Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Bahaya Laten Pegawai Job Hugging: Kelihatannya Nurut dan Setia, padahal Menghancurkan Produktivitas di Tempat Kerja

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Mei 2026
A A
Job Hugging: Upaya Pegawai Merusak Perusahaan Toxic. MOJOK.CO

ilustrasi - fenomena job hugging, balas dendam karyawan untuk perusahaan toxic. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian orang memilih bertahan di tempat kerja meskipun tidak puas dengan beberapa hal. Fenomena ini dikenal dengan istilah job hugging. In this economy, pilihan ini tampak realistis daripada mengejar jabatan atau mencari peluang karier di tempat lain.

Survei ResumeBuilder.com menunjukkan sebanyak 45 persen dari 2.221 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat dapat dikategorikan job huggers. Survei ini dilakukan pada Agustus 2025.

Dari 45 persen tadi, mayoritas beralasan karena kondisi pasar kerja sekarang tidak menentu sementara yang lain khawatir dengan perkembangan kecerdasan buatan, sehingga peluang kerja baru semakin terbatas. Begitu pula yang dirasakan oleh Zaky* dan Eka.

Drama kantor yang bikin resah

Pukul 22.00 WIB. Zaky masih harus siaga melihat pesan WhatsApp dari atasannya. Ia diperintahkan untuk merevisi laporannya dan harus selesai malam itu juga. Meski sudah di luar jam kerja, Zaky hanya bisa membalas, “Siap”.

Laki-laki asal Bintaro itu mengaku sudah terbiasa dan memilih job hugging. Toh, perintah yang mendadak itu juga bukan yang pertama. Sudah 11 bulan lamanya Zaky bertahan di kantornya dengan budaya kerja yang demikian.

“Aku rasanya udah kebal dengar atasan yang ngomong seenaknya. Waktu rapat, aku cuma bisa senyum sambil nahan sesuatu di dada,” kata Zaky.

Sebagai pegawai yang bahkan belum setahun bekerja, Zaky sadar tabungannya masih belum cukup. Sehari-hari, ia hidup dengan gajinya sebesar Rp3 juta. Untuk menabung saja susah, karena ia tergolong generasi sandwich.

“Kalau mau resign, aku sadar nggak punya dana darurat yang cukup. Kos harus dibayar tepat tanggal 5, ibu nunggu uang transferan,” jelas Zaky yang lebih memilih jadi job huggers.

Job hugging atau pengangguran

Terlebih, Zaky paham sulitnya mencari kerja di masa sekarang. Dulu sebelum dapat pekerjaan yang sekarang, Zaky harus kelimpungan. Untuk mengirim surat lamaran saja, ia harus punya modal.

Misalnya, ia harus membayar Rp28 ribu untuk ongkos ojek online, Rp15 ribu untuk cetak CV dan foto, Rp20 ribu untuk makan di jalan, kemeja ia pinjam gratis dari kakaknya.

“Hasilnya? Selalu kata terima kasih, kami akan menghubungi kembali,” kata Zaky.

“Aku masih ingat duduk di halte setelah wawancara ketiga. Sandalku lecet di tumit kanan. Sisa uang di dompetku cuma Rp11 ribu dan baterai HP-ku tinggal 12 persen,” lanjutnya.

Tekanan di dunia kerja juga dirasakan Eka (24). Pegawai Badan Usaha Milik China alias BUMC ini mengaku harus bekerja selama 10 jam per hari bahkan lebih demi mencapai target. Jika target belum tercapai, Eka harus bersiap kena evaluasi di rapat. Selain itu, perusahaan tempat Eka bekerja juga sering tidak libur meski tanggal merah. 

“Padahal dalam prosesnya ada hal-hal yang nggak sesuai, tapi kami diminta mengatasinya sendiri,” kata Eka.

Iklan

Jika ditotal, gajinya juga tidak setara dengan UMK Surabaya (Rp5,2 tahun 2026) alias cuma Rp2,3 juta. Meski begitu, Eka tetap memilih bertahan sebagai job huggers daripada menjadi pengangguran.

Bahaya karyawan job hugging bagi perusahaan

Ketika karyawan merasa aman bekerja meski mendapat tekanan, fenomena job hugging justru bahaya bagi perusahaan. Jurnal Pengaruh Job Hugging terhadap Tingkat Kepuasan Kerja Karyawan menunjukkan, pekerja yang tidak memiliki tantangan baru dalam pekerjaannya cenderung kurang puas dan tidak termotivasi untuk melakukan inovasi. 

Jangka panjangnya, mereka bisa mengalami stres, burnout, atau bahkan rasa terjebak. Ketika mereka bertahan di tempat kerja semata-mata agar merasa aman, karyawan akan membatasi diri untuk terlibat langsung dalam pekerjaan sehari-hari. Pada akhirnya, produktivitas organisasi pun bisa menurun.

Temuan lain dari jurnal Fenomena Job Hugging pada Generasi Milenial di Tengah Ketidakpastian Dunia Kerja mengungkap, keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan struktural dan ekonomi, tapi juga kualitas komunikasi internal. 

Ketika komunikasi internal dirasakan secara adil, transparan, dan manusiawi, karyawan cenderung merepresentasikan perusahaan secara positif di ruang publik. Sebaliknya, komunikasi internal yang buruk berpotensi memperburuk reputasi perusahaan terutama di era digital.

Oleh karena itu, Fauzan Ahdi Wisyaputra dalam jurnal tersebut mengimbau organisasi untuk mengintegrasikan komunikasi internal yang berbasis transparansi, dialog, dan empati ke dalam strategi manajemen sumber daya manusia. Dengan begitu, reputasi organisasi bisa aman di tengah ketidakpastian dunia kerja.

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2026 oleh

Tags: budaya kerjagaji adminin this economyjob huggersjob huggingmencari kerjaPengangguran
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO
Kabar

Solusi atas Jeritan Hati Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO
Urban

Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Muhammad Tonny Harjono melakukan peletakan batu pertama untuk mempercantik Lanud dan Bandara Adi Soemarno MOJOK.CO

Gerbang Masuk Jawa Tengah Melalui Udara di Lanud Adi Soemarno Dipercantik, Jadi Wajah Keramahtamahan dan Kemajuan

21 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.