Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Februari 2026
A A
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Ilustrasi - Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja di luar negeri, dalam hal ini Taiwan, memang memberikan gaji besar: di angka Rp13 juta perbulan. Mendengar angka segitu, beberapa orang pasti akan mengira, wah pasti hidup sejahtera. 

Padahal tidak mesti begitu. Memang dapat gaji Rp13 juta. Tapi bertahun-tahun kerja di sana bisa bikin hampir gila kalau tidak kuat-kuatan mental. Memang gaji gede. Tapi batin teriris karena keluarga tidak pernah menanyakan kabar, tapi hanya “memeras” uang. 

***

Jika tiba waktu istirahat, Mahmudah (34) akan melakukan interaksi di sebuah grup Facebook yang berisi para pekerja migran Indonesia (PMI). Ada dua grup Facebook yang dia ikuti: satu grup yang lebih general—dengan anggota PMI di berbagai negara. Satunya lagi grup yang khusus di Taiwan. 

Kadang juga sekadar update keseharian melalui akun TikTok. Misalnya sekadar membagikan momen saat Mahmudah tengah bekerja: merawat seorang lansia. Di Taiwan, dia memang bekerja sebagai perawat lansia (caregiver). 

“Ya biar merasa hidup saja, Mas. Nyambung sama orang-orang senasib. Karena kan nggak mesti, walaupun sesama kerja di Taiwan, bisa ketemu itu nggak mesti. Waktunya habis buat kerja,” ujar Mahmudah bercerita, Senin (24/2/2026). 

Kerja ke luar negeri jadi caregiver di Taiwan: tinggalkan anak demi bayar utang

Mahmudah perempuan asal Tulungagung, Jawa Timur. Dia sebenarnya terbilang baru mencicipi kerja di luar negeri: sejak 2023 lalu. Saat itu usianya 31 tahun, memasuki usia pernikahan yang ke-3 tahun. Punya satu anak yang lahir pada usia ke-2 tahun pernikahan. 

Sebenarnya, pada usia 2 tahun pernikahan, persoalan ekonomi sudah menghantam rumah tangga Mahmudah. Utang menumpuk di mana-mana. Karena suami Mahmudah, yang hanya seorang guru honorer, tidak bisa berbuat banyak. 

Utang paling besar berasal dari bank. Sebab, Mahmudah dan suami sempat mengajukan pinjaman untuk merintis usaha yang berujung gagal. Sejak itu lah dia mencoba memantapkan diri untuk berangkat ke Taiwan usai mendapati tawaran sebagai caregiver. 

“Suami awalnya nggak mengizinkan. Aku juga berat ninggal anak, belum genap 2 tahun. Kalau orang tuaku malah terserah aku. Karena kenyataannya aku harus bayar utang yang banyak itu,” ujar Mahmudah. Berangkat lah dia untuk kerja di luar negeri untuk pertama kali: menjadi caregiver di Taiwan. 

Pelarian perempuan Jawa Timur di tengah himpitan ekonomi

Sudah sejak lama Taiwan menjadi “pelarian” bagi perempuan-perempuan di Jawa Timur yang berada dalam himpitan ekonomi. 

Merujuk data Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Jawa Timur tercatat sebagai daerah pengirim PMI terbesar secara nasional. Taiwan menempati posisi kedua sebagai negara yang kerap dituju (30%-35%). Rata-rata memang bekerja di sektor informal: sebesar 65%. 

Tabel daerah tujuan PMI Jawa Timur untuk kerja di luar negeri MOJOK.CO
Tabel daerah tujuan PMI Jawa Timur untuk kerja di luar negeri. (Generated AI by NotebookLM/creator: Aly Reza)

Tulungagung, tempat asal Mahmudah, tercatat sebagai salah satu daerah asal Jawa Timur dengan jumlah PMI terbesar. Didominasi oleh kalangan perempuan (75%), merentang usia 21-40 tahun. 

Bukan tanpa alasan kenapa para perempuan asal Jawa Timur tertarik untuk merantau jauh hingga ke Taiwan. Pertama, lowongan kerja yang tersedia relatif mudah: paling banyak diincar sebagai asisten rumah tangga (ART) dan pengasuh lansia (caregiver). 

Iklan

Kedua, untuk pekerjaan tersebut, gaji yang diterima perbulan tidak tanggung-tanggung. Bisa menyentuh angka Rp10 juta ke atas. Kalau Mahmudah sendiri menerima gaji kotor sebesar Rp13 juta perbulan. 

Perempuan Tulungagung kerja ke luar negeri menjadi perawat lansia (caregiver) di Taiwan: gaji besar tapi batin tersiksa MOJOK.CO
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar. (Generated AI by NotebookLM/Creator: Aly Reza)

Situasi kerja di luar negeri (Taiwan) bikin hampir gila

Jam kerja yang ditetapkan sebenarnya 10 jam perhari. Namun, karena Mahmudah ikut tinggal di rumah majikan, praktiknya dia kerap harus bekerja hampir 24 jam penuh. 

“Misalnya malam-malam ada apa-apa begitu, ya aku harus bangun untuk mengurus si kakek di keluar tempatku kerja,” ungkap Mahmudah. 

Mahmudah bekerja di sebuah keluarga pekerja kantoran. Mereka tampak cuek betul dengan si kakek. Benar-benar menyerahkan si kakek untuk dirawat Mahmudah sepenuhnya. 

Batin Mahmudah, entah kenapa si kakek tidak dititipkan ke panti jompo saja, kalau ujung-ujungnya dirawat di rumah tapi sekadar diajak bicara saja tidak. “Barangkali mereka ngincar warisan, Mas, hahaha,” kelakar Mahmudah. 

