Jika memperhatikan detail-detail kecil penjaga warung madura, ada beberapa kebiasaan mereka yang membuat pelanggan menaruh hormat. Toko kelontong “serba-ada” ini tidak hanya tentang keunikan buka 24 jam non-stop. Tetapi bagaimana penjaga yang bergelut di dalamnya memadukan antara kejujuran, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan sebuah laku spiritual.
Bukan 24 jam saja sudah membuat respek. Apalagi, dalam banyak wawancara yang pernah Mojok lakukan dengan penjaga warung madura, buka 24 jam tersebut bukan semata didasari motif ekonomi. Tapi ada motif sosial di dalamnya: memudahkan urusan orang (yang tengah malam butuh bensin, sebat, atau kebutuhan lain).
Barangkali tidak semua penjaga warung madura memiliki kebiasaan-kebiasaan ini. Namun, pengalaman saya dan orang yang saya ajak berbincang, kami dibuat respek betul dengan kebiasaan warung madura langganan kami.
Penjaga warung madura yang selalu memastikan saya tidak “keberatan” saat beli bensin
Beberapa waktu terakhir saya nyaris tidak pernah mengisi bensin di SPBU Pertamina. Melihat antrean yang selalu meluber—dalam beberapa waktu terakhir—membuat saya agak ogah. Saya akui, saya memang tidak terlalu telaten dalam urusan antre-mengantre.
Jika bensin motor saya habis, warung madura menjadi pilihan. Biasanya sekalian membeli sebat atau kopi botol. Sering kali saya mengisi di pom mini warung madura langganan saya yang tidak jauh dari kos di bilanagan Plosokuning, Ngaglik, Sleman.
Dari intensitas mengisi bensin di pom mini warung madura langganan tersebut, saya kemudian menyadari: si penjaga selalu memastikan kalau pembeli tidak keberatan.
“Bensin, Cak.”
“Tapi Pertamax, nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
Percakapan itu terus berulang setiap kali saya mengisi bensin di sana. Terjadi pula di pembeli-pembeli lain.
Warung madura langganan saya tersebut sebelumnya memang menjual Pertalite. Namun, karena belakangan stok-nya terbatas, akhirnya mau tidak mau beralih ke Pertamax.
“Biar ini aja, Mas, kalau nggak saya bilangin, pembeli nanti merasa kami mencurangi. Karena takaran Pertamax kan nggak sama dengan Pertalite,” ujar si penjaga saat saya tanya, kenapa pertanyaan “Pertamax nggak apa-apa?” itu seolah menjadi SOP. Itu saja sudah cukup membuat saya respek. Belum kejujuran lain, sehingga membuat saya tidak ragu menjadikannya sebagai langganan.
Penjaga warung madura manfaatkan waktu untuk update ilmu dan informasi terbaru
Cerita berbeda dibagikan oleh Dipta (28), pemuda asal Surabaya, Jawa Timur. Di jam-jam tengah malam, saat kehabisan sebat atau sekadar ingin memasak mie instan, ke mana lagi kalau tidak ke warung madura.
Dipta berlangganan warung madura tidak jauh dari rumahnya di sebuah kampung di Surabaya Utara. Cukup jalan beberapa langkah, sampai.
Lewat tengah malam saat datang ke warung tersebut, tidak jarang ia mendapati si penjaga tengah dalam kondisi terduduk tidur. Tapi di hadapannya layar ponsel masih menyala: memutar sebuah tayangan dengan suara agak kencang.
“Nyimak pengajian, sampai tertidur. Kalau dari suara videonya sih, seringnya ngaji Gus Baha, Gus Kautsar, Gus Baha. Sering juga pengajian berbahasa Madura. Sesekali juga nonton berita-berita dari siaran tv,” ungkap Dipta.
“Itu bikin aku respek karena walaupun si penjaga warung madura langgananku itu sudah bapak-bapak, tapi masih haus siraman ilmu dan update informasi,” sambungnya.
Bahkan, kata Dipta, tidak jarang saat ia datang dan kebetulan si penjaga sedang menyimak pemberitaan, ia bisa melayani pembeli sambil nyeletuk soal informasi terkini.
“Wah Presiden ini bagaimana.”
“Di Jakarta sudah pada demo-demo, di Surabaya bakal ada demo nggak ya ini.”
“Uang haji dikorupsi, otaknya di mana itu.”
Ungkapan-ungkapan itu lazim Dipta dengar saat ia hendak membeli sesuatu dan bertepatan si penjaga masih terjaga, dengan kaos oblong dan nyaris selalu pakai sarung.
Itu kalau Dipta membeli di jam-jam malam. Tapi kalau membeli di jam sore, ia akan mendapati penjaga ibu-ibu (istri penjaga bapak-bapak tadi) menggunakan waktu luangnya (saat belum terlalu ramai pembeli) untuk ngaji—mendaras Al-Qur’an. Saat ada pembeli datang, ia stop dulu, melayani, lalu lanjut lagi mengaji. Terutama di jam-jam menjelang magrib, saat corong-corong masjid di Surabaya juga memutar tilawah secara serentak.
Hormat besar pada Maulid Nabi
Ekspansi bisnis warung Madura memang sudah ke mana-mana. Tidak terkecuali di Jombang, Jawa Timur. Dari pusat kota hingga Jombang pinggiran—terutama di kawasan pesantren.
Menurut Sidiq (22), seorang santri di Jombang, ada satu momen yang membuat banyak warung madura di sekitar pesantrennya pasti tutup. Bukan di momen lebaran Idulfitri atau Iduladha, tapi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw (tiap bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah).
“Aku pernah ngobrol dengan teman santri orang Madura, Maulid Nabi itu juga dihitung lebaran bagi orang Madura,” kata Sidiq.
Lantas kenapa lebih memilih tutup untuk pulang kampung di bulan Maulid dibanding saat dua hari raya?
“Kalau dua hari raya itu kan urusannya perayaan untuk diri sendiri setelah melewati ujian Ramadan. Tapi kalau Maulid, itu mereka lebih antusias karena bulan kelahiran Nabi Muhammad. Jadi urusannya bukan hanya ke diri sendiri, tapi kepada Nabi,” sambungnya.
Itu membuat Sidiq menaruh hormat besar kepada penjaga warung madura. Mereka memilih menutup warung demi pulang dan merayakan peringatan Maulid Nabi Saw. Karena bagi orang Madura, dari obrolan Sidiq dengan teman-teman santri Madura: Mencintai Rasulullah Saw memang menjadi pendidikan vital sejak kecil. Terbentuk karena kesadaran: berkat perjuangan dakwah Rasulullah lah mereka bisa memeluk Islam, menyembah Allah, dan mempelajari perihal jalan-jalan keselamatan (jalan yang diridai Allah Swt).
Maulid Nabi memang selalu dirayakan dengan penuh suka cita di Madura. Begitu keterangan yang saya dapat dari sejumlah teman kuliah dulu yang berasal dari Madura.
Semaraknya bisa berlangsung selama satu bulan penuh. Tidak hanya dari masjid ke masjid, tapi dari rumah ke rumah. Sampai-sampai Cak Nun pernah membuat anekdot yang kerap diulang-ulang tiap mengisi Sinau Bareng di Jawa Timur: “Orang Madura itu kaum pertama yang masuk surga. Lah bagaimana tidak, mereka saja secinta itu kok dengan Kanjeng Nabi.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















