Jakarta selalu identik dengan standard upah yang tinggi. Obrolan tentang UMR Jakarta yang menembus angka di atas Rp5 juta, selalu menjadi sorotan.
Bagi pekerja pabrik, staf kantoran pemula, atau karyawan di pusat perbelanjaan, angka ini adalah kemewahan. Namun, kemewahan ini seolah menguap begitu kita melangkah masuk ke sektor pendidikan.
Tepatnya, pada nasib guru honorer.
Di tengah kota metropolitan dengan biaya hidup yang terus merangkak naik, nyatanya masih ada tenaga pendidik yang gajinya tertinggal jauh di bawah standard kelayakan.
Gaji guru honorer di Jakarta tetap sama kecilnya
Fakta ini, salah satunya, diceritakan langsung oleh Aulia (28), seorang guru honorer di salah satu SMA swasta di Jakarta. Pekan lalu, ia membagikan kisah jungkir-baliknya yang harus memutar otak untuk bertahan hidup dengan gaji yang bahkan tidak sampai separuh dari upah minimum ibu kota.
Sebelumnya, Aulia datang ke Jakarta dengan penuh harapan. Lulusan fakultas keguruan dari salah satu universitas negeri di Jogja ini menceritakan awal mula perjalanannya, tiga tahun lalu.
Menjadi pendidik bukanlah pelarian bagi Aulia. Ini adalah pilihan sadar. Ia memiliki minat yang besar pada dunia mengajar dan senang berinteraksi dengan anak-anak muda.
“Sejak masih SMA, memang cita-citanya ingin jadi guru,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Setelah mengantongi ijazah sarjana, ia memutuskan merantau ke Jakarta, dengan alasan yang sebenarnya bisa dimaklumi: mencari peluang yang lebih besar.
“Dulu ada kesempatan ke Jakarta, saya ambil. Siapa coba yang nggak tergiur buat kerja di Jakarta? Yang saya kira sekolah-sekolah di ibu kota pasti memiliki standard kesejahteraan yang tinggi ketimbang di Jogja.”
Sialnya, harapan itu langsung terkikis ketika ia dihadapkan pada lembar kontrak kerja pertamanya.
Sisa gaji 700 ribu buat bertahan sebulan
Aulia agak tertutup dengan nominal pendapatannya. Kepada saya, hanya mengatakan bahwa dalam sebulan, gaji rata-rata yang diterima berada di angka angka Rp1,5 juta.
“Itu sudah termasuk beberapa tunjangan dan bonus. Kebayang kan gaji pokoknya berapa?”
Aulia menekankan bahwa kondisi ini sebenarnya adalah rahasia umum. Jika merujuk pada data Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), upah guru honorer di Indonesia memang masih sangat memprihatinkan; seringkali berkisar di bawah Rp2 juta.
Bahkan, banyak yang hanya dibayar ratusan ribu rupiah.
“Di Jakarta, gaji satu setengah juta dapat apa?” keluhnya.
Keluhan Aulia beralasan. Dari total gajinya, Rp500 ribu langsung dialokasikan untuk membayar sewa kamar kos petakan di daerah pinggiran Jakarta. Setelah itu, ia menyisihkan Rp300 ribu untuk biayai transportasi setiap harinya.
Alhasil, sisa uang di rekeningnya tinggal Rp700 ribu.
“Kalau nggak punya sampingan, bisa megap-megap dengan uang segitu buat sebulan.”
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per kapita sebulan warga DKI Jakarta sudah menembus angka di atas Rp2,5 juta hingga Rp3 juta juta untuk kebutuhan paling dasar. Dengan total gaji yang hanya Rp1,5 juta, posisi finansial Aulia sebenarnya sudah berada jauh di bawah garis kelayakan hidup kota ini.
Ketimpangan guru honorer dan ASN
Ketimpangan ini terasa makin nyata ketika Aulia masuk ke ruang guru. Di sana, ia duduk bersebelahan dengan rekan-rekan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Aulia menceritakan bahwa secara pekerjaan, tidak ada perbedaan antara dirinya dan rekan-rekan berstatus tetap tersebut. Mereka mengajar di kelas yang sama, menyusun pedoman pembelajaran yang sama, dan menghadapi murid yang sama.
Bahkan, Aulia mengaku seringkali jam mengajarnya lebih padat karena harus menggantikan guru tetap yang berhalangan hadir.
“Nasib honorer memang begitu. Kerja lebih keras tapi gaji lebih kecil,” kata dia.
Apa yang dialami Aulia sejalan dengan data kementerian pendidikan yang menunjukkan adanya defisit ratusan ribu guru ASN akibat pensiun setiap tahunnya. Guru honorer seperti Aulia inilah yang kemudian menjadi “penambal” agar operasional sekolah tetap berjalan, meski dengan bayaran yang timpang.
Di awal bulan, rekan-rekannya menerima gaji pokok dan tunjangan profesi, sementara Aulia hanya menerima uang honor yang dihitung murni berdasarkan jam tatap muka di kelas.
Jakarta memanusiakan pekerja, tapi gagal menyejahterakan gurunya
Selain gaji yang kecil, Aulia juga harus menanggung apa yang ia sebut sebagai tuntutan profesional. Sebagai guru, ia harus tampil rapi dan bersih. Seragam harus licin, sepatu harus layak pakai, dan ia harus selalu memiliki kuota internet untuk menginput nilai murid atau mencari materi ajar di YouTube.
“Semua fasilitas penunjang ini saya beli beli menggunakan uang pribadi. Yang nggak seberapa itu.”
Ia juga sempat membandingkan nasibnya dengan tetangga kosnya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Tetangganya sering mengeluh capek karena lembur, tapi Aulia tahu bahwa di akhir bulan, tetangganya itu menerima gaji UMR penuh ditambah uang lembur yang jelas.
“Dia kerja fisik, saya kerja otak dan mental. Tapi secara penghasilan, dia lebih layak” tuturnya.
Bagi Aulia, mengandalkan dalih “pengabdian” untuk menjalankan roda pendidikan di kota dengan biaya hidup selangit adalah bentuk eksploitasi. Pengabdian dan keikhlasan tidak bisa digunakan untuk bertahan hidup di kerasnya ibu kota.
“Jakarta berhasil memanusiakan pekerjanya lewat aturan UMR, tapi masih gagal total dalam memanusiakan para gurunya.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














