Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
3 Mei 2026
A A
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Ilustrasi - Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konon, anak pertama itu istimewa. Akan tapi, keistimewaan anak pertama juga disertai beban yang berlipat ganda dengan kehadiran anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Anak pertama perempuan bahkan diharuskan menjadi orang tua ketiga, bahkan mengambil alih tanggung jawab sepenuhnya.

Derita anak sulung yang dianggap selalu bisa diandalkan

Maria (22) mengalami perasaan ini. Ia merupakan anak pertama dalam keluarga. Status ini membuatnya harus menjadi anak yang dapat diandalkan, terlebih setelah kehadiran satu lagi anggota keluarganya.

Sebab, Maria bilang, ia dianggap sebagai anak yang lebih dulu hadir dan belajar. Perempuan ini diekspektasikan untuk lebih mengetahui dan memahami segalanya, sehingga dapat meneruskannya kepada sang adik.

“Kamu yang bisa mama andelin sekarang,” kata Maria meniru ucapan ibunya, ketika menyampaikan kepada Mojok, Minggu (3/5/2026).

Dalam istilah psikologi, hal semacam ini dikenal dengan istilah parentification. Artinya, menempatkan anak pertama sebagai orang dewasa dalam keluarga. 

Terapis pernikahan dan keluarga di California, Annie Wright, menjelaskan, fenomena ini menuntut anak untuk mencapai taraf pendewasaan yang tak seharusnya. Ia menekankan, orang tua seharusnya memegang peranan tanggung jawab penuh dalam keluarga, tanpa mengalihkan sebagian atau seluruh beban kepada anak sulung, seperti mengurus saudara lainnya.

“Parentification itu ketika anak diharapkan untuk memenuhi kebutuhan atau perkembangan yang nggak sesuai usianya,” kata dia, dikutip dari Business Insider.

Padahal, anak pertama perempuan masih perlu belajar dan merasa sendirian

Tuntutan ini memunculkan perasaan yang tidak seharusnya muncul pada usia anak, hanya karena statusnya sebagai anak pertama dalam keluarga. Maria bilang, ia juga merasa harus belajar banyak karena tuntutan ini.

Dalam situasi itu, Maria lebih banyak belajar sendiri.

Namun selanjutnya, Maria diminta untuk mengajari.

“Belajarnya juga mandiri. Banyak kali mandiri,” kata Maria.

Beban ini menjadi ekstra dengan tambahan statusnya bukan hanya sebagai anak pertama, tetapi anak perempuan pertama. Ekspektasi yang diterimanya meningkat drastis. Ia dibayangkan dapat lebih tahu dan memiliki jiwa keibuan.

Profesor Sosiologi di Inggris, Yang Hu, menjelaskan bahwa salah satu alasan tekanan ini menjadi lebih berat pada anak perempuan pertama adalah kondisi ibu sebagai perempuan pekerja. Alhasil, ibu tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, kemudian menyerahkan tanggung jawabnya kepada anak perempuan pertama karena ekspektasi gender.

Psikoterapis di salah satu organisasi di Inggris yang bernama NHS Foundation Trust, Paris Capleton, menjelaskan bahwa situasi ini akan menyulitkan anak perempuan pertama untuk meminta pertolongan, bahkan ketika membutuhkan. Inilah salah satunya yang disebut sebagai eldest daughter syndrome. 

Iklan

Mereka merasa sendirian sebab mengira bahwa tidak ada yang dapat menolongnya. Padahal, kata dia, mereka hanya terbiasa tumbuh tanpa meminta tolong.

Khas anak pertama, mereka terbiasa melakukan segalanya sendiri.

“Orang mungkin memandang kamu dan berpikir kamu bijaksana atau sangat mandiri untuk usiamu, tanpa sadar kalau itu karena kamu dipaksa atau kehilangan masa kecilmu,” jelasnya, dikutip dari Business Insider. 

Dibebankan keharusan mampu meringankan tanggung jawab orang tua dalam keluarga

Salah satu dampak dari tekanan terhadap anak pertama adalah perasaan tanggung jawab yang berlebihan, bahkan sedari usia muda. Capleton menerangkan, tanggung jawab ini berkaitan dengan urusan rumah tangga.

Misal, keharusan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mengantar saudara kandung ke sekolah, memasak, hingga membersihkan rumah. Contoh lain, menyangkut emosional, seperti merawat orang tua dan saudara kandung, menjadi tempat bercerta di rumah, hingga menengahi konflik keluarga.

Apabila tidak dilakukan, bukan tidak mungkin perasaan bersalah akan muncul mengingat tanggung jawab sebagai anak sulung.

“Hal ini bisa menyebabkan perasaan sangat bersalah ketika kamu gagal memenuhi kebutuhan semua orang atau bertindak melawan apa yang diharapkan,” kata dia.

Menurut Maria, tuntutan semacam itu ada benarnya. Ia diharapkan dapat mengasuh sang adik, termasuk mengajarkan hal-hal yang tidak diberitahukan orang tuanya kepadanya.

“Nanti kalau adiknya sudah melalui fase yang sama, kita disuruh ngajarin. Padahal, dulu nggak ada yang ngajarin,” kata Maria.

Namun demikian, ia mengatakan berusaha menerima. Ia etap menyayangi keluarganya. Maria mencoba menempatkan, setidaknya, untuk memahami bahwa dirinya dan kedua orang tuanya hanya sama-sama sedang belajar dalam kehidupan pertama mereka.

“Tapi, despite everything, nggak pernah iri sama adik atau benci sama orang tua. Rasanya ngerti aja karena ya sama-sama belajar dalam hidup,” tutup dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: anak perempuananak perempuan pertamaanak sulungbeban anak pertamaeldest daughter syndromeparentificationpsikologi anak
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua
Ragam

Slip Gaji di Bawah UMR Jogja Jadi Bahan Lomba Melamun: Beratnya Anak Pertama Bayar KUR BRI Orang Tua

24 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”, Definisi Rindu Itu Bersifat Universal.MOJOK.CO

YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal

28 April 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.