Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Februari 2026
A A
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang pemilik kos di Jogja mengaku resah dengan tingkah laku mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN atau PTS Jogja dan menyewa kosnya di Depok, Sleman. Tapi ia hanya bisa memendam kesal sembari menerima teguran demi teguran dari tetangga, belum bisa berbuat lebih banyak. 

***

Pada malam setengah gerimis di penghujung Januari 2026 lalu, saya bertamu ke kediaman Bendi (40) di Depok, Sleman, Jogja. Saya datang untuk pijat capek karena tubuh yang rasanya agak remuk setelah perjalanan demi perjalanan lintas kota. 

Bendi membuka praktik pijatnya di sebuah kamar berukuran 2×3. Kamar itu terhubung langsung dengan bangunan rumah yang ternyata difungsikan untuk kos. 

Kata Bendi, rumah tersebut merupakan bangunan kos peninggalan mendiang sang ibu. Sejak sang ibu meninggal pada 2022 lalu, Bendi mendapat tanggung jawab untuk mengurusnya. 

“Ada empat kamar, nanti rencana ada kamar baru lagi. Perkamar sejak masa ibu dikasih harga Rp550 ribu. Bisa sendiri, bisa berdua. Kalau berdua ya jadi Rp800 ribu. Kebanyakan mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja,” jelas Bendi. 

Ada beberapa kelakuan para mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja selama menyewa kamar di kos milik Bendi (ya semoga hanya oknum, karena Bendi yakin tidak semua mahasiswa asal Jakarta seperti itu, hanya yang sewa di kosnya saja yang begitu), antara lain: 

#1 Mahasiswa Jakarta terkesan tak punya sopan santun di Jogja, sekalipun dengan pemilik kos

Bendi mengakui, sebagai warga asli Jogja, ia masih memegang teguh nilai sopan santun dan tepa selira (toleransi sosial). Di mana bumi dipijak, situ langit dijunjung. Itu peribahasa yang Bendi pegang betul. 

Oleh karena itu, ia mengaku tidak bisa bersikap biasa saja ketika mendapati ulah-ulah tidak menyenangkan dari para mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN atau PTS Jogja tersebut. Walaupun sebenarnya banyak pemilik kos lain yang menganggapnya biasa saja. 

“Sesimpel menyapa, menundukkan kepala, senyum kalau ketemu orang yang lebih tua. Itu penghuni kos saya nggak bisa. Sementara lingkungan sini padat,” ujar Bendi. 

Lha kok ke warga sekitar, ke pemilik kos sendiri saja mereka cenderung cuek dan jutek. Tone bicara juga tidak bisa halus, tapi selalu agak tinggi. Memberi kesan tidak nyaman bagi Bendi. 

“Misalnya, kalau mereka mau komplain apa soal fasilitas kos di grup WA, menyampaikannya juga nggak enak. Mungkin karena saya terbiasa dengan kalau mau apa-apa diawali dengan, minimal, ‘Nuwun sewu, atau mohon maaf, matur nuwun, atau terima kasih’,” ucap Bendi. 

#2 Mahasiswa Jakarta di kos Jogja: tidak bisa atur omongan

Selama memijat punggung saya, dari bangunan kos terdengar teriakan-teriakan dari dua orang mahasiswa asal Jakarta tersebut. Teriakan penuh umpatan, dari “ngentod”, “anjing”, “bangsat”, “tolol”, dan sejenisnya. Kalau dari kebisingannya, sih, mereka sedang sibuk mabar Mobile Legend (ML). 

Sekali lagi, Bendi mengakui, barangkali ia lah yang terlalu kolot. Karena sekarang mabar ML sudah menjadi kelaziman di kalangan anak muda, apalagi sambil teriak-teriak dan mengumpat. 

Iklan

“Kenapa saya terganggu? Karena kata-kata yang keluar kasar dan itu terdengar kencang. Maksud saya, kalau mau ngumpat-ngumpat ya mbok yang lirih-lirih (pelan-pelan),” keluh Bendi. 

Mungkin karena di Jakarta, umpatan yang dilontarkan terang-terangan oleh anak muda di lingkungan yang sebenarnya banyak orang tuanya dianggap hal biasa. Sementara di lingkungan Bendi tidak demikian. 

Bendi sendiri sudah beberapa kali menerima teguran dari tetangganya di kawasan Depok, Sleman, tersebut. Apalagi, teriakan-teriakan yang mengganggu tersebut tidak hanya soal kata-kata kasar, tapi juga soal waktu. 

#3 Tak tahu waktu, tak peduli jika mengganggu

Lalu lalang di kos milik Bendi di Depok, Sleman, tersebut terbilang nyaris tanpa jeda. Ada saja penghuni kos yang dihampiri oleh teman kuliahnya dari PTN/PTS di Jogja tempat mereka kuliah. 

Sekadar untuk mabar ML, gitaran, atau sekadar diskusi. Tidak hanya sesama jenis, tapi juga lawan jenis pun masuk. 

Masalahnya, mereka kerap tidak tahu waktu. Sebab, sering kali keramaian di kos milik Bendi tersebut berlangsung hingga lewat tengah malam. Sementara di atas jam 10 malam, lingkungan kos di Depok, Sleman, tersebut sudah lengang. 

Kebiasaan yang, mungkin normal di Jakarta, tapi kalau dibawa di tengah sebuah perkampungan seperti Depok, Sleman, menjadi agak mengganggu kenyamanan warga setempat.

Mau negur takut kehilangan penghuni

Agak dilematis bagi Bendi untuk menegur atau membuat aturan yang lebih ketat pada kosnya. Sebab, pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja, itu mempertimbangkan risiko yang bakal ia hadapi setelahnya. 

Misalnya, jika ia membuat aturan jam malam. Bisa jadi penghuni yang sekarang memilih mencari kos lain yang jamnya lebih leluasa, sementara para pencari kos tidak akan meliriknya. Karena memang kos model begitu lah yang banyak dicari: yang menawarkan fleksibilitas jam. 

Apalagi jika ditambahi aturan “dilarang berisik di atas jam 12 malam” (misalnya). Malah tidak akan ada yang tertarik buat ngekos di kos milik Bendi. 

“Dulu zaman ibu itu kayaknya masih sopan-sopan dan tahu aturan. Sejak setelah pandemi, penghuninya kan mahasiswa-mahasiswa generasi baru yang kuliah di PTN/PTS Jogja. Yang asal Jakarta juga beda dengan dulu di zaman ibu masih hidup,” kata Bendi. 

Jika dulu mahasiswa asal Jakarta masih berupaya tahu tempat, generasi yang sekarang cenderung lebih bodo amat, cenderung persetan dengan norma atau aturan sosial di bumi yang mereka pijak.

“Ya nanti ada waktunya saya tegur mereka,” tutur Bendi. Di saat bersamaan, suara “Goblok!” terdengar berulang-ulang dari area kos milik Bendi. Menggoblok-goblokkan rekan mabar yang dianggap tidak becus. Saya tersenyum menatap Bendi, sedangkan Bendi menghela napas berat membalas tatapan saya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2026 oleh

Tags: depok slemanJogjakos depokkos di slemankos jogjakos mahasiswakos mahasiswa jogjakos mahasiswa slemankos murah jogjamahasiswa di jogjaPTN Jogjapts jogjasleman
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)
Pojokan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO
Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.