Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - kafe di Jogja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Banyak orang mungkin berpikir, kalau punya rumah dekat kafe di Jogja kekinian itu enak. Bayangannya, kalau mau mencari kopi atau nongkrong bersama teman tinggal berjalan kaki beberapa langkah saja. Pemilik rumah juga bakal kecipratan “rezeki” dari tempat tersebut.

Namun, tahukah kamu, bagi warga yang tinggal tepat di sebelah tempat-tempat ramai seperti ini, realitasnya justru sangat melelahkan. Di balik foto-foto estetik para pengunjung yang diunggah ke media sosial itu, ada tetangga yang harus menahan emosi setiap hari.

Teror suara berisik yang bikin nggak bisa tidur

Bagi Dian Eka (24), ujian kesabaran paling berat dari memiliki rumah dekat kafe adalah urusan suara. Tempat usaha di sebelah rumahnya tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga mengadakan live music setiap malam. 

Tempat nongkrong ini biasanya baru mulai ramai saat malam hari, tepat di saat warga sekitar butuh istirahat tenang setelah seharian bekerja di wilayah Jogja dan sekitarnya.

“Masalahnya, bangunan mereka terbuka, main musiknya juga full band,” keluh perempuan asal Sleman ini, Kamis (26/2/2026).

Alhasil, suara berisik tak cuma datang dari suara orang tertawa kencang atau mengobrol, tapi juga alunan live music dan speaker yang super kencang. Kata Dian, getaran bass dari musik itu sangat mudah merambat melewati tanah dan menembus tembok. Akibatnya, kaca jendela kamar Dian sering ikut bergetar.

“Nggak ada bedanya sama sound horeg,” kesalnya.

Tidur nyenyak benar-benar jadi barang langka bagi siapapun yang punya rumah dekat kafe dengan live music. Belum lagi derita tambahan saat pengunjung mulai bubar tengah malam. 

“Suara mesin motor dihidupkan itu juga kadang bikin kebangun. Mana kadang knalpotnya bising,” tuturnya.

Rumah dekat kafe kekinian bikin kehilangan privasi di rumah sendiri

Selain suara berisik, derita kedua yang dialami Dian adalah hilangnya privasi. Pemilik rumah dekat kafe seringkali harus mengorbankan kenyamanan pribadi karena tempat usaha tersebut sengaja mengusung konsep semi-outdoor agar terasa lebih luas dan santai. 

Sayangnya, banyak tempat duduk pengunjung yang posisinya menghadap langsung ke arah jalanan, yang otomatis juga menghadap tepat ke arah teras dan pintu rumah Dian di seberangnya.

“Jadinya kita merasa kehilangan rasa bebas di rumah dong. Merasa ada yang ngawasin,” kata dia.

Area teras atau halaman depan yang tadinya menjadi tempat santai keluarga, mendadak berubah seperti panggung tontonan terbuka. Apalagi kawasan Jogja sekarang dipenuhi mahasiswa dan wisatawan yang suka nongkrong santai.

“Rasanya risih banget. Mau menyapu halaman, buang sampah ke depan, manasin motor, atau sekadar ambil paket dari kurir pakai daster dan celana pendek saja jadi malu,” cerita Dian.

Bagaimana tidak canggung, saat keluar rumah, ada puluhan pasang mata pengunjung asing yang sedang duduk santai dan pandangannya mengarah tepat ke halaman rumahnya. Kondisi ini memang menjadi makanan sehari-hari warga yang kebetulan memiliki rumah dekat kafe berskala ramai.

Invasi parkir yang menutup akses rumah dekat kafe

Beralih ke Jogja bagian kota, Ani (26) menghadapi masalah yang berbeda tapi tidak kalah bikin sakit kepala. Posisi rumah dekat kafe pinggir jalan atau deretan street coffee yang sedang viral membawa masalah besar: tidak adanya lahan parkir yang layak. 

Ujung-ujungnya, bahu jalan dan area persis di depan pagar rumah Ani yang jadi lahan parkir gratis. Dampak nyatanya sangat merugikan. Ani sering kali merasa terkurung di rumahnya sendiri.

“Pernah saya mau keluar bawa mobil, terhalang deretan motor pengunjung yang parkir jejeran panjang banget. Waktu mau masuk ke garasi pulang kerja juga sama,” ujar Ani kesal.

Sisi yang paling memancing emosi dari derita punya rumah dekat kafe adalah respons saat ia menegur. Terkadang, pengunjung atau tukang parkir liar yang berjaga malah lebih galak dari pemilik rumah. Mereka sering beralasan “cuma sebentar”, padahal kenyataannya nongkrong berjam-jam. 

Ani mengaku, kondisi ini sangat berbahaya jika tiba-tiba ada keadaan darurat malam-malam, misalnya, ada keluarga yang sakit dan harus segera ke rumah sakit, tapi akses jalan macet total oleh parkiran.

“Hadiah” sampah setiap hari

Masalah lain yang melengkapi penderitaan Ani adalah kebersihan lingkungan. Karena pengunjung street coffee di Jogja ini sering duduk-duduk di trotoar pinggir jalan hingga dekat rumahnya, Ani harus rela menjadi “petugas kebersihan” dadakan setiap pagi. 

Kurangnya tempat sampah dari pihak penjual membuat area sekitar rumah dekat kafe jadi sasaran empuk untuk membuang kotoran. Setiap kali membuka pagar di pagi hari, Ani hampir selalu menemukan “hadiah” yang tertinggal.

“Paling sering itu puntung rokok dibuang dekat pagar. Belum lagi gelas plastik sisa kopi dan bungkus makanan yang ditaruh begitu saja di atas pilar pagar,” kata Ani.

Kalau pengunjungnya sedang ramai sampai larut malam dan kurang tertib, risiko memiliki rumah dekat kafe bisa lebih menjijikkan. Tidak jarang Ani harus menyiram bau pesing menyengat karena ada pengunjung pria yang buang air kecil sembarangan di tembok samping rumahnya pada malam hari.

***

Ani mengaku, pada dasarnya, warga sepertinya tidak pernah anti dengan bisnis. Dia mendukung penuh usaha kecil atau tempat nongkrong agar terus maju. Namun, baginya, bisnis yang baik seharusnya tidak mengorbankan hak dasar tetangganya untuk bisa hidup tenang, aman, dan nyaman di rumahnya sendiri.

“Jangan sampai tempat usaha yang niatnya mencari untung, malah menyusahkan orang-orang yang tinggal di sebelahnya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version