Bagi sebagian pekerja muda, Jakarta Selatan (Jaksel) adalah tanah menjanjikan untuk mengejar karir. Kantor-kantor perusahaan, industri kreatif, komunitas, tempat nongkrong, hingga berbagai kesempatan kerja berkumpul di sana. Namun siapa sangka bahwa dengan kesempatan dan gaji Jakarta tersebut malah membuat seseorang tidak betah kerja di sana dan memilih slow living di Jogja.
***
Sandy (26), lelaki yang lahir dan besar di Sumatera Utara, sempat merasakan kehidupan itu. Ia bekerja di sebuah perusahaan di kawasan Antasari Park, Cipete, Jakarta Selatan. Pekerjaannya bergerak di bidang digital marketing.
Namun, setelah menjalaninya, Sandy justru memutuskan meninggalkan Jakarta Selatan dan kembali ke Jogja. Bukan karena pekerjaannya buruk. Ia bahkan masih bekerja untuk perusahaan yang dengan gaji yang relatif sama secara jarak jauh. Ia hanya merasa ritme hidup di Jakarta Selatan tidak cocok untuknya.
Waktu tempuh lama, ruang publik tidak memadai
Sandy masih mengingat pengalaman pada hari-hari awal tinggal di Jakarta Selatan. Jarak tempat tinggalnya dengan kantor hanya sekitar 10 kilometer, tetapi perjalanan bisa memakan waktu hampir satu jam.
“Cerita uniknya adalah baru dua hari nyampe Jaksel butuh hampir sejam untuk nyampe kantor, padahal jarak cuma 10 km-an,” katanya kepada saya melalui WhatsApp, Kamis (17/9/2026).
Belum selesai dengan urusan perjalanan, ia juga mengalami kejadian lain. Tiga kali plat nomor motornya terlepas setelah tersenggol pengendara ojek online. Sandy memilih tidak memperpanjang persoalan.
“Cuma tak biarin, males ribut,” ujarnya.
Menurut Sandy, Jakarta Selatan sebenarnya memiliki banyak kemudahan. Hampir semua kebutuhan bisa dicari dengan cepat. Fasilitas, tempat makan, transportasi, pekerjaan, hingga aktivitas sehari-hari tersedia.
Persoalannya justru ada pada ritme hidup.
Ia menyebut kemacetan, polusi, cuaca panas, ruang pedestrian yang menurutnya masih terbatas di beberapa kawasan, hingga gaya berkendara sebagai hal yang membuatnya kurang nyaman untuk tinggal dalam jangka panjang.
Jakarta Selatan sendiri merupakan wilayah perkotaan yang cukup padat. Data Badan Pusat Statistik mencatat penduduk Jakarta Selatan mencapai sekitar 2,23 juta jiwa pada 2024 dengan luas wilayah 141,27 kilometer persegi. Wilayah ini terdiri atas 10 kecamatan dan 65 kelurahan.
Gaji Jakarta memang besar, tapi ada saja “cobaannya”
Secara nominal, ada perbedaan cukup jauh antara upah minimum Jakarta dan Yogyakarta.
Pemprov DKI Jakarta menetapkan UMP 2026 sebesar Rp5.729.876, naik 6,17 persen dari tahun sebelumnya. Sementara UMP DIY 2026 ditetapkan Rp2.417.495. Khusus Kota Yogyakarta, UMK 2026 mencapai Rp2.827.593. Di Sleman, angkanya Rp2.624.387.
Angka itu membuat saya bertanya kepada Sandy: dengan perbedaan pendapatan sebesar itu, apakah kehidupan di Jakarta Selatan sebenarnya masih terasa sebanding?
Menurutnya, secara kasar memang sebanding. Namun, persoalannya bukan sekadar penghasilan dan pengeluaran.
“Rasanya sebanding, namun banyak ‘cobaannya’,” katanya.
Sandy tinggal di kawasan yang menurutnya memiliki banyak tempat untuk bersantai dan menghabiskan uang. Kalau tidak kuat menahan diri, gaji sebesar apa pun bisa cepat berkurang.
“Apalagi di daerah aku tinggal itu daerah yang cukup banyak spot ‘asik-asik’. Kalau goyah iman, ya sudah kelar gaji berapa pun,” ujarnya.
Bagi Sandy, persoalan hidup di Jakarta bukan hanya apakah gaji cukup untuk membayar kebutuhan. Ada pula biaya sosial dan gaya hidup yang ikut menempel.
