans Barca sedang banyak yang sembunyi di gua.

“Perkara baju ini karena aku nyaman. Jika pakaian menunjukkan tingkat kemuliaan manusia, maka Firaun lebih mulia daripada Nabi Musa,” tukas Mas Putra.

Saat saya tanya tentang rokok, Mas Putra menjawab, “Selama masih ada rokok dan kopi, maka dunia akan baik-baik saja,” sembari menunjuk spanduk burjo yang ada tulisan tersebut. Saya sih berharap jawaban yang ala-ala NU. Tapi tidak apa-apa, toh memang relevan.

“Berarti merokoknya kenceng mas?” Tanya saya sembari mengambil rokok mas Putra.

“Kenceng itu kan yang kamu lihat. Hakekatnya aku sedang menyumbang pemerintah,” ungkap Mas Putra sambil menyulut rokok. Saya pun manggut-manggut takzim. Setidaknya saya punya jawaban perkara konsumsi rokok saya yang tidak manusiawi ini.

Saya bertanya kembali, “Lha guru anda siapa mas?”

Mas Putra menyebut dua orang, “guruku adalah Kyai Haji Bahaudin Nursalim dan Doktor Fahruddin Faiz.” Tentu dua tokoh ini tidak asing di telinga umat muslim Indonesia. Bahkan saya yang nonmuslim tahu siapa itu Gus Baha.

“Terutama Gus Baha. Yang aku pelajari dari beliau adalah ridho, qadha dan qadhar, yang artinya bersyukur pada takdir.”

“Kunci hidupku ada dua. Hidup senang dan tidak bermaksiat. Ini juga dari Gus Baha,” ungkap mas Putra. Tapi menurut Mas Putra, kunci hidup tadi masih standar. Hidup bermanfaat perlu dicapai.

“Untuk bermanfaat, termasuk dengan memberi pengajian di burjo mas?” tanya saya.

“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Manfaat itu datang dari Pangeran,” ungkap Mas Putra. Mas Putra memang terbiasa menyebut Allah dengan Pangeran. Khas orang Jawa.

“Aku mengaji di burjo adalah sebuah kebetulan. Awalnya ada tiga baduiku yang sering bertanya perihal fiqih saat bertemu di burjo. Lambat laun makin ramai karena mereka mengajak teman,” terang Mas Putra.

Mas Putra menyebut teman yang mengaji pada Mas Putra sebagai badui. Badui didefinisikan sebagai orang polos dan awam dalam perkara agama. Merujuk sebutan badui pada era Nabi Muhammad saw.

“Awalnya hanya tiga orang tadi. Sekarang ada 15 badui yang ngaji sama aku. Dari yang umurnya 22 tahun sampai bapak-bapak anak dua. Ada yang masih kuliah, ada yang pegawai bank,” ujar Mas Putra. Kebetulan, si bapak-bapak ini adalah Asyaifuddin (43), atau Aa’ burjo tempat Mas Putra memberikan pengajian.

Baca juga:  Pengakuan Pengguna Jasa  Open BO yang Merasa Tersesat di Bulan Puasa

“Nggak merasa terganggu dengan majelisnya Mas Putra ini A’?” Tanya saya pada  Aa’ Burjo.

“Nggak sih malah seneng. Pada ngopi dan makan A’,” jelas sang Aa’ Burjo dengan logat Sunda yang kental.

“Dia saja juga ngaji sama aku. Malah rembugan tuwo,” sahut Mas Putra sembari menunjuk si Aa’ Burjo. Aa’ Burjo hanya mengiyakan sembari mengangsurkan kopi panas saya.

Cara Mas Putra mengajak ngaji

“Bagaimana sih njenengan mengajak ngaji mas?” Saya bertanya sambil menyeruput kopi.

“Pola ngajinya ya? Yo sak mood-ku. Kadang aku hubungi via WA, silahkan yang selo bisa datang. Atau tidak sengaja ketemu dengan salah satu badui di burjo. Nanti ngajinya bergulir sesuai pertanyaan para badui,” jelas Mas Putra.

“Tapi kadang memang janjian hari ini, tanggal ini, kumpul. Nah kalau model seperti ini sering kuajak ke warung kopi. Dan aku yang mentraktir biar pada semangat,” tambah mas Putra.

“Wah guru ngajinya malah tombok ya mas,” ujar saya menanggapi.

“Uang yang ngasih Pangeran kok, aneh-aneh wae,” timpal Mas Putra sambil tergelak.

“Tapi memang harus sabar. Kelakuan badui itu cen aneh-aneh. Kamu pikir aku serta merta digugu. Dibantah sih iya. Ada yang porno banget, ada yang sudah pakem, ada yang hobi ngetes aku juga. Memastikan apa yang aku sampaikan konsisten dengan hari sebelumnya. Macem-macem ngono lah,” ungkap Mas Putra.

“Yang jelas badui-badui ini lebih suka didongeni. Bisa cerita nabi-nabi atau kisah para waliyullah. Tapi waktu membahas fikih kurang, minta sedikit saja. Sudah pusing katanya,” imbuh Mas Putra sembari terkekeh.

