Sama seperti warga Indonesia lainnya yang kelimpungan mencari keajaiban 19 juta lapangan kerja, Johan (20) memilih menjadi fotografer freelance usai lulus SMA. Salah satunya di Kota Lama Surabaya.
***
Johan masih terjaga di area Taman Sejarah Kota Lama Surabaya meski jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Ia sedang duduk sambil mengotak-atik kamera DSLR di bawah pohon saat saya dan teman-teman hendak menggunakan jasanya.
“Mas, bisa foto kami nggak ya?” tanya salah satu teman saya, Rabu (27/5/2026), yang dijawab Johan dengan anggukan.
Sebenarnya, selain Johan, ada banyak fotografer yang lalu lalang di Kota Lama Surabaya. Beberapa sibuk memotret pengunjung atau wisatawan, sementara lainnya sedang rehat di trotoar jalan.
Namun, karena Johan tak “agresif” menawarkan jasanya—entah karena masih muda atau memang pendiam—kami justru santai untuk memintanya memotret. Toh, dia memang tampak senggang.
“Orang-orang biasanya foto di depan sini Kak,” kata Johan menunjuk bangunan De Javasche Bank yang menjadi spot foto ikonik pilihan banyak orang, sembari mengatur posisi kami dengan kikuk.
Menjemput pelanggan di Kota Lama Surabaya sampai larut malam
Mulanya, kami santai saja mengikuti arahan Johan dan melakukan banyak gaya untuk difoto. Sampai kemudian saya ragu, berapa harga yang harus kami bayar untuk satu kali foto? Apakah kami bisa memilih foto-foto tersebut sesudah Johan menjepret banyak foto? Atau bagaimana, sebab ia tak menjelaskan di awal.
“Oh, untuk 3 foto harganya Rp10 ribu Kak. Hasilnya saya pindah lewat kabel Type-C ke handphone kakak,” jelas Johan kemudian.
Karena saya dan teman-teman cukup berisik dan kegirangan untuk difoto, teman saya langsung nyeletuk iseng, “boleh lah Mas, 4 foto Rp12 ribu,” ucapnya.
“Boleh Kak, saya kasih bonus saja. Jadi 4 foto bayar Rp10 ribu saja,” kata Johan yang kami pun tidak menyangka dia malah menawarkan harga murah.

Barangkali, ia sendiri senang karena kami mengajaknya ngobrol sebentar. Maklum, malam-malam di Kota Lama Surabaya memang agak sepi. Pengunjung yang membawa motor dibatasi jam malamnya hingga pukul 22.00 WIB.
Jika bandel, ban mereka bakal digembosi satu-satu oleh petugas Dinas Perhubungan. Namun, Johan mengaku masih diperbolehkan mangkal dari pukul 15.30 WIB sampai 23.00 WIB.
Fotografer di Kota Lama Surabaya harus berpengalaman
Johan sudah 2 tahun ini jadi fotografer freelance bahkan saat dirinya masih SMA dan lulus pada 2025 kemarin. Sejak kecil ia memang suka memotret dengan gawai. Baginya, foto bukan sekadar gambar tanpa makna, melainkan momen yang diabadikan lewat karya visual.
Meski tak punya kamera mahal, niatnya untuk belajar fotografi tak pernah surut. Yang jelas, kata dia, fotonya harus punya cerita di dalamnya.
Dari hobi itulah Johan mulai mencari kerja-kerja freelance di dunia fotografi seperti acara lamaran, wisuda, akad, hingga acara ulang tahun. Pelanggan yang mulanya hanya di sekitar lingkup pertemanannya saja, kini meluas.

Sampai akhirnya ia tertarik untuk ikut komunitas dan diajak oleh temannya untuk jadi fotografer di Kota Lama Surabaya.
“Setelah aku pikir, ya oke lah aku terima, karena memang hobiku untuk mendokumentasikan sesuatu. Dan nggak ada syarat muluk-muluk, yang penting punya pengalaman. Fasilitas kameranya juga sudah disediakan. Jadi aku langsung bekerja keesokan harinya,” tutur Johan.
Hidup di Kota Pahlawan dengan upah di bawah UMK
Menurut Johan, harga jasa foto di Kota Lama Surabaya berbeda-beda tergantung dari fotografernya. Johan sendiri mematok harga Rp10 ribu untuk 3 foto, asal pelanggan tidak minta 1-2 foto saja. Dari harga tersebut, Johan bisa mendapatkan upah sekitar Rp3 juta per bulan.
“Itu pun kalau ramai pengunjung atau tambahan dari job desk di luar seperti acara lamaran atau akad,” jelas Johan.
Meski upahnya tak setara dengan UMK Kota Surabaya (Rp5,2 juta di tahun 2026), Johan mengaku bersyukur. Setidaknya, ia masih punya uang saku tanpa membebani kedua orang tuanya setelah lulus SMA.
“Selebihnya saya tabung untuk masa depan nanti,” kata pemuda asal Kenjeran, Surabaya itu yang punya cita-cita sebagai model di berbagai brand lokal hingga kancah nasional.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Perjuangan Mahasiswa USD Jogja Kuliah dari Hasil Jualan Oleh-Oleh di Tempat Ziarah, Kini Sukses Jadi Fotografer atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













