Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Agustus 2026
A A
Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Ilustrasi - Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika memperhatikan detail-detail kecil penjaga warung madura, ada beberapa kebiasaan mereka yang membuat pelanggan menaruh hormat. Toko kelontong “serba-ada” ini tidak hanya tentang keunikan buka 24 jam non-stop. Tetapi bagaimana penjaga yang bergelut di dalamnya memadukan antara kejujuran, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan sebuah laku spiritual. 

Bukan 24 jam saja sudah membuat respek. Apalagi, dalam banyak wawancara yang pernah Mojok lakukan dengan penjaga warung madura, buka 24 jam tersebut bukan semata didasari motif ekonomi. Tapi ada motif sosial di dalamnya: memudahkan urusan orang (yang tengah malam butuh bensin, sebat, atau kebutuhan lain). 

Iklan

Barangkali tidak semua penjaga warung madura memiliki kebiasaan-kebiasaan ini. Namun, pengalaman saya dan orang yang saya ajak berbincang, kami dibuat respek betul dengan kebiasaan warung madura langganan kami. 

Penjaga warung madura yang selalu memastikan saya tidak “keberatan” saat beli bensin

Beberapa waktu terakhir saya nyaris tidak pernah mengisi bensin di SPBU Pertamina. Melihat antrean yang selalu meluber—dalam beberapa waktu terakhir—membuat saya agak ogah. Saya akui, saya memang tidak terlalu telaten dalam urusan antre-mengantre. 

Jika bensin motor saya habis, warung madura menjadi pilihan. Biasanya sekalian membeli sebat atau kopi botol. Sering kali saya mengisi di pom mini warung madura langganan saya yang tidak jauh dari kos di bilanagan Plosokuning, Ngaglik, Sleman. 

Dari intensitas mengisi bensin di pom mini warung madura langganan tersebut, saya kemudian menyadari: si penjaga selalu memastikan kalau pembeli tidak keberatan. 

“Bensin, Cak.” 

“Tapi Pertamax, nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.” 

Percakapan itu terus berulang setiap kali saya mengisi bensin di sana. Terjadi pula di pembeli-pembeli lain. 

Warung madura langganan saya tersebut sebelumnya memang menjual Pertalite. Namun, karena belakangan stok-nya terbatas, akhirnya mau tidak mau beralih ke Pertamax. 

“Biar ini aja, Mas, kalau nggak saya bilangin, pembeli nanti merasa kami mencurangi. Karena takaran Pertamax kan nggak sama dengan Pertalite,” ujar si penjaga saat saya tanya, kenapa pertanyaan “Pertamax nggak apa-apa?” itu seolah menjadi SOP. Itu saja sudah cukup membuat saya respek. Belum kejujuran lain, sehingga membuat saya tidak ragu menjadikannya sebagai langganan. 

Penjaga warung madura manfaatkan waktu untuk update ilmu dan informasi terbaru

Cerita berbeda dibagikan oleh Dipta (28), pemuda asal Surabaya, Jawa Timur. Di jam-jam tengah malam, saat kehabisan sebat atau sekadar ingin memasak mie instan, ke mana lagi kalau tidak ke warung madura.

Dipta berlangganan warung madura  tidak jauh dari rumahnya di sebuah kampung di Surabaya Utara. Cukup jalan beberapa langkah, sampai. 

Lewat tengah malam saat datang ke warung tersebut, tidak jarang ia mendapati si penjaga tengah dalam kondisi terduduk tidur. Tapi di hadapannya layar ponsel masih menyala: memutar sebuah tayangan dengan suara agak kencang. 

“Nyimak pengajian, sampai tertidur. Kalau dari suara videonya sih, seringnya ngaji Gus Baha, Gus Kautsar, Gus Baha. Sering juga pengajian berbahasa Madura. Sesekali juga nonton berita-berita dari siaran tv,” ungkap Dipta. 

“Itu bikin aku respek karena walaupun si penjaga warung madura langgananku itu sudah bapak-bapak, tapi masih haus siraman ilmu dan update informasi,” sambungnya. 

Bahkan, kata Dipta, tidak jarang saat ia datang dan kebetulan si penjaga sedang menyimak pemberitaan, ia bisa melayani pembeli sambil nyeletuk soal informasi terkini. 