Jadi guru ngaji tapi belum pernah mondok

“Sebentar, anda pernah mondok belum?” Tanya saya menegaskan apakah Mas Putra pernah hidup di pondok pesantren. Mas Putra hanya menjawab pendek, “Belum!”

“Lha kok pede banget bicara agama. Bagaimana kalau dipertanyakan kapasitasnya?” Tanya saya sedikit menekan.

“Lho kenapa nggak pede? Yang aku sampaikan itu bukan diriku, baik pendapat dan opini. Aku hanyalah makelar ilmu dari guru-guruku. Yang aku jelaskan itu Pangeran, dan selalu merujuk pada ajaran dan pendapat guru-guru saya,” tukas Mas Putra.

“Untuk urusan kitab, aku sudah khatam dan mendalami Kitab Riyadhus Shalihin, Al Hikam, dan Tafsir Jalalain,” lanjut Mas Putra.

“Lha mana kitabnya mas?” Tanya saya sambil celingak-celinguk mencari buku tersebut. “Kitabnya sudah ada disini,” jawab Mas Putra sambil menunjuk dahinya. Menyatakan bahwa Mas Putra sudah hapal isi kitab tersebut.

“Tapi kalau kitabku tidak terbawa, aku juga bawa kitab digital,” ungkap Mas Putra sambil menunjuk handphonenya. Memang, dalam handphone Mas Putra terdapat berbagai aplikasi kitab. Dari Al Quran sampai kitab-kitab yang tadi blio sebutkan.

Mas Putra (kiri depan) usai memberikan pengajian di burjo

Mas Putra (kiri depan) usai memberikan pengajian di burjo

“Mas, kok pakai kitab digital? Kan banyak yang menolak digital dan bersikukuh dengan kitab fisik?” Tanya saya sembari menegaskan perkara kitab digital.

“Lho, orang yang menolak kitab digital itu bodoh. Kan kitab yang mereka baca sekarang juga berasa dari kitab digital yang di-print,” jawab Mas Putra.

Baca juga:  Dosen Nyentrik dari UGM

Menurut Mas Putra, pandangan tersebut sudah ketinggalan zaman. Toh yang menulis kitab tersebut juga sudah tiada. Yang penting adalah dalam mengambil ilmu itu harus bersanad. “Harus jelas jalur keilmuannya, sampai nanti bersumber pada Kanjeng Nabi,” ujar Mas Putra.

“Lalu kenapa tetap bertahan pengajian di burjo? Apa tidak takut dibilang bid’ah mas?” Tanya saya sambil kembali mengambil rokok Mas Putra.

“Kok bid’ah? Bicara agama itu bisa dimana saja. Hakekatnya semua di alam semesta ini ciptaan dan milik Pangeran semata. Yang penting ilmunya dan sanadnya jelas,” tegas Mas Putra.

Yo nek badui-badui gini bakal malas diajak ngaji di masjid. Rapopo, toh hakekatnya sama-sama bicara tentang Pangeran,” tambah Mas Putra.

Macam-macam pertanyaan dijawab

“Burjo itu tempat yang cocok untuk bicara apa saja. Mau pertanyaan seputar pelacur sampai misuh-misuh bisa di burjo. Kalau di masjid kan kurang elok,” ungkap Mas Putra.

“Tapi aku pernah ngaji di rumah salah satu badui. Malah digelarkan tikar dan disiapkan berbagai makanan serta kopi. Si ibu yang menyediakan tadi semua malah bilang, ‘ini mas disuruh salat. Susah banget untuk salat’,” Mas Putra menirukan ibu yang meminta anaknya untuk salat.

“Lha baduinya njenengan itu kalau tanya perkara apa tho?” tanya saya penasaran. Pastinya banyak pertanyaan menggelitik dari badui Mas Putra ini.

“Macam-macam. Dari fiqih sampai negara ditanyakan semua. Ada juga yang tanya apakah ketika di surga bisa balikan dengan mantan. Padahal mantannya sudah bersuami. Jawabanku sederhana, karena hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, di surga si badui itu sudah tidak mencintai mantannya,” jelas Mas Putra.

“Kemungkinan kedua apa mas?” Tanya saya makin penasaran.

“Kedua ya Pangeran akan memberikan fotokopi si mantan tadi,” jawab Mas Putra sambil terkekeh.

“Ada juga yang bertanya apakah kita bisa minta jadi Pangeran kalau di surga. Kan apapun yang diminta di surga akan diberikan. Cuma aku jawab kalau tidak ada pendaftaran jadi Pangeran,” tambah Mas Putra sambil kembali terkekeh. Memang ada-ada saja pertanyaan dalam ngaji bareng Mas Putra ini.

“Waktu ngaji rame-rame, ada pengunjung burjo yang memandang sinis? Apa sampai memandang njenengan radikal mas?” Tanya saya sambil sekali lagi mengambil rokok Mas Putra. Tercatat sudah 3 batang rokok sedekah Mas Putra yang saya isap.

