Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 Mei 2026
A A
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

ilustrasi - Gen Z dihina generasi lembek karena zero post di Instagram. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seiring berkembangnya waktu, para gen Z (rata-rata kelahiran 1997-2012) lebih suka mengosongkan akun Instagram mereka. Ada yang berandanya kosong melompong tanpa unggahan, ada pula yang tidak menggunakan foto profil. Tren inilah yang dikenal dengan istilah ‘zero post’.

Gen z beralasan bahwa mereka bukan ingin terlihat misterius di Instagram melainkan lebih sadar tentang fungsi dari media sosial itu sendiri. Alih-alih mengunggah cerita hidup di Instagram misalnya, mereka lebih suka menghabiskan waktu berkualitas di dunia nyata. 

“Kadang banyak yang salah kaprah, dianggapnya aku adalah orang yang sangat serius padahal aslinya mah, ya plenger juga,” kata Shofi (23) kepada Mojok, Selasa (4/5/2026).

“Tapi sebetulnya aku masih aktif menggunakan media sosial atau repost unggahan akun lain di detik-detik terakhir (last 24 hours), walaupun beranda Instagramku kosong,” lanjutnya.

Zero post guna melindungi privasi

Fenomena zero post tak hanya terjadi di Indonesia, awal April 2026, Kantor Komunikasi (Ofcom) merilis survei tentang kebiasaan dan penggunaan daring di Inggris. Survei tersebut mengungkap sebanyak 49 persen responden yang sebagian banyak adalah orang dewasa, lebih sedikit mengunggah, mengomentari, atau berbagi konten di media sosial. 

Mereka mengaku khawatir jika apa yang mereka katakan lewat daring dapat berdampak buruk di masa depan. Alhasil, gen Z cenderung mengelola batasan pribadi mereka guna melindungi privasi mereka di ruang digital.

Kyle Chayka penulis dari New Yorker yang berfokus pada teknologi dan budaya internet juga menyebut tren zero post juga terjadi akibat komersialisasi konten. Kini, menurut dia, perusahaan platform lebih sering menyajikan algoritma iklan atau sesuatu yang menghasilkan keterlibatan (engagement) langsung seperti like, komentar atau share dibandingkan unggahan followers mereka. 

“Jadi, apa gunanya mengunggah swafoto jika tidak mendapatkan perhatian atau menjangkau teman-teman? Gagasan bahwa setiap orang harus berbagi kehidupan di depan umum agak cacat sejak awal,” ujar Chayka.

Zero post karena minder posting di Instagram

Fenomena zero post juga terjadi seiring dengan kesadaran masyarakat tentang isu kesehatan mental. Shofi berujar sudah menerapkan zero post setelah dirinya lulus SMA, karena kebiasaan overthinking di masa-masa kuliah.

“Aku kan anak daerah (luar pulau Jawa) terus kuliah di Jogja, jadi aku takut alay atau dianggap norak. Gengsi aja gitu kalau unggah gambar karena harus estetik, takut tidak memenuhi ekspektasi,” jelas Shofi.

Selain itu, Shofi juga sering kepikiran setelah melihat unggahan gambar dari akun Instagram orang lain. Shofi sendiri sering memberikan penilaian baik negatif maupun positif. Hal ini membuatnya khawatir jika orang lain juga akan menilai dirinya buruk hanya karena konten yang ia buat di Instagram. 

Di sisi lain, Shofi memilih menggunakan akun kedua atau second account untuk mengekspresikan diri lebih bebas, tapi tetap saja beranda Instagram-nya tetap kosong karena dia kurang percaya diri untuk memotret. 

“Seolah dituntut untuk mengunggah foto estetik sedangkan aku merasa nggak punya sense dalam seni apalagi dalam hal mengedit,” jelas Shofi.

Lebih sehat mental dan tak haus validasi

Sebuah Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Politik dari Universitas Dharma Andalas membuktikan, orang yang menerapkan zero post cenderung merasa tenang, tidak terbebani untuk terlihat sempurna, dan dapat lebih fokus pada kehidupan sehari-hari tanpa perlu memenuhi standar sosial media.

Iklan

“Banyak teman yang mengunggah foto-foto mereka, tetapi saya merasa tidak perlu menunjukkan kehidupan pribadi saya di media sosial,” ucap RN dikutip dari jurnal berjudul Fenomena Mahasiswa Generasi Z di Instagram (Studi Kualitatif Fenomenologi Mengenai Motif di Balik Kosongnya Feed Instagram pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Dharma Andalas).

Penelitian tersebut juga menjelaskan bagaimana peningkatan sosial dapat berpengaruh signifikan terhadap self-esteem atau perasaan dari hasil evaluasi diri yang dapat bersifat positif atau negatif. 

Masalahnya, penelitian menunjukkan bahwa melihat unggahan menarik di media sosial dapat menurunkan self-esteem individu. Sebab tak bisa dipungkiri, kalau pengguna Instagram berusaha menampilkan sisi positif dirinya dan kehidupan yang terlihat bahagia. 

Namun, Shofi berujar kini dirinya lebih mempelajari ilmu stoik, yakni mengendalikan pikiran dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Serta, menerima hal-hal di luar kendali.

“Sekarang aku lebih bersikap masa bodo amat, tapi juga nggak terlalu sering unggah foto agar tetap menjaga privasiku,” tegas Shofi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

Tags: Gen Zgenerasi zInstagramkesehatan mentalmedia sosialself esteemstoikzero post
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO
Liputan

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Beasiswa MEXT U to U di Jepang lebih menguntungkan daripada LPDP. MOJOK.CO

Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

6 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026
Tangis haru Valentina di hadapan Gubernur Ahmad Luthfi karena bisa sekolah gratis lewat program Sekolah Kemitraan Pemprov Jawa Tengah MOJOK.CO

Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi

8 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.