Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Juni 2026
A A
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Ilustrasi kerja kantoran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Slogan “kantor adalah keluarga” cuma omong kosong yang bikin rugi pekerja. Tak cuma secara mental, tetapi juga finansial.

***

Iklan

“Bentar ya, sori banget. Atasanku baru aja ngirim revisian.”

Kalimat itu keluar dari mulut seorang kawan, tepat ketika kopinya baru diseruput dua kali. Hari Minggu sore, di momen long weekend pula, yang seharusnya kami pakai untuk bersantai mendadak berubah menjadi jam kerja tambahan. 

Ia buru-buru merogoh tas, memangku laptop, dan mulai mengetik dengan dahi berkerut. Saya bisa melihat raut lelah di wajahnya, sisa gempuran pekerjaan dari hari Senin sampai Jumat yang belum juga tuntas.

Ketika saya mengingatkan bahwa ini adalah hari libur dan ia punya hak penuh untuk menolak tugas tersebut, jawabannya justru terdengar memilukan.

“Aku nggak enak kalau nolak. Atasan itu udah kayak kakak sendiri, sering nraktir makan dan bahkan belain di depan manajemen. Kita di tim itu solid banget, udah kayak keluarga.”

Di permukaan, alasan kawan saya itu terdengar sangat hangat. Siapa yang tidak ingin punya lingkungan kerja yang saling mendukung laiknya keluarga? Memiliki atasan yang ramah dan rekan kerja yang kompak memang idaman semua orang. 

Namun, di balik narasi “atasan rasa kakak” atau jargon “kantor adalah keluarga”, tersembunyi sebuah jebakan eksploitasi. Rasa sungkan dan utang budi ini jelas merampas waktu istirahat dan kewarasan mental pekerja. Lebih jauh lagi, budaya kekeluargaan di tempat kerja nyatanya adalah instrumen ampuh, yang tanpa disadari, sedang menyabotase masa depan profesional mereka. 

Menganggap kantor sebagai keluarga bikin rugi pekerja secara mental

Dalam dunia kerja profesional, hubungan antara perusahaan dan karyawan diikat oleh selembar kontrak. Kontrak itu hitam di atas putih. Ada jam kerja yang jelas, ada tugas pokok yang terukur, dan ada kesepakatan soal upah. 

Jika ada tugas tambahan di luar kesepakatan tersebut, pekerja bisa dengan tegas menolaknya atau meminta upah lembur tambahan.

Sialnya, label “keluarga” kerap dipakai perusahaan ke dalam rutinitas kerja di kantor. Konsultan pengembangan organisasi, Joshua A. Luna, dalam esainya yang berjudul “The Toxic Effects of Branding Your Workplace a ‘Family’”, menyebut cara ini telah mengikis batas profesionalitas.

“Ketika bos sukses memposisikan diri sebagai ‘saudara’, penolakan dari bawahan tidak lagi dilihat sebagai hak buruh profesional,” kata Luna, dalam esai yang terbit di Harvard Business Review (2021) itu.

Dalam esainya, Luna menyebut fenomena ini sebagai boundary collapse.

Iklan

Akibat dari runtuhnya batasan profesionalitas ini, pekerja akan dihantui oleh manipulasi emosi. Otak mereka merespons situasi itu seolah-olah mereka adalah anggota keluarga yang egois karena enggan membantu saudaranya sendiri yang sedang kesusahan. 

Rasa bersalah inilah yang membuat pekerja rela mengorbankan haknya, kehabisan energi, dan terus merasa cemas karena selalu siaga menunggu pesan dari grup kantor. Padahal, dalam dunia kerja yang ideal, mengerjakan jobdesk harus didasari tuntutan profesionalitas–bukan kekeluargaan.

“Kesehatan mental pekerja menjadi korban. Ia akan dihantui rasa bersalah ketika tidak menjalankan perintah, meskipun sebenarnya dalam aturan perusahaan ia punya hak menolak.”

Jebakan menjadi karyawan palugada

Kerusakan mental akibat rasa sungkan ini, nyatanya baru permulaan. Bencana sesungguhnya terjadi ketika narasi “kantor adalah keluarga” mulai menggerogoti nilai jual pekerja di masa depan.

Profesor Ilmu Manajemen University of Oklahoma, Mark Bolino, dalam kajiannya di Harvard Business Review (2015), menjelaskan fenomena ini melalui konsep role creep. Ia merupakan situasi di mana tanggung jawab atau beban kerja seorang karyawan meluas secara bertahap dan informal, di luar deskripsi pekerjaan awal mereka.

