Slow living di Malang itu cuma akal-akalan. Pindah kerja ke kota ini buat mencari ketenangan malah berujung kena mental. Sama saja sumpeknya dengan Jakarta.
***
Bosan dengan macet, polusi, dan tekanan kerja di ibu kota, banyak orang pada akahirnya mencari pelarian. Belakangan ini, konsep slow living alias hidup santai mulai banyak diagungkan.
Kalau kamu mencari rekomendasi kota untuk menjalani gaya hidup ini di media sosial, nama Kota Malang pasti selalu muncul di urutan teratas. Biasanya bersanding dengan Jogja, Salatiga, atau Purwokerto.
Di linimasa TikTok atau Instagram, Malang selalu digambarkan dengan sangat estetik. Kotanya sejuk, banyak kafe nyaman, dan orang-orangnya tampak memiliki ritme hidup yang pelan.
Menonton video semacam itu, siapa yang tidak tergiur? Bayangannya, kita bisa kerja remote sambil menyeruput kopi hangat di pagi hari dan hidup damai jauh dari suara klakson.
Malang yang dulu bukanlah yang sekarang
Sayangnya, bayangan indah itu sering kali hanyalah memori masa lalu yang terus diputar ulang oleh algoritma. Realitanya, Malang hari ini sudah jauh berubah.
Mitos Malang sebagai surga slow living sebenarnya tidak salah-salah amat. Dulu, hal itu memang fakta.
Aditya (33), seorang karyawan swasta yang kini menetap di Jogja, bisa bersaksi soal masa kejayaan itu. Ia menghabiskan masa kuliahnya di Malang pada rentang tahun 2011 hingga 2015. Menurut Aditya, Malang kala itu memang sangat ideal untuk hidup tenang.
“Dulu itu Malang masih sejuk. Jalanan kayak Suhat (Jl. Soekarno-Hatta) atau Ijen masih cukup lengang. Pokoknya masih syahdu banget,” kenang Adit, Jumat (10/4/2026).
Namun, ekspektasi Aditya hancur lebur ketika ia memutuskan untuk reuni ke Malang pada akhir tahun 2023 lalu. Niatnya ingin bernostalgia dan mencari ketenangan, ia malah disuguhi pemandangan yang menyesakkan.
Hawa kota yang dulu sejuk, kini sudah nyaris tidak terasa. Jalanan semrawut dan macet di mana-mana. Kafe memang menjamur di setiap sudut, tapi suasananya berisik dan jalanannya terasa sangat padat.
“Setelah beberapa hari berada di sana, aku ngerasain kalau vibes Malang yang dulu aku kenal sudah mati.”
Ruang terbuka hijau makin menipis
Perasaan Aditya soal udara Malang yang makin memanas itu bukanlah sekadar perasaanya saja. Data di lapangan memvalidasi perubahan tersebut.
Banyak sumber menyebut, hilangnya hawa sejuk di Malang sangat berkaitan erat dengan menyusutnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta masifnya pembangunan fisik.
Lahan yang dulunya dipenuhi pohon peneduh atau area resapan air, perlahan tapi pasti berubah fungsi menjadi deretan ruko, kafe, dan kawasan indekos mahasiswa.
Catatan suhu dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengonfirmasi hal ini. Pada beberapa periode di siang hari, suhu udara di Malang kini sering menembus angka 32 hingga 34 derajat Celsius.
Angka ini tergolong panas dan membuat tubuh cepat gerah. Fakta cuaca ini jelas menjadi tamparan keras, karena suhu seterik itu sangat “diharamkan” bagi para penganut slow living yang mencari kesejukan.
Pindah kerja ke Malang, niat mencari ketenangan malah zonk
Sayangnya, fakta bahwa Malang sudah memanas dan makin sesak seringkali baru disadari setelah orang benar-benar pindah. Hal inilah yang menjadi pukulan telak bagi Fajar (30), seorang pekerja kantoran yang sebelumnya bekerja di Jakarta Barat.
Saat menerima keputusan mutasi untuk bekerja di kantor cabang Malang, Fajar sangat antusias. Teman-teman kantornya di ibu kota pun ikut memanasi.
“Teman kantor pada iri gitu, ‘Wah enak pindah ke Malang bisa work-life balance, slow living, udara adem nggak kayak di Jakarta’,” ujar Fajar, Jumat (10/4/2026)
Fajar berangkat ke Malang pada akhir 2024 lalu dengan sumringah. Bayangan hidup tenang, slow living, sudah tergambar di benaknya.
Sialnya, baru di bulan pertama bekerja, ilusi kota sejuk itu luntur. Yang dia rasakan malah cuaca panas yang menyengat, yang membuat kemeja kerjanya sering basah lepek.
“Suhu siang hari di Malang itu benar-benar parah. Udara sejuk itu baru terasa dini hari.”
Jalanan juga tak beda jauh dengan Jakarta
Tak sampai di situ. Niat Fajar mencari work-life balance juga hancur lebur di jalan raya. Sebagai karyawan yang terikat jam masuk dan pulang kerja, ia harus berhadapan dengan rutinitas kemacetan Malang.
Apalagi, kantor cabangnya yang berada di sekitar kawasan sibuk membuatnya tua di jalan setiap hari. Pagi dan sore, ia harus ikut berdesakan dengan ribuan mahasiswa dan pekerja lain.
“Apalagi Malang itu jalanannya juga bising, motor-motor pada ugal-ugalan, ampun-ampunan.”
Berbeda dengan pekerja lepas yang bisa langsung pindah kota saat merasa sumpek, Fajar terjebak oleh kontrak kerjanya. Niatnya slow living, malah berubah jadi mode bertahan hidup setiap hari.
Dipenuhi plat luar kota
Penderitaan Fajar makin lengkap di akhir pekan. Niat awalnya, ia ingin melepas penat atau healing ke Kota Batu yang letaknya bersebelahan dengan Malang setiap libur kerja. Kenyataannya, setiap Jumat sore hingga Minggu malam, jalanan Malang dan akses menuju Batu lumpuh total.
Jalanan dikuasai oleh deretan mobil berpelat nomor luar kota, seperti pelat L (Surabaya), W (Sidoarjo), dan B (Jakarta). Fajar yang niatnya lari dari macet ibu kota, justru terjebak dalam kemacetan parah, tapi “versi” Jawa Timur.
Penderitaan Fajar ini bukanlah keluhan tunggal. Keluh kesahnya adalah curhatan massal yang rutin meramaikan linimasa media sosial seperti X (Twitter) atau Threads. Ketik saja kata kunci “Malang macet” atau “Suhat knalpot brong” di kolom pencarian. Kamu bakal langsung menemukan ribuan cuitan bernada kesal dari netizen, baik dari warga lokal maupun pendatang.
Mereka sama-sama mengutuk kemacetan parah setiap akhir pekan akibat “invasi” kendaraan luar kota. Netizen juga rutin memaki para pengendara motor berknalpot bising yang seenaknya merusak jam tidur warga.
“Udah mau setahun di Malang aku akhirnya sadar, ini kota metropolitan. Padat. Jalanannya kayak Margonda di Depok,” kata Fajar. “Slow living di Malang itu cuma akal-akalan.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