Tentu dia tidak tahu persis apa yang terjadi di keluarga majikan. Mahmudah hanya fokus mengurus si kakek. Memandikan, menyuapi makan, mendorong kursi rodanya untuk jalan-jalan, bahkan menceboki. Walaupun tidak jarang si keluarga itu meminta Mahmudah untuk mengerjakan pekerjaan lain seperti membersihkan rumah. 

Bagi Mahmudah, rasanya seperti memiliki bayi lagi. Bedanya, dia merawat seseorang yang sama sekali tidak dia kenal. Dan itu membuatnya merasa bisa gila. Apalagi, di masa-masa awal menjadi caregiver, dia masih mengalami kendala bahasa. Kalau dia tidak paham maksud perkataan si majikan, si majikan akan tampak marah dan ngedumel. Begitu juga si kakek, kalau permintaannya merasa tidak dipenuhi sebagaimana yang dia maksud, maka dia bisa tantrum hebat. 

“Masa-masa awal itu cuma bisa nongas-nangis, Mas. Mau pulang nggak bisa karena sudah kontrak,” tutur Mahmudah. 

Orang rumah tidak pernah tanya kabar, cuma bisa “memeras” uang

Mahmudah sedikit lebih beruntung karena majikannya bukan tipikal orang yang gemar main tangan. Sebab, ada banyak kasus PMI perempuan di Taiwan yang menjadi korban kekerasan bahkan pelecehan seksual oleh majikannya. 

Berada di negara nun jauh dari Tulungagung jelas membuat Mahmudah merasa sangat asing. Namun, yang membuatnya nyaris gila lagi ternyata bukan soal itu, tapi justru dari tingkah orang-orang rumahnya di Tulungagung. 

“Sedari awal aku kerja di Taiwan aku ngabari, gajiku bisa Rp13 juta perbulan. Tapi itu kotor. Karena masih ada potongan untuk lain-lain. Di awal kontrak bayar biaya utang ke agen sebelumnya, yang untuk ngurus tetek bengek keberangkatan. Terus potongan-potongan lain tiap bulannya,” beber Mahmudah. 

Akan tetapi, yang keluarga tahu hanyalah Mahmudah punya uang besar. Alih-alih bertanya kabar tiap kali menelepon, sang suami, yang pada akhirnya memperbantukan saudara untuk mengurus anak mereka, kerap meminta kiriman untuk memberi uang terima kasih. Selain itu juga kerap meminta kiriman menebus utang-utang di bank. 

“Orang tuaku juga sama. Kalau mereka minta telepon aku, nggak bakal tanya kondisiku di sini seperti apa. Mereka mengiranya aku sejahtera di sini. Mereka juga kalau sedang butuh apa-apa mintanya kiriman ke aku,” tutur Mahmudah.

“Jadi dalam sebulan, ini yang wajib ya, aku bisa ngirim ke dua orang. Buat suami sekaligus anakku. Itu buat kebutuhan dan bayar utang. Lalu kirim juga ke orang tua,” sambungnya. Batin Mahmudah tersiksa. Dia merasa tidak lebih dari ATM keluarga yang bisa diperas kapan saja. 

Siksaan kangen anak dan ujian perceraian

Masa kontrak awal Mahmudah sebenarnya 5 tahun (2023-2025). Harusnya dia bisa pulang tahun lalu. Toh utang-utangnya ternyata bisa ditebus dalam waktu 5 tahun. 

Akan tetapi, dia merasa jauh-jauh kerja ke luar negeri itu terasa sia-sia belaka kalau hanya untuk bayar utang. Sementara dia belum bisa menyisihkan uang untuk keperluan pribadinya: sesimpel renovasi rumah misalnya. Maka, pada 2025 lalu ia memutuskan perpanjang setidaknya hingga 2028 nanti. 

“Ujian selanjutnya kangen ke anak. Kalau selesai video call begitu aku nangis karena kangen sekali. Tapi mau bagaimana lagi,” ucap Mahmudah. 

Selain itu, dorongan untuk minta cerai ke suaminya kian menguat seiring waktu. Sebab, Mahmudah merasa sang suami hanya menjadi beban, bukannya berkorban untuk mencari solusi atas masalah rumah tangga. Bagi Mahmudah, suami macam apa yang tega membiarkan istri menanggung utang keluarga sampai merantau jauh ke Taiwan. 

Pertengkaran hebat—melalui sambungan telepon—sudah tersulut sejak 2024 lalu. Mahmudah berpikir, sudah tidak mau lagi menanggung utang lagi, sisanya biar sang suami yang melunasi. Tapi suami justru menganggap Mahmudah telah menginjak-injak harga diri suami.

“Akhirnya aku terus terang minta cerai, biar anak diurus orang tuaku. 2025 seharusnya aku pulang buat ngurus perceraian. Tapi karena tertunda, aku lunasi utang-utangnya, tapi aku nggak mau ada hubungan lagi. Nanti diurus (perceraiannya) pas aku pulang,” beber Mahmudah dengan emosi dan sedih tertahan. 

Sebenarnya, menitipkan sang anak ke orang tua Mahmudah juga bukan solusi terbaik. Sebab, pada dasarnya orang tua Mahmudah sama saja: hanya butuh uang Mahmudah. Tapi setidaknya dia mengurangi satu beban (suaminya sendiri).

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: caregivercaregiver taiwangaji caregiver taiwangaji cargivergaji taiwankerja di luar negerikerja di taiwanperawat lansiapilihan redaksiTaiwan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO
Catatan

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO
Sehari-hari

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.