Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Gagal Jadi Dokter Gigi usai Lulus dari Kampus Swasta di Surabaya, Kini Sukses Budidaya Ternak di Kota Batu

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 Juni 2025
A A
Pindah ke Kota Batu usai kuliah kedokteran gigi di Surabaya untuk jadi peternak. MOJOK.CO

ilustrasi - jadi peternak di Kota Batu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Novandya Tjokrosoeharto (30) memutuskan tak melanjutkan koas atau program profesi dokter gigi setelah kuliah di salah satu kampus swasta di Surabaya. Perempuan asal Malang itu memilih bekerja sebagai peternak maggot di Kota Batu. Selain menghasilkan cuan, ia juga ingin membangkitkan gerakan peduli lingkungan dan sosial di daerahnya.

***

Sudah menjadi rahasia umum jika Kota Batu punya permasalahan sampah tiap tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur mencatat produksi sampah Kota Batu telah meningkat pesat terutama dengan berkembangnya sektor pariwisata. 

Tahun 2009, Kota Batu dapat menghasilkan 84 ton per hari lalu meningkat menjadi 120-130 ton per hari di tahun 2023. Belum lagi saat akhir pekan atau libur panjang, angkanya bisa mencapai 158 ton per hari. 

Tempat pembuangan akhir (TPA) Tlekung yang menjadi salah satu pusat pembuangan di Kota Batu, muatannya makin tak terbendung seiring dengan bertambahnya produksi sampah dari sektor pariwisata dan rumah tangga. 

Pada Agustus 2023, TPA tersebut justru ditutup oleh pemerintah setempat. Alhasil, warga lebih memilih membersihkan lahan dan membakar sampah mereka. Kondisi itu memunculkan ide bagi Novandya untuk memelihara maggot ketimbang membakar sampah.

Maggot adalah larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) dikenal sebagai dekomposer. Ia mampu mengurai sampah organik dengan memakan organisme mati dan produk-produk limbah dari organisme lain.

Selain itu, maggot juga baik digunakan untuk pakan ternak seperti ikan dan unggas karena mengandung sumber protein tinggi. Maggot yang mati dapat digunakan sebagai pupuk organik. 

Melihat potensi tersebut, Novandya jadi tergiur untuk membudidayakan maggot sebagai bisnis maupun gerakan sosial. Keputusan itu pun tak mudah dibuat, mengingat ia kuliah di kampus swasta Surabaya Jurusan Kedokteran Gigi dan tak tahu-menahu soal beternak. Semua itu ia lakoni dari nol dengan tekad dan motto hidup yang selama ini ia pegang. 

Mulai pelihara maggot di Kota Batu karena lucu

Sebetulnya, menjadi dokter gigi bukanlah keinginan Novandya sejak awal. Tapi orang tuanya keukeuh menginginkan Novandya kuliah di Jurusan Kedokteran Gigi walau harus berada di luar kota seperti Surabaya. Bahkan di kampus swasta yang jauh dari Kota Batu. Karena terlanjur diterima, Novandya akhirnya menjalani masa kuliahnya selama empat tahun.

“Setelah itu, aku nggak mau lanjut koas. Aku akhirnya bilang, ‘tanggungjawabku kan wes tak selesaino to, tapi kan sekarang ini hidupku, keinginanku. Harus tak penuhi’,” ucapnya saat dihubungi Mojok, Rabu (25/6/2025).

Setelah itu, Novandya pindah dari Surabaya ke Kota Batu. Ia nekat membangun bisnisnya sendiri. Mulai dari berjualan online sampai akhirnya direkrut sebagai tim marketing di salah satu perusahaan makanan di Malang. Tak hanya itu, ia juga bertugas memegang media sosial di salah satu agensi.

Tugas itu ia jalani selama empat tahun, sampai akhirnya ia merasa bosan apalagi semasa Covid-19. Di sela-sela gabutnya itu, Novandya tak sengaja menemukan konten di media sosial berisi orang yang memelihara maggot. Entah kenapa, ia merasa hewan berupa ulat itu tampak lucu.

“Sejak kecil aku suka lingkungan dan suka hewan, termasuk maggot,” ucap perempuan asal Malang tersebut.

Iklan

Mendatangi langsung para peternak di Kota Batu

Di sela-selanya mencari referensi cara memelihara maggot, Novandya justru menemukan ide untuk mengembangkan hobinya menjadi uang. Ia mulai menyumbangkan maggotnya ke gereja-gereja dan peternak unggas di Kota Batu.

Untungnya, jemaat gereja menyambut ramah ide tersebut sebagai gerakan mengurangi sampah. Petugas gereja bahkan bersedia menyediakan sisa lahannya untuk tempat budidaya maggot. Sementara itu, dari peternak, ia jadi tahu kenapa banyak dari mereka yang tak mau menggunakan maggot untuk bahan pakan. 

“Jadi pas aku datangi ke peternak-peternak itu, mereka malah mengeluh kalau maggot bikin ikan atau unggas mereka mati,” kata Novandya.

Novandya yang merasa aneh dengan alasan tersebut akhirnya melakukan riset kecil-kecilan. Ia pun jadi sadar kalau peternak di Batu hanya belum tahu cara merawat dan mengelola maggot sebagai pakan. 

Banyak dari mereka yang menggunakan maggot berkulit keras untuk pakan. Alhasil, hewan-hewan ternak yang mereka pelihara jadi mati karena sulit mencerna. Novandya akhirnya menawarkan maggotnya secara gratis kepada peternak sebagai uji coba.

Dari sana ia mulai dipercaya bahkan menjadi pembicara di desanya, Kota Batu untuk mengedukasi soal budidaya maggot. Tak sampai di situ, ia juga mendatangi kampus-kampus di sekitar Kota Batu dan Malang untuk sekadar menimba ilmu. Utamanya ke dosen-dosen Peternakan.

Maggot sebagai gerakan sosial dan upaya mengurangi sampah

Lambat laun, ia jadi dikenal dan sering diundang sebagai pembicara di kampus. Tak jarang, para dosen juga menitipkan mahasiswanya untuk magang, melakukan penelitian skripsi, lomba pekan ilmiah, bahkan mahasiswa PKL.

“Aku berharap mahasiswa ini bisa menurunkan ilmunya dari aku ke warga setempat soal budidaya maggot ini,” kata Novandya. 

Kini, bisnis maggot Novandya pun semakin pesat. Ia bahkan mengembangkan ternak bebek di Kota Batu. Jika ditotal, ada enam pegawai yang membantunya. Meski omsetnya tak terlalu besar, tapi ia masih bisa mencukupi upah karyawannya.

“Saya berkali-kali merugi, tapi yang namanya rezeki selalu ada. Karena tujuan saya nggak hanya berorientasi melulu soal uang tapi kebermanfaatan saya untuk sekitar,” ujar Novandya. 

“Salah satu motto hidupku adalah meninggalkan legasi baik untuk sekitarku dan masih bermanfaat di masa depan. Jadi semisal aku mati nih, aku terkenalnya bakal seperti apa? Aku ingin memberikan kontribusi terbaikku selama hidup.” tuturnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Meninggalkan Surabaya yang Sumpek, Pilih Hidup Jadi Petani Stroberi di Kabupaten Malang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

 

Terakhir diperbarui pada 1 Juli 2025 oleh

Tags: budidaya maggotdarurat sampahkampus swasta di surabayakedokteran gigikota batupeternakSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO
Urban

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.