Bolino menemukan fakta bahwa dorongan untuk terus membantu divisi lain atas nama kekeluargaan, akhirnya menjadi bumerang yang merusak performa pekerja itu sendiri. Pekerja mungkin terlihat rajin dan disukai banyak orang di kantor. Namun, mereka perlahan kehilangan kepakaran di bidang aslinya.

Mari kita ambil contoh sederhana. Atas nama “membantu keluarga” yang sedang kekurangan orang, seorang desainer grafis bisa tiba-tiba diminta mengurus naskah media sosial. Bulan depannya, ia diminta ikut menyusun laporan keuangan, atau membantu mengatur acara jalan-jalan kantor. Niat awalnya mungkin terkesan seperti proses belajar hal baru.

Nyatanya, sebagaimana diungkap Bolino, secara tidak sadar ini adalah bentuk eksploitasi beban kerja. Pekerja dipaksa menjadi staf serba bisa alias staf “palugada”.

Bahayanya baru terasa ketika pekerja ini mencoba melamar ke perusahaan lain. Di bursa kerja yang sebenarnya, seorang spesialis yang menguasai satu bidang secara mendalam selalu dibayar jauh lebih mahal dibandingkan generalis yang serba bisa tapi dengan kemampuan pas-pasan.

Karena terlalu sibuk mengurus jobdesk divisi lain atas nama gotong royong, keahlian utama si desainer grafis tidak pernah benar-benar terasah tajam. Riwayat kerja atau CV miliknya akhirnya terlihat berantakan karena fokus keahliannya terpecah ke mana-mana.

“Sangat besar kemungkinan ia bisa kehilangan nilai tawar tinggi di mata perekrut baru.”

Gaji jalan di tempat karena terlalu setia

Kerugian yang paling memukul dari ilusi kekeluargaan ini ada pada urusan keuangan. Karena merasa terikat utang budi secara emosional dengan atasan dan rekan setim, pekerja sering kali kehilangan keberanian untuk mengundurkan diri. 

Alhasil, mereka pun melewatkan peluang emas untuk melompat ke perusahaan lain yang menawarkan masa depan lebih cerah. Seorang karyawan rela menetap bertahun-tahun demi menjaga perasaan orang-orang di kantor lama, padahal nominal gajinya nyaris tak beranjak naik.

Kenyataan pahit ini pernah dibuktikan oleh peneliti asal Wharton School, Matthew Bidwell, melalui risetnya di berjudul “Paying More to Get Less” (2012). Bidwell membongkar fakta mengenai kerugian finansial bagi pekerja yang terlalu setia pada satu tempat. Data yang ia temukan sangat menohok dan membantah anggapan bahwa kesetiaan akan selalu berbuah manis.

Penelitian itu menunjukkan bahwa karyawan baru yang direkrut dari luar rata-rata mendapatkan tawaran gaji 18 hingga 20 persen lebih tinggi. Angka sebesar itu diberikan untuk posisi dan tanggung jawab yang sama persis dengan pekerja lama yang dipromosikan di dalam perusahaan.

Sederhananya, kata Bidwell, bertahan di satu perusahaan karena tidak tega meninggalkan teman kantor adalah sebuah langkah memiskinkan diri sendiri. Sistem korporat terbukti secara matematis lebih suka mengucurkan anggaran besar untuk membajak orang dari luar, ketimbang memberikan kenaikan gaji yang layak bagi pekerjanya sendiri yang sudah setia menemani perusahaan bertahun-tahun. 

Puncak dari semua manipulasi yang-terlihat-manis ini akan terlihat ketika perusahaan menghadapi masa sulit atau gagal mencapai target keuntungan. Jurnalis ketenagakerjaan Sarah Jaffe, melalui bukunya Work Won’t Love You Back (2021), mengingatkan satu realitas kejam yang sialnya harus diterima pekerja.

Kata Jaffe, sistem industri memang selalu menuntut pekerja untuk mencintai pekerjaannya setengah mati. Namun, perusahaan tidak pernah didesain untuk balas mencintai karyawannya. Hubungan kerja pada hakikatnya sangat bersyarat, cuma bergantung pada uang masuk dan pencapaian target(KPI).

Alhasil, melabeli tempat kerja sebagai sebuah keluarga adalah racun yang berbahaya. Keluarga sejati menjalin hubungan kasih sayang dan seringnya tanpa pamrih. Sebaliknya, hukum korporat tidak mengenal kasih sayang semacam itu. Ketika pendapatan perusahaan menurun dan manajemen merasa perlu menekan pengeluaran, mereka yang dianggap keluarga ini tetap saja akan didepak.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2026 oleh

Tags: buruh kantorankantor adalah keluargakantor toxickerjakerja kantoranpekerjapekerja kantoranpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.