Ibadah tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan keagamaan. Bagi anak muda yang tergolong gen Z, kata “ibadah” juga digunakan untuk kegiatan yang dilakukan dengan sepenuh hati, seperti mengantre giliran photobox di Tugu Jogja setelah sahur.
***
Melalui konten yang berseliweran di TikTok, bisa dilihat ada tren baru yang ramai belakangan ini di Jogja. Tren yang tidak habis pikir akan dilakukan oleh siapapun, termasuk saya, yang sudah berdiam di Jogja selama tiga tahun.
Saya memahami kalau Tugu punya daya tarik tersendiri sebagai ikon Jogja. Akan tetapi, yang tidak saya pahami adalah kerelaan orang-orang untuk mengantre panjang demi foto berlatarkan Tugu Jogja pada waktu dini hari (setelah sahur) saat saya akan lebih memilih kembali tidur.
Keheranan ini juga diutarakan Ifroh (23) yang melihat tren ini bersama saya. “Seumur-umur di Jogja, kayaknya aku nggak kepikiran bakal foto di Tugu begitu,” katanya, Kamis (26/2/2026).
“Menurutku, Tugu oke. Turis banget, tapi pergi sendiri buat foto di Tugu, aku nggak,” tambahnya.
Tapi, Ifroh hanyalah segelintir yang berpikir begitu. Di mata sebagian lainnya, terutama gen Z, tren berfoto dengan photobox di Tugu Jogja saat sahur tetap punya daya tariknya sendiri, sekalipun harus menunggu berjam-jam dan menahan kantuk.
@fathur.azhari gen z slalu ada aja gebra gebrak nya 🧠 #ramadhan ♬ Marhaban Ya Ramadhan (feat. Anti) (Album Version) – Haddad Alwi
Ibadah photobox setelah sahur, rela menunggu setengah jam demi sekali foto
Awa (20) adalah salah satu yang tetap tertarik untuk mengambil foto melalui photobox di Tugu Jogja. Ia rela datang setelah sahur ke Monumen Tugu Jogja bersama teman-temannya demi photobox ini.
Fotonya dilakukan secara otomatis dengan kamera yang disiapkan dalam photobox. Namun yang menarik, bukan latar polos yang digunakan dalam foto ini. Letaknya yang berada persis di sebelah barat Tugu Jogja membuat Monumen Tugu menjadi latar foto.
Hasil photobox dapat langsung dicetak dan dikirim melalui website. Tetapi masalahnya, photobox yang buka 24 jam ini punya antrean panjang yang bahkan membuat Awa dan teman-temannya harus menunggu cukup lama demi sekali foto.
Padahal, Awa sudah bersiasat untuk tidak datang tepat setelah sahur, melainkan menunggu waktu subuh sekaligus, karena melihat orang-orang di medsos yang meramaikan persis setelah sahur. Ia kira, mengulur waktu akan memotong antrean, tapi ternyata tidak berpengaruh sama sekali.
View this post on Instagram
Iklan
“Sekitar jam 5 pagi setelah subuh, kami ke sana naik motor dengan ekspektasi photobox-nya masih sepi karena datang setelah subuh,” kata Awa, Selasa (24/2/2026).
“Ternyata, sudah sangat ramai orang mengantre untuk foto,” tambahnya.
Dilihat dari hasil foto dan video yang merekam perjuangannya saja, testimoni Awa terbukti dengan antrean yang mengular dari orang-orang yang ingin melakukan hal yang sama sepertinya, yaitu beribadah photobox.
Oleh karena itu, Awa bilang, dirinya menghabiskan tidak sampai setengah jam—terbilang sudah cukup cepat menurutnya dibanding biasanya. “Kalau setelah subuh itu mungkin nggak selama biasanya ya,” katanya mengingat-ingat durasi tunggunya saat itu.
Namun, menurutnya, tidak terlalu lama seperti ketika ibadah ini semakin viral.
“Soalnya, kalau biasanya sekitar 30 menit lebih lah,” kata dia.
Semua karena FOMO, tetapi bisa abadikan momen hanya dengan Rp35 ribu
Alasan Awa dan teman-temannya sanggup menunggu hampir 30 menit—yang masih dianggap lebih baik daripada durasi tunggu biasanya selama lebih dari 30 menit—adalah fear of missing out atau biasa dikenali sebagai FOMO.