Tujuh tahun di Jogja membuatnya punya rumah kedua untuk slow living
Sandy sebenarnya bukan orang baru di Jogja. Ia sudah tinggal di kota ini hampir tujuh tahun sejak masa kuliah.
Setelah lulus, ia sempat merantau ke Jakarta Selatan untuk bekerja. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya kembali membandingkan kehidupan di dua kota yang pernah ia tinggali.
Ketika kembali ke Jogja, ia merasa ritme hidupnya berubah.
“So far betah sih mas untuk hidup di Jogja. Buatku yang besar di kerasnya Sumatra Utara, Jogja kayak rumah kedua,” katanya.
Ia menyebut orang-orang Jogja terasa menyenangkan dan ramah. Biaya hidup, menurut pengalaman pribadinya, juga bisa ditekan selama tidak mengikuti gengsi.
Ia bahkan mengatakan belum menemukan alasan kuat untuk meninggalkan Jogja dalam waktu dekat. Namun, ada satu catatan yang selalu ia sisipkan ketika membicarakan kota ini.
“Jogja indah banget dinikmati dan dihidupi asal salary-nya nggak ngikut perusahaan lokal,” katanya sambil tertawa.
Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tetapi sekaligus memperlihatkan dilema pekerja muda di Jogja: nyaman ditinggali, tetapi kesempatan memperoleh penghasilan besar tidak selalu sebesar Jakarta.
Slow living di Jogja, gaji tetap rasa Jaksel
Kepindahan Sandy akhirnya tidak benar-benar memutus hubungannya dengan Jakarta.
Ia masih bekerja untuk perusahaan besar dan mempertahankan relasi profesionalnya di Jakarta Selatan. Bedanya, sekarang ia mengerjakan pekerjaannya dari Jogja.
“Slow living di Jogja tapi tetap gaji rasa Jaksel, nikmatnya,” katanya.
Buat Sandy, kombinasi itu membuatnya mendapatkan dua hal yang sebelumnya terasa sulit diperoleh sekaligus: pekerjaan dengan penghasilan Jakarta dan kehidupan dengan ritme Jogja.
Ia juga tidak melihat Jogja sebagai kota yang identik dengan hidup santai tanpa ambisi.
Menurutnya, remote worker, pekerja industri kreatif, WFC, café culture, dan berbagai komunitas tetap berkembang di Jogja. Hanya saja, lingkungan kotanya menurut dia terasa lebih compact dan ritmenya tidak seintens Jakarta.
Kalau Jakarta Selatan memberinya banyak pilihan, Jogja memberinya lebih banyak ruang untuk mengatur pilihan tersebut.
Jogja belum tentu menjadi kota terakhir
Menariknya, keputusan Sandy kembali ke Jogja bukan berarti ia ingin selamanya menetap di kota ini.
Ketika saya bertanya apakah ia masih punya keinginan untuk pindah, jawabannya justru iya.
Ia memperkirakan masih akan tinggal di Jogja satu atau dua tahun. Setelah itu, ia ingin mencoba kota lain, salah satunya Purwokerto.
Alasannya sederhana: ingin merasakan lingkungan yang lebih tenang, tetapi tetap memiliki fasilitas yang cukup.
Pilihan lainnya bahkan lebih jauh. Sandy mempertimbangkan kesempatan bekerja di luar negeri jika suatu saat datang.
“Dunia luas dan rasanya sayang kalau nggak coba tinggal di tempat lain, apalagi selama masih punya kesempatan untuk eksplor dan bangun pengalaman baru,” ujarnya.
Bagi Sandy, Jakarta Selatan dan Jogja akhirnya bukan soal kota mana yang lebih baik.
Jaksel, menurutnya, cocok bagi orang yang nyaman dengan high stimulation: banyak orang, banyak aktivitas, banyak pilihan, dan banyak kesempatan. Jogja lebih sesuai bagi mereka yang ingin memiliki kontrol lebih besar atas ritme hidup. Sandy sudah mencoba keduanya.
Untuk sekarang, ia memilih bekerja dengan ritme Jakarta dari kota yang menurutnya terasa seperti rumah kedua.
Dan barangkali, bagi pekerja digital seperti Sandy, slow living bukan berarti berhenti mengejar karier. Bisa jadi justru soal memilih dari mana seseorang ingin menjalani hidupnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