Iklan

“Wah Presiden ini bagaimana.”

“Di Jakarta sudah pada demo-demo, di Surabaya bakal ada demo nggak ya ini.” 

“Uang haji dikorupsi, otaknya di mana itu.” 

Ungkapan-ungkapan itu lazim Dipta dengar saat ia hendak membeli sesuatu dan bertepatan si penjaga masih terjaga, dengan kaos oblong dan nyaris selalu pakai sarung. 

Itu kalau Dipta membeli di jam-jam malam. Tapi kalau membeli di jam sore, ia akan mendapati penjaga ibu-ibu (istri penjaga bapak-bapak tadi) menggunakan waktu luangnya (saat belum terlalu ramai pembeli) untuk ngaji—mendaras Al-Qur’an. Saat ada pembeli datang, ia stop dulu, melayani, lalu lanjut lagi mengaji. Terutama di jam-jam menjelang magrib, saat corong-corong masjid di Surabaya juga memutar tilawah secara serentak. 

Hormat besar pada Maulid Nabi

Ekspansi bisnis warung Madura memang sudah ke mana-mana. Tidak terkecuali di Jombang, Jawa Timur. Dari pusat kota hingga Jombang pinggiran—terutama di kawasan pesantren. 

Menurut Sidiq (22), seorang santri di Jombang, ada satu momen yang membuat banyak warung madura di sekitar pesantrennya pasti tutup. Bukan di momen lebaran Idulfitri atau Iduladha, tapi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw (tiap bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah). 

“Aku pernah ngobrol dengan teman santri orang Madura, Maulid Nabi itu juga dihitung lebaran bagi orang Madura,” kata Sidiq. 

Lantas kenapa lebih memilih tutup untuk pulang kampung di bulan Maulid dibanding saat dua hari raya? 

“Kalau dua hari raya itu kan urusannya perayaan untuk diri sendiri setelah melewati ujian Ramadan. Tapi kalau Maulid, itu mereka lebih antusias karena bulan kelahiran Nabi Muhammad. Jadi urusannya bukan hanya ke diri sendiri, tapi kepada Nabi,” sambungnya.

Itu membuat Sidiq menaruh hormat besar kepada penjaga warung madura. Mereka memilih menutup warung demi pulang dan merayakan peringatan Maulid Nabi Saw. Karena bagi orang Madura, dari obrolan Sidiq dengan teman-teman santri Madura: Mencintai Rasulullah Saw memang menjadi pendidikan vital sejak kecil. Terbentuk karena kesadaran: berkat perjuangan dakwah Rasulullah lah mereka bisa memeluk Islam, menyembah Allah, dan mempelajari perihal jalan-jalan keselamatan (jalan yang diridai Allah Swt). 

Maulid Nabi memang selalu dirayakan dengan penuh suka cita di Madura. Begitu keterangan yang saya dapat dari sejumlah teman kuliah dulu yang berasal dari Madura. 

Semaraknya bisa berlangsung selama satu bulan penuh. Tidak hanya dari masjid ke masjid, tapi dari rumah ke rumah. Sampai-sampai Cak Nun pernah membuat anekdot yang kerap diulang-ulang tiap mengisi Sinau Bareng di Jawa Timur: “Orang Madura itu kaum pertama yang masuk surga. Lah bagaimana tidak, mereka saja secinta itu kok dengan Kanjeng Nabi.” 

Penulis:  Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2026 oleh

Tags: penjaga warung madurawarung 24 jamwarung madura
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

3 Juli 2026
Nguping obrolan penjaga toko kelontong/warung Madura hingga kuat teleponan berjam-jam MOJOK.CO

“Nguping” dan Mengulik Topik Obrolan Penjaga Warung Madura hingga Kuat Teleponan Berjam-jam, Tidak Ada Habisnya

11 Februari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
5 Amalan Baik Warung Madura ke Pembeli yang Membuat Penjualnya Layak Masuk Surga  Mojok.co

5 Amalan Baik Warung Madura ke Pembeli yang Membuat Penjualnya Layak Masuk Surga 

13 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.