@spotingjogja Kegiatan Gen Z abis sahur adalah antri photobox😭🔥 #gen z #photobox #jogja #fyp ♬ SUBWAY SURFERS (Main Theme) – Subway Surfers
FOMO bisa membuat seseorang punya perasaan cemas, takut, atau gelisah karena tertinggal dari tren semacam ini. Biasanya, disebabkan juga melihat orang-orang yang di media sosial yang terlihat menyenangkan melakukannya.
Alasan lain, seseorang bisa FOMO, adalah ingin terus mengikuti tren agar tetap keren.
Itulah kira-kira yang Awa katakan. Sebagai gen Z, Awa tidak ingin ketinggalan.
“Aku dan teman-teman tuh juga kaum FOMO yang pengin ikut tren sekarang gitu,” katanya.
“Kita tertarik tuh karena emang sekarang kan sedang tren ya photobox di anak-anak remaja, terus nggak sengaja lewat FYP photobox latar Tugu sepi kalau habis subuh. Makanya, kita ikut-ikutan gitu,” jelasnya menambahkan.
Selain itu, Indonesia Expat melihat tren photobox sebagai kegiatan sosial yang menyenangkan dan terjangkau. Seperti halnya photobox di Tugu yang hanya merogoh kocek Rap35 ribu per foto.
Tidak hanya memotret foto sebagaimana umumnya, photobox ini juga mengabadikan momen dalam visual yang menjadi salah satu kecintaan gen Z sebagai generasi media sosial. Hasilnya setelah itu juga dapat dikembalikan ke media sosial untuk “memberi makan” konten.
Photobox di Tugu Jogja saat Ramadan, meracuni turis sampai akamsi
Terlebih lagi, menurut Awa, tren ini bukan hanya berhasil membuatnya keluar rumah bersama teman-teman dan ikut-ikutan. Perempuan asal Jogja ini bilang, sebagai akamsi (anak kampung sini), ibadah photobox di Monumen Tugu bisa menarik banyak orang.
Perkiraan Awa sebagai akamsi Jogja yang sudah sehari-hari melalui Tugu, bahkan tidak pernah terlintas pikiran bahwa berfoto di Tugu setelah sahur saat Ramadan akan menjadi sebuah tren, sebab hadirnya photobox ini cukup unik.
Memang, bukan satu dua kali ada photobox di Tugu. Sebelumnya, juga ada photobox yang dicetak dalam bentuk koran sebagai nilai uniknya. Namun kali ini, bukan hanya Tugu yang menjadi nilai “jual”, nilai kebersamaan dan perjuangan saat Ramadan juga yang membuatnya semakin meriah dan diminati.
“Unik aja sih, dan juga bisa buat kenang-kenangan sama teman-teman,” kata Awa.
Bagaimana tidak begitu, orang-orang yang datang untuk photobox ini tidak mengenakan pakaian rapi atau well-dressed seperti umumnya. Justru, mereka datang mengenakan baju ibadah: mukena atau koko seadanya. Makin menekankan konsep ibadah saat Ramadan.
@spotingjogja Kegiatan Gen Z abis sahur adalah antri photobox😭🔥 #gen z #photobox #jogja #fyp ♬ SUBWAY SURFERS (Main Theme) – Subway Surfers
Karena inilah, Awa bilang, dia sendiri tidak menduga antusiasme yang sama datang dari akamsi Jogja yang banyak ditemuinya dalam antrean—sebagai sesama warga, Awa bisa mengenali ini dengan mudah.
Akan tetapi, orang-orang asal Jogja yang tidak mau ketinggalan bukan sesuatu yang biasa bagi Awa. Khususnya, gen Z di Jogja yang juga tidak sedikit jumlahnya. Ia bilang, mereka sebenarnya sering ingin mengikuti tren, tetapi terhambat rasa malas melihat keharusan menunggu lebih dulu.
“Antusiasme akamsi bener-bener di luar ekspektasi. Menurut aku ya, sebenarnya akamsi Jogja itu mau photobox di sana juga, cuma mungkin jikalau hari biasa kan sangat amat ramai ya. Bisa antre lama itu yang bikin males,” katanya.
Namun dengan tren ini yang meledak, tidak mungkin ada yang ingin ketinggalan. Dengan seluruh konsep yang sangat mendukung tema Ramadan, tren photobox setelah sahur di Tugu Jogja menjadi salah satu keharusan.“Nah, setelah tren itu muncul jadi sebuah kesempatan sih buat saya dan teman-teman, dan sangat pas timing-nya dengan Ramadan,” tandasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya dalam rubrik Liputan