“Nggak ada, malah beberapa ada yang mencuri dengar bahkan nimbrung. Maqomku memang membuat orang tertarik pada apa yang kubicarakan, termasuk ngaji. Bahkan ada orang nonmuslim yang tertarik ngaji sama aku,” ungkap Mas Putra sambil menyesap rokoknya.

Saya pun makin penasaran, “Lha siapa itu mas?”

“Ya kamu itu,” tegas Mas Putra sambil menunjuk saya. Seolah mengingatkan pada status agama dalam KTP saya. Kami pun tergelak tanpa peduli sekitar.

“Tapi beneran Mas Putra nggak takut dituduh radikal? Kan bicara agama di tempat umum seperti ini,” tanya saya.

Mas Putra menjawab tegas, ”Itu tadi, itu sudah maqomku! Apalagi yang kubicarakan itu selalu untuk mengajak berpikir dan menunjukkan bahwa Islam itu lembut. Islam itu merangkul, bukan memukul. Allah berfirman, ‘kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia’.”

Baca juga:  Tiga Pelatihan yang Sebaiknya Ada dalam Program Kartu Prakerja

“Kalau bicara yang radikal itu, kita harus ingat apa itu Islam atau muslim. Kalau bicara muslim sebagai umat, wajar jika ada yang keblinger seperti teroris. Tapi sejatinya Islam tidak seperti itu,” ujar Mas Putra.

“Teroris itu belum ngopi karo aku,” tambah Mas Putra.

“Lalu kalau pengajian di burjo ini tambah besar nanti gimana? Apa cukup kalau baduinya tambah banyak?” Tanya saya sambil menelisik burjo tempat kami diskusi. Burjo ini memang selayaknya burjo pada umumnya, sempit dan seadanya.

“Kalau besok ngaji ini tambah besar, aku bubarkan! Nggak usah ada ngaji-ngaji lagi di burjo. Aku juga tidak mau cari panggung,” jawab Mas Putra

“Dan kalau gara-gara tulisanmu aku dicari-cari orang untuk ngaji, aku tuntut kamu,” ancam Mas Putra sambil tertawa lepas. Memang saya tidak bisa menutupi tujuan dari diskusi malam ini.

“Berarti anda dipanggil uztad mas?” Tanya saya penasaran.

“Yo tidak, tetap dipanggil mas. Tapi ada beberapa Badui yang manggil Gus, terserah mereka saja,” ujar Mas Putra

Ngaji yang santai jadi daya tarik

Saya pun penasaran terhadap tanggapan para badui. Tentu perlu mengkonfirmasi bagaimana mereka mengikuti pengajian bersama Mas Putra ini. Saya awali dari Mas Mozin. Guru berusia 20 tahun ini bisa dibilang fans berat Mas Putra.

“Seneng saja mas ngaji bareng Mas Putra. Santai sih dan nggak perlu wudhu sebelum ngaji,” ungkap Mas Mozin sambil tertawa.

Mas Tion, mahasiswa berusia 20 tahun menanggapi juga, “Santai saja mas, mulutnya tak perlu ditata.” Saya pun mengangguk saja memahami maksud Mas Tion.

Seorang badui yang entah mengapa dipanggil Odol ikut menambahkan kesan. “Senang mas ngaji bareng Mas Putra. Boleh duduk seenaknya sambil ngrokok. Mas Putra juga tidak pernah seperti guru atau uztad yang ada di majelis. Bisa dibilang temen nongkrong yang lagi cerita dan bertukar pikiran,” ungkap mas-mas berusia 26 tahun ini.

Mas Zen yang mengaku budak korporat juga menyampaikan kesan. “Ngajinya Mas Putra ini cair. Forumnya bisa sambil bercanda. Materi berat pun dibahas dengan bahasa yang ringan. Tapi yo materi ringan malah diberat-beratke,” ujar pria berusia 27 tahun dan sedang menempuh pendidikan S2 di UGM.

Mas Yono, salah satu badui lain punya komentar. “Gimana ya mas, bahasannya bisa ngalor ngidul sakpenake cangkem. Yang jelas tidak malu ketika tanya sesuatu yang belum dipahami,” ujar Mas Yono yang berusia 23 tahun ini.

Malam makin larut, dan kami mulai ngobrol santai. Dan benar, saya memang ngaji pada Mas Putra ini. Tema hari ini adalah Wali Paidi. Wali Paidi dikisahkan sebagai waliyullah yang sangat biasa dan modern. Memakai kaos bergambar Gus Dur, celana jeans, dan mencintai rokok serta kopi. Mirip-mirip Mas Putra ini.

“Tapi Mas Putra bukan Wali Paidi tho?” Tanya saya sambil tergelak bersama Mas Putra.

BACA JUGA Pendapatannya Jadi Muncikari Ayam Kampus Puluhan Juta Rupiah dan Dia Memilih Tobat  liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.