Resign after lebaran memberikan sedikit ketenangan yang disyukuri setelah bergulat kerja di kantor toxic. Tapi memang setelahnya tetap memberi dampak stres dan pusing yang tidak terhindarkan jika tanpa persiapan.
***
Platform rekrutmen pekerjaan daring, Jobstreet by SEEK, mengungkapkan: usai lebaran, memang kerap terjadi fenomena pencarian pekerjaan baru yang disertai gelombang pengunduran diri alias resign. Sejumlah pekerja memang sengaja menanti lebaran karena mengincar haknya: THR.
Menurut laporan Jobstreet by SEEK dalam Workplace Happiness Index, banyak pekerja di Indonesia dengan gaji yang sebenarnya layak memilih untuk resign. Jadi persoalan gaji bukan faktor utama kenapa pilihan mengundurkan diri itu diambil.
Setidaknya ada dua motivasi: Pertama, demi mencari keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance). Dan kedua, mencari pekerjaan yang membuat diri merasa lebih bermakna.
Mensyukuri resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic
Dalam kasus lain, kemuakan terhadap tempat kerja menjadi alasan kuat kenapa seseorang memilih resign after lebaran. Misalnya Dania (27).
Dania pernah merasakan kerja di sektor swasta di Bandung, Jawa Barat, dengan gaji yang terbilang layak. Namun, sejak 2024, lebaran 2025 menjadi momen yang ia nanti-nanti agar bisa resign.
Pasalnya, meski baru bekerja di di Bandung pada 2023, tapi ia merasa sudah sangat muak dengan lingkungan toxic di kantor. Ia punya atasan yang tidak kenal jam kerja. Sering tiba-tiba di akhir pekan, hari libur tanggal merah, atau di jam-jam malam, si atasan mengirim pekerjaan baru dengan tuntutan yang harus lekas diselesaikan.
“Ada jatah cuti tahunan, tapi mau diambil susahnya minta ampun. Lebih sering nggak di-acc. Alasannya, pekerjaan sedang padat, padahal sudah kebereskan,” tutur Dania, Sabtu (28/3/2026).
Dania merasa sering tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Karena hidupnya hanya tentang pesan WhatsApp berisi instruksi kerja, kerja, dan kerja dari atasan.
Bahkan ketika sedang nongkrong pun, setiap beberapa menit sekali ia harus mengecek hp. Alih-alih menunggu pesan masuk dari sang pacar, tapi justru untuk memastikan: apakah atasannya mengirim instruksi baru atau tidak.
“Belum lagi lingkungan teman. Karena banyak teman yang berwajah dua. Ada pula teman kantor sok iye, yang kerjaannya nyari-nyari kesalahan orang lain. Si paling-paling lah,” beber Dania.
Maka setelah memutuskan resign dari kantor toxic after lebaran 2025, Dania merasa benar-benar bersyukur karena bisa lepas dari lingkungan memuakkan itu.
Jeda sejenak untuk diri sendiri dan waktu untuk ortu
Dania perempuan asal Jogja. Meski Bandung dan Jogja sama-sama kerap menjadi objek romantisasi, tapi selama masa kerja di kantor toxic itu ia tiba-tiba menjadi sangat rindu dengan Jogja. Padahal sebelumnya ia sangat semangat meninggalkannya.
Pada awalnya Dania amat gamang untuk memutuskan resign. Sebab, mencari pekerjaan—sekalipun untuk S1 dan berpengalaman—konon makin sulit. Namun, keputusan itu toh pada akhirnya ia ambil juga.
“Aku mensyukuri karena setelah kembali ke Jogja, akhirnya aku bisa jeda dari rutinitas memuakkan, penuh tekanan, dan penuh kepalsuan itu,” katanya. Ia punya banyak untuk dirinya sendiri. Menikmati malam di Jogja yang riuh dalam remang.
Selain itu, akhirnya ia pun bisa menebus rindu atas banyak waktu yang terbuang dengan orang tua. Sebab, karena sulitnya mengambil jatah cuti, ia menjadi jarang pulang. Sementara saat sedang sumpek-sumpeknya, ia kadang merasa perlu sekadar menatap wajah ibu dan ayah di rumah, ngobrol ringan, atau keluar makan bersama.
