Menjadi perantau asal Madura di Jakarta tidak pernah mudah. Meskipun berusaha bersikap baik dan tidak bertingkah, tetap saja dianggap “jelek” gara-gara stigma usang yang sudah lama melekat.
***
Belakangan ini, linimasa Threads saya dipenuhi curhatan para perantau yang memendam rasa lelah di ibu kota. Bukan cuma lelah karena tekanan kerja, tetapi juga beratnya memikul beban stigma dari daerah asal.
Misalnya saja, ada seorang perantau asal Brebes yang bercerita betapa ia harus menahan perih karena logat ngapak-nya terus-menerus dijadikan bahan tertawaan di tempat kerja.
Ada pula perantau asal Banyuwangi yang muak harus tersenyum kecut setiap kali disodori guyonan basi soal “ilmu kebal” atau tuduhan bahwa keluarganya pasti mewarisi ilmu santet.
Mereka bilang, awalnya semua itu memang terdengar seperti candaan ringan yang tak berbahaya. Namun, kalau dilempar setiap hari, guyonan itu perlahan menjelma menjadi luka yang menyakitkan.
Susah dapat kos di Jakarta cuma karena orang Madura
Membaca rentetan curhatan di media sosial itu langsung melempar ingatan saya pada salah satu kawan, namanya Hadi (28). Cerita kehidupannya adalah potret bagaimana stigma daerah bisa membuat perjuangan bertahan hidup di Jakarta terasa dua kali lipat lebih berat.
Hadi adalah pemuda asli Madura. Ia menghabiskan masa dewasanya di Jogja. Pada 2018, ia merantau untuk kuliah mengambil jurusan Teknik Informatika di salah satu kampus swasta.
Merasa tidak cocok, setahun kemudian ia pindah kampus dan banting setir mengambil jurusan Teknik Industri. Setelah lulus pada akhir 2023, Hadi sempat bekerja setahun di Jogja.
Baru pada awal 2024 lalu, ia memutuskan hijrah ke Jakarta setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan rintisan.
Dengan latar belakang sebagai sarjana teknik dan bekerja di industri digital modern, Hadi mengira ia akan terlepas dari stereotip usang soal orang Madura. Kenyataannya, ibu kota langsung menamparnya dengan sinis, bahkan sejak hari pertama ia mencari tempat tinggal.
“Jujur saja ya waktu itu jadi relate sama cerita kawan-kawan orang Timur yang dulu susah cari kos di Jogja,” ujar Hadi, Minggu (13/9/2026).
Saat itu, Hadi mencari kamar kos semi-eksklusif dengan fasilitas AC dan kamar mandi dalam yang jaraknya dekat dengan kantor. Namun, kelancaran tawar-menawar harga sering kali mandek begitu pemilik kos melihat KTP miliknya.
“Begitulah. Aku kerap ditolak, berkali-kali meski secara halus, cuma gara-gara tahu kalau aku berasal dari Madura,” kisahnya.
Usut punya usut, kawasan di sekitar kantornya memang memiliki rekam jejak yang kurang enak. Beberapa kali sempat terjadi keributan yang kebetulan melibatkan perantau asal Madura.
Trauma masa lalu warga setempat itu akhirnya dipukul rata, melahirkan cap bahwa semua orang Madura pasti temperamental, gampang tersinggung, dan berpotensi jadi preman.
Hadi, yang kesehariannya cuma menatap layar laptop pun terpaksa ikut menanggung “dosa” yang sama sekali tak pernah ia perbuat.
Candaan jahat di kantor yang bikin sakit hati
Berhasil mendapat kos bukan berarti ujian selesai. Di lingkungan kantor yang diisi anak-anak muda berpendidikan pun, bias daerah itu ternyata tetap hidup subur.
Misalnya, ada satu kebiasaan rekan kerjanya yang bagi Hadi sama sekali tidak lucu. Yakni mengaitkan orang Madura dengan tindak kriminal jalanan.
“Kesannya kami semua itu kayak preman, kriminal gitu,” katanya.
Dalam benak sebagian orang yang ditemuinya, Madura telanjur lekat dengan citra seperti maling besi tua, perampok, hingga penadah motor curian. Imbasnya, setiap kali ada berita viral di media sosial soal pencurian motor atau maling besi proyek, selalu ada saja rekan kerja yang melempar celetukan kepadanya.
“Kamu nggak ikutan, kan? Ini bukan keluargamu, kan?”
Pada awalnya, Hadi memilih ikut tertawa sekadar untuk membaur dan mencairkan suasana. Namun, lama-kelamaan ia merasa sangat risih dan tersinggung. Hatinya perih menyadari bahwa orang-orang Jakarta seolah cuma mau melihat sisi buruk desas-desus kriminal tentang Madura, tanpa pernah mau melihat sisi positifnya.
Beda 180 derajat dengan yang di Jogja
Rentetan perlakuan diskriminatif ini membuat Hadi sering membandingkan nasibnya dengan masa-masa ia menetap di Jogja.
Selama kurang lebih enam tahun berstatus sebagai mahasiswa hingga menjadi pekerja di sana, Hadi tidak pernah menjumpai perlakuan rasis sesepele ini. Warga dan lingkungan Jogja bisa menerima kehadirannya tanpa penghakiman.
Bahkan, di Jogja, orang Madura justru memiliki tempat yang sangat terhormat. Lewat eksistensi Warung Madura yang nekat buka 24 jam non-stop, perantau Madura selalu dianggap sebagai pahlawan penyelamat bagi mahasiswa.
“Di Jogja itu orang Madura malah diakui sebagai simbol pekerja keras yang ulet dan pantang menyerah lho,” jelas Hadi.
Realitas ini sering kali membuat Hadi terheran-heran sendiri. Di Jogja, ia dan kawan-kawan sedaerahnya dihargai setinggi-tingginya sebagai pekerja keras. Namun, begitu kakinya menginjak ibu kota, ia cuma dianggap sebatas kriminal jalanan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan