Guna mengantisipasi ancaman krisis pangan di masa depan, Dewi Apriani (30) sudah mempersiapkan diri. Salah satunya resign dari pekerja kantoran di bidang IT. Kini, lulusan S2 Universitas Gunadarma tersebut menyibukkan diri jadi peternak ayam di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Pada tahun 2016, saat Dewi masih berkecimpung di bidang IT, ia sempat berdiskusi dengan atasannya mengenai masa depan teknologi dan energi listrik di tengah besarnya gelombang PHK yang tidak bisa diprediksi. Kemudian Dewi berpikir, pekerjaan apa yang sekiranya tidak bisa digantikan oleh robot maupun AI tapi tetap dibutuhkan manusia.
Akhirnya, Dewi memutuskan untuk membentuk pangan mandiri.
“Maka yang harus dilakukan adalah belajar berkebun, belajar beternak, pelajari sumber obat-obatan alami yang bisa tumbuh secara liar, serta amankan uang tunai dan pilih emas fisik,” ujar lulusan S2 itu saat dikonfirmasi Mojok, Senin (2/3/2026).
Pentingnya ketahanan pangan di masa kini
Dewi menjelaskan Indonesia adalah ancaman karena punya tanah yang subur, punya hutan sebagai paru-paru dunia sekaligus membantu keseimbangan iklim global. Tapi nyatanya, kata dia, Indonesia kini mengalami krisis iklim. Kesempatan inilah yang ditunggu oleh negara-negara maju untuk menyerang Indonesia di tengah krisis pendidikan, pemikiran, dan kelaparan.
“Sayangnya, respons dari kebanyakan kita dalam melihat isu perang dunia 3 ini adalah menyepelekan,” ucap lulusan S2 Sistem Informasi Universitas Gunadarma tersebut.
Diskusi Dewi bersama atasan kerjanya pun semakin dalam, hingga Dewi menyadari bahwa sektor pangan akan selalu menjadi kebutuhan dasar manusia yang tak tergantikan oleh mesin.
“Pada akhirnya saat krisis nanti, orang-orang akan saling berebut pangan dan akan lebih memilih menyimpan pangannya sendiri,” ujar Dewi.
Oleh karena itu, lanjutnya, manusia perlu belajar berkebun, beternak, hingga mempelajari sumber obat-obatan alami yang bisa tumbuh secara liar agar bisa bertahan hidup.
Baca Halaman Selanjutnya














