MOJOK.COSebagai anak Pekanbaru yang udah kelamaan tinggal di Jogja, aku sempat “Ih, apa sih” ketika denger Fiki Naki nyebut dirinya sendiri “Fiki”. Terus aku inget, “Yeee, di Riau kan emang gitu adatnya.”

Tempo hari aku iseng menonton Fiki Naki di #closethedoor-nya Deddy Corbuzier. Beberapa menit di awal, aku langsung menyadari Fiki menyebut dirinya sebagai “Fiki”, bukan aku, saya, apalagi gue. Sisi Jawa-ku langsung menggelinjang mendengar dedek cakep itu menyebut nama untuk dirinya sendiri. Kegantengannya langsung luntur sekian puluh persen dalam persepsiku. Mendengar dia menyebut namanya sendiri, rasanya geli.

Iya, segeli teman-temanku saat aku masih senang menyebut namaku sendiri dulu. Dulu, empat belas tahun yang lalu.

Sebagai anak kampung yang meninggalkan kampung halaman dengan sukacita karena akan menjadi Gadjah Mada Muda, aku tak pernah menduga bahwa urusan kecil seperti penyebutan kata ganti orang pertama akan menjadi hal yang membuatku kesal dengan Jogja.

Caraku menyebut nama sendiri untuk menggantikan “aku” atau “saya” menjadi bahan olok-olok. Aku tak pernah tahu bahwa di Jogja menyebut nama sendiri untuk merujuk “aku” kurang bisa diterima.

“Kamu lucu banget sih, Ly? Kamu ngomong pake nyebut nama tu kesannya sok imut dan manja,” tegur seorang temanku saat kami sedang mengikuti Psikologi Rumah Kita. Mendengar itu, sebagian egoku yang merasa aku ini sosok garang dan berkarisma tak terima disebut sok imut dan manja.

Aku tak tahu mengapa menyebut nama sendiri itu diasosiasikan dengan sok imut dan manja. Aku ingin memberikan sedikit ilustrasi mengapa menyebut nama sendiri itu sulit diterima oleh aku yang baru keluar dari kampung halaman sebagai sok imut.

Ayahku namanya Fahmi. Panggilan masa kecilnya adalah Ami. Pada usianya yang sudah 70 tahun, ia akan refleks menyebut dirinya “Ami” ketika berbicara dengan kakaknya sendiri.

“Ami ndak setuju kalau….”

Andai kalian mengenal ayahku, sosok yang tegas, berwibawa, dan tokoh Muhammadiyah, menyebut nama untuk sok imut tu jadi nggak cucuk gitu lho.

Keputusanku untuk menyebut nama ketika awal-awal di Jogja semata-mata karena belum merasa dekat dengan teman-teman baru di Jogja. Rasanya, sangat tidak sopan jika aku langsung menyebut “aku” pada orang yang belum terlalu akrab.

Kenapa tidak sopan?

Padanan kata “aku” dalam bahasa daerah kami di Riau adalah “aden” atau disingkat menjadi “den”. Penggunaan “den” untuk menunjuk diri sendiri dalam percakapan hanya dilakukan ketika kita bercakap-cakap dengan teman sepantaran atau teman-teman akrab.

Penggunaan kata “den” menjadi terdengar kasar apabila itu kita gunakan pada orang yang lebih tua, orang yang derajat sosialnya lebih tinggi, atau pada orang yang baru kita kenali. Intinya, menggunakan “den” pada sembarang tempat akan dilihat sebagai sikap yang tidak menghormati

Maka dari itu, anak-anak Pekanbaru dan sekitarnya akan refleks menyebut namanya sendiri ketika mereka berbicara dengan orang tua, guru, pasangan, pak tuwo, mak tuwo, etek, pak etek, atau siapa pun yang baru mereka kenali. Menyebut nama dirasa lebih sopan daripada harus menyebut “aku”.

Lalu, kenapa tidak menyebut “saya”?

Mana ada orang Pekanbaru menyebut “saya” untuk dirinya sendiri? Menyebut “saya” terasa terlalu “bahasa Indonesia” untuk percakapan sehari-hari.

Selain itu, untuk alasan yang tidak kuketahui secara pasti, orang-orang di kampung kami memang punya citarasa yang negatif terhadap orang yang beraku-aku. Membahasakan diri dengan “den” atau “aku” sangat jarang dipilih untuk obrolan yang tidak benar-benar akrab.

Jika kita bercakap-cakap dengan orang yang tak cukup dekat untuk “berden-den”, tapi juga tak terlalu jauh jarak psikologisnya sampai harus menyebut nama, kata ganti orang pertama akan berubah menjadi “awak” (kita), “kami”, atau “ambo” (hamba).

Kata “awak” dan “kami” tentu saja tak secara spesifik menunjuk pada diri sendiri. Kata “ambo” langsung merujuk pada diri sendiri tapi dalam versi yang lebih rendah hati. Pokoknya entah kenapa mengaku-aku itu rasa bahasanya terkesan kasar, sombong, dan egois. Persis seperti orang Korea yang tak menyatakan kepemilikan dengan “milikku”, tapi “milik kami”.

Lha, terus orang Jawa yang selalu beraku-aku itu salah menurutmu, Mbak?

Ya enggak lah. Ini kan cuma perkara psikologi lintas budaya. Beda budaya, beda makna. Hal yang ingin aku sampaikan hanyalah jangan terlalu yakin dengan pemaknaan kita sendiri karena bagi orang-orang dari budaya yang berbeda, sangat mungkin sebuah stimulus yang sama dimaknai dengan cara berbeda.

Anggap saja tulisan ini berbagi cerita untuk meningkatkan pemahaman antarbudaya. Kita adalah bangsa dengan beragam budaya dengan cara pemaknaan yang berbeda-beda. Ragam budaya memang bisa menjadi kekayaan, tapi di sisi lain juga bisa menjadi kerentanan.

Untuk mengurangi kerentanan itu, aku pikir sangat penting untuk memahami orang lain sesuai dengan pemaknaan orang tersebut, bukan dengan pemaknaan kita. Sikap fenomenologis, istilah kerennya.

Sikap fenomenologis sangat penting agar kita tidak menjadi seperti A.A. Navis. A.A. Navis pernah menulis dalam autobiografinya bahwa ia menjadi kurang sreg pada Bung Karno hanya karena Bung Karno pernah berpidato di depan khalayak Minang dengan kata sapaan, “Kamu-kamu sekalian….”

Bayangkan, kita bisa jatuh tak menyukai orang lain hanya karena persoalan rasa bahasa itu.

Aku tak ingin menjadi seperti itu. Aku ingin bersikap fenomenologis dengan memaknai kata ganti “aku-kamu” sesuai dengan cara teman-teman Jogja memaknai kata ganti itu.

Dengan sikap fenomenologis, aku nggak jadi illfeel sama Fiki Naki. Ia hanya berusaha untuk sopan. Dan dengan begitu, dalam imajinasiku Fiki Naki kembali menjadi sosok dedek-dedek emesh yang menyenangkan dan tampan 🙂

BACA JUGA Teori Soal Kenapa Orang Sunda Tidak Menikah dengan Orang Jawa dan esai Lya Fahmi lainnya.

Baca juga:  Jojo, Histeria Emak-emak, dan Arus Balik Cognitive Revolution