Resign after lebaran karena gaji toxic kantor
Berbeda dengan Dania yang melepas gaji layak, kemuakan Sahar (26) lebih karena gaji toxic di tempat kerjanya di Surabaya, Jawa Timur.
Bekerja di sektor swasta sejak 2021, ia memutuskan resign after lebaran pada 2024 karena karier dan gaji stagnan. Gajinya separuh UMR Surabaya. Sementara ia adalah anak pertama yang memikul beban ekspektasi keluarga.
“Kalau aku, nekat resign karena merasa nggak bakal bisa lebih karena cuma kerja di situ. Gajinya terlalu mini,” kata Sahar.
Walaupun ia juga nyambi sebagai driver ojek online (ojol), tapi karena gaji utamanya tipis, jadi masih terasa kurang. Itu pun dengan beban kerja yang tidak seimbang: beban kerja gede, eh gajinya mini.
Keputusan “ngawur” yang bikin stres dan pusing kalau tidak dipersiapkan
Dania dan Sahar sama-sama sepakat, keputusan resign after lebaran bisa berubah menjadi keputusan “ngawur” yang bisa bikin stres dan pusing berkali-kali.
Misalnya Dania. Ia memutuskan resign ya resign aja. Pikirannya saat itu sederhana: yang penting lepas dari kantor toxic. Meskipun orang tuanya cenderung tidak punya persoalan finansial, tapi menjadi pengangguran ternyata juga tidak menyenangkan.
“Masalahnya tidak sesederhana itu ternyata. Karena tabungan dan THR belum tentu tahan sampai kita nemu kerjaan lagi. Sedangkan cari kerja lagi juga butuh waktu,” ucap Dania.
Alhasil, ada masanya ketika Dania stres dan pusing kerana tidak kunjung mendapat pekerjaan baru. Sementara hidup terus berjalan.
Senada, Sahar juga mengungkapkan, kalau resign sekadar resign dari kantor toxic, semua orang bisa. Tapi tidak semua orang bisa survive setelahnya.
“Aku belajar dari beberapa teman yang resign sekadar resign, tanpa persiapan. Hasilnya, malah nganggur lamar, sampai stres. Padahal niat resign demi nggak stres eh susah cari kerja justru lebih stres,” kata Sahar.
Itulah kenapa, jauh sebelum resign, ia sudah mempersiapkan sejumlah opsi. Dari opsi paling ideal sampai opsi paling mentok. Saat itu, opsi idealnya adalah sebelum resign harus ada kepastian satu langkah diterima di tempat kerja baru. Opsi paling mentoknya adalah untuk sementara waktu menjadi fulltime driver ojek online (online) sambil terus mencari pekerjaan baru.
Cara memandang dunia kerja yang berbeda
Pada akhirnya Dania bisa kembali bekerja, masih di sektor swasta, di Jogja. Gajinya sebenarnya separuh lebih kecil dari gajinya di Bandung. Namun, ia merasa jauh lebih menemukan keseimbangan hidup. Kerja sewajarnya. Di luar jam kerja juga punya waktu untuk diri sendiri dan orang tua.
“Setidaknya, walaupun setiap kantor kayaknya memang pasti ada orang toxic yang memuakkan, tapi ritme kerjanya jauh lebih memanusiakan,” kata Dania.
Sementara Sahar punya pandangan berbeda. Untungnya ia tidak sampai pada pilihan mentok. Sebab, dua bulan setelah resign, ia mendapat pekerjaan baru dari informasi yang ia peroleh dari teman kuliah.
“Itu memang bagian dari plan. Kontak teman yang kerjaannya udah enak. Minta info kalau ada loker,” kata Sahar.
Dibanding kantornya sebelumnya, lingkungan pertemanan di kantor barunya sebenarnya tidak menyenangkan. Suasana kantor terasa lebih tegang. Apalagi juga ada blok-blokan: di dalam kantor terbagi ke dalam beberapa blok/circle.
Sahar tidak mau ambil pusing soal itu. Baginya, kayaknya di setiap kantor pasti ada model seperti itu. Prinsipnya, pokokn ya ia kerja bener, gajian layak, sudah.
“Gaji lebih layak. Ya imbang antara beban kerja dengan gaji yang kuterima. Ini bagian yang kusyukuri dari pilihan resign setelah lebaran,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














