Beberapa pasangan muda, seperti Huda (29) dan istrinya, memilih “kabur” dari desa dan memutuskan tinggal di kos eksklusif Jakarta demi mencari ketenangan batin. Sialnya, keputusan ini sama buruknya. Di kota, mentalnya tambah hancur.
***
Banyak pasangan muda berpikir, obat terbaik dari lingkungan keluarga toksik adalah pergi sejauh mungkin. Lari ke kota besar, menyewa tempat tinggal berdua, dan memulai hidup baru, misalnya.
Kedengarannya ideal dan menjanjikan kebahagiaan. Namun, ekspektasi seringkali tidak seindah kenyataan. Inilah yang dialami Huda.
Di bulan ketujuh pernikahan, ia dan istrinya memutuskan minggat dari rumah keluarga istri di desa. Alasannya, sebenarnya bisa dimaklumi: tekanan mental.
Jengah jadi bahan bacotan mertua, memutuskan pindah ke kos eksklusif di Jakarta
Huda baru saja resign dari pekerjaannya dan sedang mencoba peruntungan menjadi freelancer sambil mencari pekerjaan baru. Namun, di mata keluarga mertuanya, laki-laki yang kerjanya cuma menatap laptop seharian tak ada bedanya dengan pengangguran.
“Standard orang desa itu aneh. Kita kerja, tapi kalau nggak kelihatan keluar rumah, dianggap nganggur,” kata Huda, Senin (13/4/2026).
Di sisi lain, istrinya juga sudah jengah. Tiap kali kumpul keluarga atau sekadar duduk di ruang tamu, pertanyaannya selalu berputar pada urusan rahim.
“Kapan isi?”, “Kok belum ada tanda-tanda?”, atau “Makanya suaminya disuruh kerja di luar biar badannya gerak, jangan di kamar terus.”
Akhirnya, dengan sisa tabungan yang ada, Huda dan istrinya memutuskan pergi ke ibukota. Karena dana pas-pasan, menyewa rumah atau apartemen bukanlah pilihan. Solusi paling masuk akal adalah menyewa kos eksklusif yang memperbolehkan pasutri.
Ekspektasinya, mereka ingin mendapat privasi, bebas dari omongan tetangga desa, dan Huda bisa fokus mencari kerja.
Ingin terlihat mandiri, malah jadi beban sendiri
Sialnya, penyakit pertama yang muncul dari pelarian ini adalah keharusan menjaga gengsi. Karena mereka pamit ke kota dengan narasi “ingin mandiri”, mereka pantang terlihat susah. Haram hukumnya mengeluh, apalagi sampai terdengar oleh telinga mertua dan tetangga di kampung.
Alhasil, istri Huda harus rutin bikin “laporan” lewat Instastory. Misalnya, hanya bikin story yang asyik-asyik di kos eksklusif, jangan sampai ada keluhan, apalagi yang ada hubungannya dengan finansial.
“Pokoknya sekali kita kelihatan susah, mau ditaruh di mana muka kita,” kata Huda.
Bahkan, Huda pernah mengaku sengaja “pamer”. Ia menyuruh istrinya memotret sebuah invoice dari klien yang memiliki nominal Rp3 juta. Meski uang itu belum dibayarkan, setidaknya mertua dan tetangganya tahu kalau di kota, ia punya penghasilan besar.
“Padahal aslinya lagi pusing banget itu,” ujar Huda. “Tahu sendiri kan pencairan invoice itu kek gimana, sering molornya.”
Di kos eksklusif, menderita karena kelakuan tetangga di dapur bersama
Tak sampai di situ. “Konflik” lain datang dari fasilitas kos itu sendiri. Kos eksklusif memang menjanjikan AC hingga kasur empuk. Namun, ada satu area yang menjadi tempat paling menyebalkan: dapur bersama.
Istri Huda awalnya lega karena tidak ada lagi ibu atau kerabat yang mengomentari cara dia memasak. Namun, kelegaan itu menguap saat ia harus berbagi fasilitas dengan penghuni lain.
“Istri itu sering ngeluh sayur tiba-tiba ilang. Dapur kotor banget, orangnya jorok-jorok. Begitulah,” kata Huda.
Mengenai hal ini, saya jadi ingat keluhan banyak teman kantor yang tinggal di kos eksklusif. Ia pernah bercerita bahwa dapur bersama memang menjadi tempat yang kerap bikin muak.
Seperti misteri hilangnya bahan makanan. Telur, sosis, hingga susu kotak yang sudah diberi label nama besar-besar di dalam kulkas, perlahan tapi pasti selalu menyusut jumlahnya. Tidak ada yang pernah mengaku, tapi semua saling curiga.
Belum lagi soal alat masak. Niat hati ingin masak sendiri untuk berhemat, sampai di dapur malah melihat wajan dan panci penuh kerak mi instan yang direndam air begitu saja. Penghuni sebelumnya malas mencuci.
Karena sesama anak kos biasanya menghindari konflik terbuka, “perang” pun biasanya pindah ke medium lain. Mulailah muncul kertas sticky notes di pintu kulkas yang bertuliskan pesan dengan nada-nada sindiran. Pesan itu kadang difoto dan dikirim ke grup WhatsApp penghuni kos dan kerap bikin ribut.
Niat cari ketenangan batin di Jakarta, malah menghancurkan mental
Puncak dari pelarian ini adalah ujian finansial. Huda yang bekerja freelance dari dalam kamar kos sering mengalami kebosanan. Batas antara tempat kerja, tempat makan, dan tempat tidur menjadi hilang. Semuanya dilakukan di atas kasur yang sama.
Saat kepala mulai penat dan dada terasa sumpek, mereka butuh keluar kamar kos eksklusif. Namun, di sinilah letak ironi terbesar hidup di kota. Di desa, kalau sedang pusing, mereka bisa berjalan-jalan ke sawah atau duduk di teras sambil mencari angin dengan biaya nol rupiah.
Di Jakarta, keluar kamar berarti harus siap menguras isi dompet.
“Kalau di kota, healing ya kemana sih? Paling mal, kafe. Mahal juga kalau dipikir-pikir,” kata Huda.
Huda menyadari, di kota besar, ketenangan batin itu memiliki harga. Pada akhirnya, melarikan diri dari desa ke kota tak selalu menjadi cara terbaik buat lari dari masalah.
“Di desa, palingan musuh kita itu ekspektasi mertua sama mulut tetangga. Kalau di kota, musuhnya malah lebih banyak, jadi tambah stres. Tapi nggak mau pulang juga ke rumah.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
