Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
8 April 2026
A A
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Ilustrasi - Gen Z harus side hustle, mana bisa slow living (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak ada yang tidak mau slow living. Bahkan, generasi Z (gen Z) yang dicap sebagai generasi yang cukup berbeda dari generasi-generasi sebelumnya pun bercita-cita hidup tenang dan santai. Sayangnya, realitas hidup justru memaksa gen Z untuk bekerja keras dan side hustle sampai setidaknya mencapai usia pensiun.

Dalam kalimat lain, belum sampai usia pensiun, artinya masih harus bekerja.

Mempersiapkan slow living dari usia 20-an

Sebagaimana slow living menjadi cita-cita hampir sebagian besar orang, begitu pula dengan Jatayu (22). Perempuan yang berstatus sebagai mahasiswa ini mengaku, dirinya tengah mempersiapkan untuk slow living.

“Aku sedang mempersiapkan untuk slow living,” kata dia kepada Mojok, Selasa (7/4/2026).

Salah satu kota yang berada dalam daftar teratas Jatayu untuk slow living berlokasi di Kediri, Jawa Timur. Menurutnya, kehidupan di Kediri tidak merogoh koceknya terlalu besar. Ia bisa hidup dengan tenang, serta menghabiskan tidak banyak uang di Kediri.

Dibandingkan dengan kehidupan di Jogja yang ramai, Kediri jauh lebih tenang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penduduk Jogja telah mencapai sekitar 4,1 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk Kediri bahkan kurang dari setengahnya, yakni 1,6 juta jiwa. 

Memang, perbedaan jumlah penduduk juga dipengaruhi luas wilayah Jogja yang mencapai 3.185,80 kilometer persegi, sedangkan Kediri hanya 1.449,45 kilometer persegi.

Namun tak masalah, bagi Jatayu, biaya hidup di Kediri yang lebih murah sudah cukup menjadi alasan utama. 

“Kalau realistis ya di Indonesia, di Kediri sih lebih murah,” kata dia.

Berdasarkan penilaian 8 komponen slow living yang salah satunya menyangkut ekonomi, Kediri termasuk kawasan paling ideal peringkat ke-6 untuk slow living. Harga kebutuhan dasar di wilayah Kediri lebih terjangkau sehingga dapat mengurangi tekanan untuk mencari uang lebih.

Skor Ekonomi Kawasan Ideal untuk Slow Living
Grafik – Skor ekonomi kawasan ideal untuk slow living (Sumber: Kompas/EKI/RSW/SPW)

Dihantam realitas harus side hustle

Namun, kata Jatayu, sampai hari ini dirinya bahkan tidak bisa melakukan salah satu wujud slow living. Sebagai contoh, sekalipun berada di rumah, Jatayu tetap tidak bisa lepas dari laptop untuk bekerja.

Ia setidaknya memiliki tujuh pekerjaan yang harus dilakukan dalam satu waktu, membuatnya tergolong melakukan side hustle dalam pekerjaan.

“Aku di rumah tetap bekerja,” kata dia.

Jatayu menyadari, salah satu kesulitan generasinya, gen Z, untuk dapat mencapai taraf slow living adalah adanya banyak keinginan yang harus dikejar. Sementara itu, slow living berarti menikmati hidup dengan tenang sebagaimana adanya.

Iklan

“Mungkin [slow living] lebih ke hidup tapi nggak ngejar apa-apa,” kata dia.

“Sekarang kita nggak slow living karena banyak yang dikejar,” tambahnya.

Gen Z, menurut dia, ditempatkan dalam kondisi harus melakukan banyak hal. Keharusan ini membuat gen Z merasa harus mencapai hal-hal tersebut dalam satu waktu, bahkan dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan keterbatasan usia apabila memungkinkan. 

Sebuah riset yang dilakukan Stanford mengungkap gen Z memiliki pandangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini, salah satunya, membuat gen Z menghadapi tantangan yang berbeda, serta ekspektasi yang lebih berat dengan karena “keunikan”  mereka.

“Kita dibikin harus ini itu. Kayak sebenarnya siapa sih yang nyuruh kita ini cepat-cepat?”

Berbicara soal gen Z yang dituntut selangkah lebih cepat, generasi ini menunjukkan bahwa mereka tidak tanggung-tanggung dalam pekerjaan. Tidak cukup dengan satu gaji, mereka mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus atau dikenal dengan istilah side hustle. Mengacu pada Harris Poll, 6 dari 10 pekerja gen Z setidaknya dinyatakan memiliki side hustle. Pekerja gen Z menjadi mayoritas pekerja side hustle dengan persentase 57 persen, meninggalkan milenial di 48 persen, gen X 31 persen, dan boomers 21 persen.

Gen Z tidak hanya menganggap side hustle sebagai tambahan penghasilan. Banyaknya pekerjaan sampingan yang mereka lakoni justru mencerminkan strategi karier yang berbeda untuk dapat mencapai tujuan.

Slow living hanya mimpi, paling memungkinkan terwujud setelah pensiun

Dengan berbagai tuntutan hidup, Jatayu bilang, paling memungkinkan dirinya akan slow living ketika mencapai usia pensiun.

“Di tengah ekonomi sekarang, kayaknya baru possible di usia pensiun,” kata dia.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2015, usia pensiun adalah 59 tahun. Artinya, slow living baru memungkinkan untuk diwujudkan pada usia tersebut.

Perempuan ini juga memungkiri kemungkinan akan pensiun dini. Artinya, kesempatan untuk hidup tenang lebih dulu dari usia tersebut tidak ada. Ia masih akan bekerja untuk waktu yang lama.

“Nggak mungkin pensiun dini,” kata dia.

Namun demikian, Jatayu tidak muluk-muluk kalau usia pensiun sekalipun tidak menjamin dirinya sudah mengumpulkan cukup bekal untuk slow living. Bisa jadi, usia pensiunnya masih dihabiskan untuk bekerja karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Jadilah, ia memilih untuk tetap akan bekerja.

“Kayaknya kalau nggak bisa slow living, aku akan tetap kerja dan ya sudah,” kata dia.

Kalaupun memungkinkan, dirinya bilang, bukan tidak mungkin tidak akan berhenti bekerja. Pasalnya, sebagai gen Z yang sudah terbiasa side hustle, berhenti dari pekerjaan bukan perkara mudah. Malahan, kondisi tidak bekerja bisa membuat diri merasa kebingungan dan kehilangan arah.

“Tapi kayaknya kalau slow living, aku akan tetap bekerja, karena gabut kalau nggak kerja,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: alasan gen z side hustlecara bisa slow livingdaerah untuk slow livingGen Zgen z bekerjagen z side hustlegen z slow livingslow livingslow living di desaslow living di kediri
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Kaya dari Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.