Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi para pekerja kantoran di Jakarta, rutinitas nine to five sering kali terasa seperti medan perang. Bagaimana tidak; kamu harus bangun saat langit masih gelap, berdesakan di KRL, dan  “tua di jalan” akibat kemacetan. Lalu, saat pulang, sisa energi cuma cukup buat rebahan. Namun, bagi Akmal (31), justru di desa lah istilah nine to five menemukan definisi yang jauh lebih menenangkan.

Lelaki asal Wonogiri ini bukanlah warga desa yang tak pernah melihat gemerlap ibu kota. Selama lima tahun, Akmal sempat mengecap asam garam kehidupan korporat. Ia pernah setahun kerja kantoran di Jogja, dan empat tahun di Jakarta. 

“Pas masih kuliah itu sebenarnya udah kerja kantoran di Jogja. Setelah kontrak habis, langsung mutusin merantau ke Jakarta,” kata Akmal, Senin (27/7/2026).

5 tahun kerja kantoran, memilih pulang ke desa

Namun, dua tahun lalu, setelah menikah, ia mengambil keputusan yang kerap dianggap “downgrade” oleh rekan-rekannya. Ya, Akmal memilih pulang ke desa.

Alasannya sederhana, tapi sulit buat ditawar: kedua orang tuanya sudah sepuh. Sementara ia adalah anak tunggal. Sehingga, sudah menjadi kewajiban untuk hadir menemani ayah dan ibunya di usia senja mereka.

Di desa, bersama istrinya, Akmal tinggal di rumah yang dibangunkan orang tuanya. Meski bentuknya belum mentereng, dan masih terus di-upgrade sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, rumah itu memberinya sesuatu yang gagal diberikan oleh ibu kota.

“Ketenangan batin,” tegasnya. “Meskipun masih bangunan baru, dikeramik saja belum, tapi tinggal dekat orang-orang yang disayang bikin tenang.”

Kini, Akmal bekerja di sebuah pabrik pemotongan ayam di kecamatan sebelah. Jam kerjanya tetap sama, masuk pukul delapan pagi dan pulang jam lima sore. Bedanya dengan di Jakarta, ia hanya butuh waktu 15 menit berkendara santai, tanpa perlu stres mendengar klakson di tengah kemacetan ibu kota. 

Di titik inilah, bagi Akmal, desa menjelma menjadi tempat ideal untuk merayakan kehidupan nine to five yang sesungguhnya.

Slow living banget ini. Hahaha.”

Meski lebih kecil dari UMR Jakarta, tapi sangat menikmatinya karena gaji “utuh”

Jika bicara nominal, jujur saja, penghasilan Akmal sekarang hampir setengah lebih kecil dibandingkan gajinya saat di Jakarta. Namun, anehnya, gajinya kini justru terasa “utuh”. 

“Aneh tapi nyata kan. Dulu rasanya gaji besar, tapi cepet juga habisnya,” ujar Akmal.

Menurutnya, di Jakarta, gaji besar sering kali hanyalah ilusi, karena ia habis dirampok oleh mahalnya biaya hidup ibu kota. Gaji Akmal di kota dulu menguap untuk membayar kos, biaya transportasi yang gila-gilaan, nongkrong, dan biaya buat memenuhi gaya hidup lain.

Sementara di desa, pos-pos pengeluaran itu hilang. Kebutuhan pangan juga sangat murah. Dan, yang paling penting, desa punya kearifan lokal yang menurut Akmal, tak akan pernah dipahami warga kota: budaya nembung.

“Kehabisan cabai saat masak? Tinggal nembung, metik di pekarangan tetangga. Butuh daun salam, apa lalapan, tinggal nembung dan metik,” katanya.

Bagi Akmal, support system komunal inilah yang menekan biaya hidup hingga ke titik terendah. Akibatnya, meski nominal gajinya menyusut, uang yang benar-benar bisa ditabung justru lebih besar.

“Dulu gaji 5 juta di Jakarta nggak bisa nabung. Sekarang lho cuma gaji setengahnya aja, tapi Alhamdulillah sudah bisa nabung.”

Mental benar-benar sehat

Selain urusan finansial, hidup di desa adalah detoks mental yang paling ampuh. Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Akmal benar-benar terputus dari mode kerja.

Tidak ada keharusan untuk nongkrong di kafe demi menjaga relasi, misalnya. Transisi dari pabrik ke rumah berjalan sangat mulus dan damai. 

Ia bisa menghabiskan sore dengan mengobrol bersama istrinya di teras, atau menemani orang tuanya. Kedekatannya dengan keluarga dan ritme hidup desa yang slow living secara perlahan menurunkan kadar stres yang dulu mengendap di kepalanya selama di Jakarta.

“Dulu itu cuma wacana aja sampai kos Maghrib. Nyatanya harus desak-desakan di KRL, sampai kos bisa jam 7 atau 8. Belum lagi kalau tim ngajak meeting tambahan, bisa gila.”

3 prinsip yang harus dipegang agar hidup tenang di desa

Namun, Akmal sadar betul bahwa desa bukanlah utopia yang bebas masalah. Kehidupan yang komunal berarti hilangnya sekat privasi. Agar mental tetap aman, gaji tetap terasa utuh, dan hidup tetap ideal, Akmal memegang teguh tiga prinsip ini: 

Pertama, wajib srawung. Di kota, kamu bisa hidup bertahun-tahun tanpa tahu nama tetangga sebelah kamar. Di desa, itu adalah dosa besar. 

Akmal memegang prinsip, ia harus srawung. Sesibuk apa pun ia dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, ketika ada kerja bakti, rapat RT, atau tahlilan di malam hari, ia wajib menampakkan muka.

Kedua, tebal telinga. Memilih pulang dari Jakarta dan “cuma” bekerja di pabrik pemotongan ayam tentu memancing nyinyiran. Tetangga di desa yang “terlalu peduli” sering kali melontarkan pertanyaan tajam atau komentar yang nyelekit.

“Makanya prinsipku, kalau di desa itu anggap aja nyinyiran tetangga angin lewat aja. Nggak usah dipikir dalam-dalam, nanti malam stres. Kalau butuh bantuan, kita semua kan bakal ke tetangga juga.”

Ketiga, ojo kemaki. Gajinya kini sisa banyak karena tak ada cicilan aneh-aneh dan rumah sudah tersedia, Akmal dan istrinya sangat menjaga gaya hidup agar tidak mencolok. Mereka hidup sewajarnya. 

Bagi Akmal, prinsip ojo kemaki, atau tidak sok pamer, sangat krusial untuk membentengi diri dari penyakit hati warga sekitar. Menurutnya, berbagi rezeki dalam bentuk yang tidak mencolok, dan memosisikan diri sejajar dengan warga lainnya adalah hal yang tak kalah penting.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version